Mengukur Peluang Dana Asing Masuk Pasar Obligasi RI Akhir Tahun

Tren Pasar SBN di Akhir Tahun 2025

Hingga November 2025, pasar Surat Utang Negara (SBN) di Indonesia masih menghadapi aksi jual bersih dari investor asing. Hal ini turut memengaruhi yield SBN yang kembali melemah ke level 6,31%. Meski demikian, kalangan analis menilai bahwa peluang masuknya dana asing ke pasar obligasi Tanah Air masih terbuka hingga akhir tahun ini.

Investor Asing Kembali Melakukan Net Sell

Pasar obligasi Indonesia terus ditinggalkan oleh investor asing sepanjang November 2025, menjadikannya yang ketiga kalinya secara berurutan. Berdasarkan data DJPPR, investor nonresiden mencatatkan aksi jual bersih di pasar SBN sebesar Rp5,93 triliun pada November 2025. Aksi jual ini melanjutkan net sell sebesar Rp27,56 triliun pada Oktober 2025 dan Rp45,76 triliun pada September 2025.

Secara keseluruhan, dana asing mencatatkan net sell sebesar Rp4,48 triliun sepanjang tahun berjalan 2025 (year-to-date / YtD).

Persepsi Analis Mengenai Kondisi Pasar SBN

Beberapa analis menilai bahwa perginya dana asing dari pasar SBN tidak serta merta menggambarkan kondisi fundamental pasar obligasi yang memburuk. Mereka menegaskan bahwa kepergian investor asing disebabkan oleh sikap "wait and see" terhadap kebijakan lanjutan The Fed.

Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menyatakan bahwa meskipun The Fed sudah menghentikan kebijakan quantitative tightening per 1 Desember, butuh waktu bagi investor asing untuk kembali masuk ke pasar SBN Indonesia.

Adapun beberapa katalis yang dinilai dapat mendorong masuknya dana asing antara lain stabilnya nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga The Fed yang semakin jelas, serta kepastian kebijakan domestik.

“Penghentian QT adalah sinyal positif. Namun selama volatilitas tinggi dan USD belum melemah, investor global cenderung wait and see,” katanya.

Yield yang Melemah Tidak Menghalangi Investor Asing

Meski yield SBN kian melemah, Putri menilai hal tersebut tidak langsung menghentikan investor asing untuk masuk ke pasar SBN. Justru, pelemahan yield dapat membuat pasar SBN Indonesia lebih atraktif ketika volatilitas mereda.

Masuknya investor asing belakangan tercatat pada periode 24–27 November 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa investor nonresident melakukan aksi beli bersih senilai Rp0,4 triliun pada periode tersebut. Meski jumlahnya tipis, hal ini menunjukkan bahwa yield yang melemah tidak langsung menghilangkan daya tarik pasar SBN.

“Dari luar, ketidakpastian arah pemangkasan Fed Funds Rate dan masih kuatnya dolar membayangi pelemahan rupiah sehingga pasar meminta risk premium lebih tinggi untuk SBN Indonesia,” ujarnya.

Peluang Masuknya Dana Asing di Sisa 2025

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, cukup optimistis mengenai peluang masuknya dana asing ke pasar SBN di sisa 2025. Menurutnya, pasar SUN masih bisa mencatatkan net buy yang tipis di akhir 2025, terutama didorong oleh proyeksi pemangkasan suku bunga BI dan The Fed.

Namun, sejumlah sentimen dinilai akan menjadi game changer dalam keputusan masuknya dana asing ke pasar SBN. Selain arah kebijakan The Fed, keputusan bank sentral Jepang (BoJ) untuk menaikkan suku bunga juga menjadi faktor penting.

Pasalnya, investor Jepang menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Naiknya suku bunga di Jepang dapat menahan yen di Negeri Sakura untuk masuk ke Indonesia. Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, baru-baru ini menyatakan keyakinannya terhadap prospek ekonomi Jepang dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan.

“Jadi saya pikir mungkin ini dampaknya lumayan besar kalau memang nanti terjadi sell off oleh investor Jepang di global government bonds,” katanya.

Faktor yang Diperhatikan Investor Asing

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, menjelaskan bahwa ada beberapa sentimen yang membuat asing belum kembali masuk ke pasar SBN Indonesia. Salah satunya, investor di pasar obligasi cenderung melihat prospek yang panjang terhadap kondisi suatu negara.

Menurutnya, investor asing akan mencermati kebijakan fiskal pemerintah ke depan, potensi pertumbuhan ekonomi, serta posisi kurs rupiah terhadap dolar AS. Hal-hal tersebut akan menjadi indikator apakah Indonesia tetap menarik di mata investor asing.

“Mereka juga akan melihat attractiveness-nya. Enggak semata-mata dilihat dari sisi yield juga, tapi potensi ekonomi, risiko fiskal, hingga risiko kurs juga menjadi pertimbangan,” ujarnya.

Hingga akhir tahun ini, David memprediksi yield SBN akan berada di level 6,2–6,4%. Kendati asing tengah melakukan aksi jual, menurutnya investor domestik di pasar SBN masih cukup solid.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan