Mengenal Diet Carnivore: Efektif dan Aman untuk Turunkan Berat Badan?


nurulamin.pro,
JAKARTA - Diet karnivora atau carnivore diet sedang menjadi tren di kalangan masyarakat, terutama di kalangan para influencer. Banyak orang mulai mencoba pola makan ini dengan harapan bisa menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Namun, apakah diet ini benar-benar aman, sehat, dan efektif?

Ketenaran diet karnivora mungkin dimulai dari Isabella Ma, seorang konten kreator yang pernah menjalani vegan lalu beralih ke diet karnivora. Ia dikenal oleh hampir setengah juta pengikutnya di Instagram sebagai @steakandbuttergal. Ia mengklaim memiliki kulit yang bercahaya dan perut yang rata. Dalam video-video yang ia unggah, ia tampak memakan mentega utuh sambil menatap langsung ke kamera. Menurutnya, ini adalah bagian dari "diet karnivora tinggi lemak" yang diklaim memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti tidak lagi mengalami kembung dan buang air besar yang lancar tanpa bau.

Namun, apa pendapat para ahli tentang tren kesehatan yang sedang viral ini?

Apa Itu Carnivore Diet?

Carnivore diet atau diet karnivora adalah pola makan yang sepenuhnya atau sebagian besar terdiri dari daging, seringkali termasuk produk berbasis hewan seperti telur dan susu, tetapi sangat sedikit atau bahkan tidak ada tumbuhan atau karbohidrat. Beberapa orang mengikuti diet ini hanya dengan mengonsumsi produk hewani, sementara yang lain mungkin menambahkan beberapa buah atau sayuran dalam menu mereka.

Dilansir The Guardian, Dr. Eden Barrett, seorang peneliti nutrisi kesehatan masyarakat dan ahli diet di George Institute for Global Health, menyatakan bahwa pola makan ini bisa membawa risiko. Salah satu risikonya adalah kekurangan vitamin dan mineral penting seperti vitamin C dan folat. Selain itu, konsumsi serat yang sangat rendah bisa memengaruhi kesehatan pencernaan, karena serat berperan penting dalam melindungi tubuh dari penyakit jantung, kanker tertentu, dan berbagai penyakit kronis.

Selain itu, diet ini juga bisa membuat seseorang kehilangan senyawa bioaktif seperti antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan jangka panjang. Meskipun bukan nutrisi esensial, antioksidan bisa membantu memperpanjang usia hidup.

Risiko lainnya adalah konsumsi daging yang berlebihan. Daging hewani biasanya mengandung lemak jenuh tinggi, yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan berisiko terhadap penyakit jantung. Daging merah dan daging olahan juga dikaitkan dengan risiko kanker. Selain itu, konsumsi protein berlebihan bisa berdampak negatif pada fungsi ginjal.

Saat ini, belum ada banyak bukti ilmiah yang mendukung efek jangka panjang dari diet karnivora. Berbeda dengan diet seimbang yang mencakup buah-buahan, sayuran, daging, produk susu, kacang-kacangan, dan polong-polongan, yang didasarkan pada bukti yang telah terkumpul selama bertahun-tahun.

Bahaya Tersembunyi di Balik Keberhasilan Diet Karnivora

Dr. Emma Beckett, seorang dosen senior di bidang nutrisi di University of New South Wales, menyatakan bahwa beberapa manfaat yang diklaim oleh para influencer sebenarnya bisa menjadi tanda bahaya. Dia sangat keberatan dengan klaim Isabella Ma bahwa dia tidak pernah kembung dan kentut, serta hanya buang air besar sekali seminggu tanpa bau.

“Ini adalah klaim yang paling aneh, karena kita perlu kentut dan kita perlu buang air besar. Jika Anda tidak kentut, maka ada sesuatu yang tidak beres di saluran pencernaan Anda,” ujarnya.

Profesor Emma Halmos, seorang ahli diet penelitian di Monash University, menjelaskan bahwa banyak pasien yang menjalani diet karnivora dan variasi serupa (seperti keto dan paleo) mengalami gejala gastrointestinal akibat kurangnya serat. “Banyak klien menjalani diet karnivora karena percaya itu sehat dan akan membantu menurunkan berat badan. Karena diet karnivora adalah diet tanpa karbohidrat, orang bisa menurunkan berat badan, tetapi itu tidak berarti diet ini sehat,” katanya.

Halmos menjelaskan bahwa tubuh hanya bisa menyerap sekitar 30 gram protein dalam satu kali makan. Sisa protein yang tidak diserap akan dikeluarkan oleh tubuh. Jika jumlahnya sangat besar, hal ini bisa memiliki efek negatif, terutama pada usus besar, yang mengalami proses pembusukan.

“Artinya, bakteri baik bisa terganggu dan pH usus berubah sehingga bakteri jahat bisa tumbuh,” kata Halmos. Teori ini menyatakan bahwa terlalu banyak protein yang dikeluarkan bisa menyebabkan penyakit usus, meski belum ada bukti kuat yang mendukung gagasan ini.

Menurut Cleveland Clinic, para ahli menegaskan bahwa diet karnivora tidak disarankan. Mereka menyarankan untuk makan dengan cara yang memaksimalkan manfaat dari berbagai kelompok makanan. Fokuslah pada makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan daging tanpa lemak.

Mungkin ada beberapa manfaat dalam membatasi karbohidrat, terutama karbohidrat sederhana yang tinggi gula tambahan seperti roti putih dan kue-kue. Namun, tidak ideal bagi tubuh untuk menghilangkan asupan karbohidrat sepenuhnya.

“Kuncinya adalah moderasi. Ini benar-benar tentang menemukan keseimbangan yang tepat untuk Anda,” imbuh Halmos.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan