Periode Akhir Tahun Membawa Peluang dan Risiko di Pasar Modal
Pasar modal sering kali memasuki periode yang membawa sentimen positif, khususnya menjelang akhir tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendekati akhir tahun dengan dua fenomena musiman, yaitu window dressing dan Santa Claus Rally. Fenomena ini sering kali menggerakkan pergerakan pasar dan memberikan peluang bagi investor.
Window Dressing dan Santa Claus Rally
Window dressing biasanya terjadi pada pekan terakhir Desember. Fenomena ini terjadi ketika manajer investasi menata ulang portofolio mereka jelang tutup buku. Hal ini bisa menyebabkan kenaikan harga saham tertentu karena para manajer investasi cenderung memilih saham-saham yang memiliki performa baik.
Santa Claus Rally umumnya berlangsung sejak pekan ketiga Desember hingga pekan pertama Januari. Kenaikan harga saham biasanya dipicu oleh perilaku kolektif investor dan sentimen menjelang pergantian tahun. Menurut pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar IPMI Institute, Roy Sembel, periode Desember hingga Januari konsisten memberi imbal hasil tinggi bagi IHSG. Ia menyebut bahwa ada efek "return of end year" yang sering terjadi setiap akhir tahun.
Catatan Roy menunjukkan bahwa tren ini bertahan sejak 1984 hingga 2024. Selain itu, periode ini juga dianggap sebagai kesempatan bagi perusahaan yang ingin melakukan IPO. "Bisa jadi window opportunity bagi IPO-IPO dan go public," ujar Roy.
Namun, ia mengingatkan investor tetap menilai fundamental perusahaan, termasuk proyeksi bisnis dan sumber pendapatan. "Again, in summary, back to basic," katanya.
Investor Diminta Tidak FOMO
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai momentum akhir tahun layak diperhatikan. Peluang kenaikan cukup besar jika melihat pola historis. Meski begitu, Reydi mengingatkan risiko FOMO (Fear Of Missing Out) yang kerap muncul saat reli berlangsung.
“Investor dapat memanfaatkan dua momentum tersebut, terlebih secara historikal momentum tersebut probabilitasnya cukup tinggi untuk terjadi, yang terpenting investor jangan FOMO dan tetap fokus terhadap fundamental perusahaan,” kata Reydi.
Ia menyarankan pemilihan saham berdasarkan laporan keuangan yang menunjukkan peningkatan kinerja, bukan saham yang bergerak karena isu. Window dressing dan Santa Claus Rally juga membawa risiko aksi ambil untung. Karena itu, investor perlu menjaga disiplin terhadap rencana transaksi agar tidak terjebak membeli di harga pucuk.
“Kenapa jangan FOMO? karena window dressing atau Santa Claus Rally juga diikuti oleh risiko momentum profit taking, posisi investor jangka pendek akan cenderung berada di pucuk,” ucap Reydi.
Minat IPO Tetap Tinggi
Antusiasme perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap tinggi menjelang akhir tahun. Kenaikan IHSG dalam beberapa pekan terakhir membuat momentum IPO semakin menarik. Praktisi pasar modal sekaligus Guru Besar FEB UI, Budi Frensidy, menilai pasar modal tidak kekurangan jumlah emiten, melainkan perusahaan dengan fundamental kuat.
"Yang fundamentalnya dan kualitasnya bagus, atau yang big cap, yang menambah market cap bursa secara signifikan," kata dia. Ia menilai perusahaan kecil masih kesulitan masuk bursa, namun tren bullish memberi dorongan bagi calon emiten untuk memanfaatkan timing yang tepat.
"Akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk melakukan IPO pada saat indeksnya sedang bullish seperti ini," ujarnya.
IPO Dinilai Menarik Dana Baru
Wakil Ketua Umum PAEI, Aria Samata Santoso, menilai kehadiran emiten baru biasanya menarik investor dari lingkaran internal perusahaan tersebut. "Dengan adanya emiten-emiten baru itu biasanya circle atau lingkungan dari emiten itu sendiri entah dari manajemen, keluarga, atau masyarakat yang mengenal emiten itu akan turut tertarik masuk ke bursa," kata Aria.
Menurutnya, investor jangka panjang akan menambah kapitalisasi pasar. Namun investor jangka pendek tetap muncul untuk memanfaatkan momentum harga awal. "Paling seminggu dua minggu mereka juga sudah lepas untuk profit taking," ujar dia.
Emiten Baru Perlu Ekspansi Bisnis
Analis pasar modal dan Direktur PT Purwanto Aset Management, Edwin Sebayang, menekankan pentingnya emiten memperkuat bisnis setelah melantai. "Setiap tahun harus ada tambahan emiten baru, karena itu artinya memperbesar market cap dari bursa Indonesia," katanya.
Edwin menyebut sektor kelapa sawit berpotensi menguat pada 2026 dengan kebijakan bahan bakar B50. "Sektor CPO yang saya kira masih kurang," ujar dia.
13 Calon Emiten dalam Pipeline
BEI mencatat 13 perusahaan dalam pipeline IPO pada 28 November 2025. Komposisi terdiri dari dua perusahaan aset kecil, empat aset menengah, dan tujuh aset besar. Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menjelaskan tujuh perusahaan menggunakan laporan keuangan per Juni 2025. "Kami berharap perusahaan-perusahaan tersebut dapat melaksanakan pencatatan sahamnya pada sisa tahun 2025," katanya.
Hingga 7 November 2025, sudah ada 24 perusahaan melakukan IPO dengan total dana Rp 15,21 triliun.
Dua Emiten Siap Melantai Desember
PT Super Bank Indonesia atau Superbank menargetkan penghimpunan dana hingga Rp 3,06 triliun. Penawaran awal berlangsung 25 November hingga 1 Desember 2025. Pencatatan saham direncanakan pada 17 Desember 2025. Superbank menawarkan 4,4 miliar saham atau 13 persen modal setelah IPO dengan harga Rp 525-Rp 695 per saham.
Perusahaan kedua adalah PT Abadi Lestari Indonesia, eksportir sarang burung walet, dengan kode RLCO. Penawaran mencapai 6,25 juta saham atau 20 persen modal. Harga berada di rentang Rp 150-Rp 168 per saham, dengan potensi dana Rp 105 miliar. Dana akan digunakan untuk modal kerja dan penyertaan modal ke anak usaha PT Realfood Winta Asia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar