
Pengalaman di Pasar Cihapit Bandung
Di suatu sore setelah perayaan Natal, saya berada di Pasar Cihapit Bandung. Saya memesan secangkir kopi tubruk di kedai Los Tjihapit milik Om Bayu. Kedai tersebut penuh sesak dengan pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan. Saya mencari tempat duduk yang kosong dan memperhatikan kerumunan orang yang berkumpul.
Saya mengamati bahwa Kota Bandung sedang mengalami peningkatan ekonomi yang signifikan. Wisatawan dari luar kota mulai membanjiri pasar ini, terutama saat liburan akhir tahun. Seperti biasanya, kedai kopi ini sering dikunjungi oleh para bapak-bapak warga Bandung. Namun, hari itu mereka terganggu karena banyaknya pengunjung dari luar kota.
Ketika kami sedang berbincang, tiba-tiba terjadi keributan dari antrian di depan kios jajanan viral. Ada pelanggan yang merasa tidak puas karena antriannya diserobot. Kami hanya menonton sambil tertawa kecil. Ketegangan segera hilang begitu saja.
Dari pengamatan saya, antrian panjang di kios jajanan viral tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh konten kreator dan afiliator dalam promosi produk. Dari percakapan dengan bapak-bapak, saya memahami bahwa popularitas kios tersebut adalah hasil dari strategi pemasaran yang efektif.
Saya bertanya apakah model bisnis seperti ini bisa bertahan lama? Bapak di sebelah menjawab bahwa hal itu mungkin, asalkan kualitas produk dan pelayanan terus ditingkatkan. Momentum viral dan evaluasi kinerja juga menjadi kunci keberhasilan. Saya setuju dengan jawaban tersebut.
Perkembangan Ekonomi Digital Indonesia
Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat pesat, terutama selama masa pandemi. Adaptasi teknologi terhadap situasi tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara. Potensi ekonomi digital se-Asia Pasifik mencapai 387 miliar USD, dan Indonesia mampu mengelola sekitar 100 miliar USD dari potensi tersebut.
Setelah pandemi, peran konten kreator dan afiliator semakin kuat. Mereka bukan hanya sebagai penarik traffic, tetapi juga menjadi motor utama ekonomi digital. Fitur keranjang kuning di TikTok merupakan salah satu contoh nyata dari peran mereka.
Selain itu, konten kreator dan afiliator juga mulai mengontrol harga produk yang dijual. Mereka mengambil potongan hingga 35%, yang memaksa produsen meningkatkan harga produksi hingga tujuh kali lipat. Hal ini menyebabkan beberapa produsen di lini bawah dan menengah merasa jengah dengan model bisnis ini.
Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani, telah mengusulkan pajak bagi konten kreator dan afiliator. Usulan tersebut telah disahkan dan akan diterapkan pada Juli 2026. Dengan demikian, konten kreator dan afiliator resmi diakui sebagai profesi yang dikenai pajak. Artinya, mereka akan memiliki tanggung jawab fiskal dan hukum yang lebih besar.
Dampak Regulasi Pajak
Regulasi pajak ini akan berdampak langsung pada model bisnis yang ada. Konten kreator dan afiliator kemungkinan akan membebankan pajak tersebut kepada produsen. Dengan kata lain, persentase 35% akan dinaikkan secara drastis. Ini bisa menyebabkan lonjakan harga atau penurunan profit.
Beberapa produsen sudah enggan bekerja sama, terutama yang berada di lini bawah dan menengah. Akibatnya, model bisnis ini akan semakin sulit bertahan. Konsumen akan menghadapi harga yang tinggi, dan pada akhirnya, model bisnis ini akan punah.
Dari awal tahun hingga Juli 2026, ada enam bulan untuk mencari model bisnis alternatif. Model baru ini akan ditentukan oleh hukum pasar. Prinsip dasar ekonomi akan berlaku, seperti konsumen memilih barang yang paling ekonomis, dan pasar sebagai konsensus bersama.
Tahun Baru 2026
Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Pasar Cihapit siang itu semakin ramai dengan wisatawan. Antrian di kios viral semakin panjang. Kopi tubruk di gelas habis, dan saya memesan segelas jahe panas agar tidak masuk angin menghadapi angin kencang tahun depan.
Saya mengucapkan selamat tahun baru 2026. Semoga ekonomi digital Indonesia bisa terus berkembang, namun tetap berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar