Mengenal Career Minimalism yang Digemari Gen Z untuk Kehidupan Lebih Bahagia dan Berkualitas


aiotrade, JAKARTA - Banyak orang hingga saat ini masih percaya bahwa kesuksesan karier hanya bisa dicapai dengan naik tangga karier, mempertahankan posisi di kantor, dan terus mencari gaji yang lebih besar.

Orang-orang yang bekerja saat ini, termasuk generasi milenial, biasanya harus kuliah, masuk ke dunia korporat, dan menghadapi "era budaya kerja keras", di mana sebagai karyawan harus siap bekerja 24/7 dan mengabdi pada perusahaan.

Namun, ketika Gen Z mulai masuk ke dunia kerja, mereka mulai bertanya-tanya: Apa yang sedang diperjuangkan? Apakah kerja kerasnya sepadan? Mereka menyadari bahwa hidup tidak hanya tentang bekerja.

Bekerja berjam-jam, profesionalisme yang performatif, dan mencapai puncak karier tidak lagi menarik seperti dulu. Sebaliknya, Gen Z kini lebih cenderung melepaskan diri dari tekanan untuk terus bersaing dalam pencapaian karier dan mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan melalui konsep "career minimalism" atau "minimalisme karier".

Apa Itu Minimalisme Karier?

Minimalisme karier adalah fenomena yang sedang berkembang di kalangan profesional Gen Z. Konsep ini ditandai dengan pekerjaan tetap yang menawarkan batasan sehat dan rasa stabilitas, alih-alih kesibukan tanpa henti.

Mereka yang menerapkan minimalisme karier tidak memusatkan identitas mereka pada pekerjaan. Artinya, mereka mengejar hasrat, hobi, dan minat lain di luar pekerjaan tetap mereka untuk menciptakan identitas yang lebih utuh.

Pada dasarnya, karier mereka hanyalah bagian kecil dari kehidupan dan jati diri mereka. Dengan begitu, mereka memiliki lebih banyak waktu dan ruang untuk mengejar hal-hal lain yang penting bagi mereka.

Mengapa Gen Z Memilih Minimalisme Karier?

Sekilas, minimalisme karier mungkin tampak seperti penolakan terhadap ambisi. Namun, ada beberapa faktor yang membuat Gen Z memilih pendekatan ini. Salah satunya adalah meningkatnya ketidakstabilan pasar kerja.

Dulu, masa kerja jangka panjang dan stabil sering terjadi, di mana karyawan tetap bekerja di satu perusahaan sepanjang karier mereka. Namun, situasi ini sudah berubah.

Menurut riset Glassdoor, 70% responden Gen Z mengatakan bahwa AI di tempat kerja telah membuat mereka meragukan keamanan pekerjaan mereka. Hal ini meningkatkan rasa cemas dan ketidakpastian.

Belum lagi, Gen Z memulai karier mereka di tengah disrupsi yang signifikan. Persaingan semakin ketat, dan tantangan untuk mendapatkan pekerjaan semakin besar. Oleh karena itu, mengejar "pekerjaan impian" dan berharap pekerjaan itu akan bertahan selamanya terasa sangat tidak realistis.

Terbuka pada Pekerjaan Sampingan

Karena ketidakstabilan dan ketidakpastian pasar kerja, banyak Gen Z mulai mengejar berbagai sumber pendapatan, seringkali dalam bentuk pekerjaan sampingan. Ini didorong oleh kombinasi antara keinginan dan kebutuhan.

Selain itu, Gen Z juga membuka peluang baru untuk kesuksesan profesional dan finansial di luar jenjang karier tradisional. Minimalisme karier membantu mereka menetapkan batasan antara pekerjaan tetap dan waktu luang, sehingga mereka memiliki lebih banyak ruang untuk mengejar sumber pendapatan tambahan jika diinginkan.

Bawa Nilai Berbeda

Konsep minimalisme karier juga membawa nilai-nilai yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan sosial, politik, dan teknologi yang berbeda. Gen Z lahir dan dibesarkan dalam masyarakat digital yang dipenuhi gangguan ekonomi dan kesehatan.

Mereka masuk ke dunia kerja dengan prioritas yang berbeda, seperti menghargai kejujuran, menyelaraskan dengan nilai-nilai perusahaan, dan memprioritaskan kesehatan mental.

Stabilitas, loyalitas, dan mobilitas ke atas pernah menjadi keunggulan generasi sebelumnya. Namun, Gen Z lebih memprioritaskan kesehatan mental, keseimbangan kehidupan kerja, dan fleksibilitas. Mereka bersedia mencari organisasi dan peluang yang mendukung nilai-nilai ini.

Kesimpulan

Mempraktikkan minimalisme karier dan melepaskan identitas dari pekerjaan memungkinkan Gen Z untuk bergerak lebih bebas. Mereka bisa mengejar lingkungan kerja yang sesuai dengan keinginan mereka, bukan hanya terikat pada jabatan atau merek tertentu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan