
berita,
JAKARTA Pada tahun 2025, saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat menjadi pusat perhatian di pasar modal. Beberapa saham seperti DCII, MORA, dan BUMI berhasil menjadi pemimpin dalam indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun. Harga saham-saham tersebut mengalami peningkatan signifikan, membuat para investor mulai mengevaluasi prospek dan valuasi saat ini.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), memberikan analisis mengenai tiga saham utama yang menjadi top leaders tahun ini. Berikut adalah penjelasannya:
Analisis Saham Top Leaders Tahun Ini
DCII (PT DCI Indonesia Tbk.)
Saham DCII saat ini mulai memasuki fase downtrend. Meskipun laba per kuartal III/2025 meningkat besar, harga sahamnya stagnan dan melemah. Hal ini menunjukkan bahwa momentum pembeli mulai berkurang.
Pada perdagangan Kamis (11/12), DCII ditutup di Rp244.750. Dalam sebulan terakhir, harga saham tersebut mengalami koreksi sebesar 6,52%, meskipun secara year-to-date (ytd) mengalami kenaikan hingga 481,35%. Meski demikian, laba bersih DCII per kuartal III/2025 masih tumbuh 83,54% YoY.
MORA (PT Mora Telematika Indonesia Tbk.)
Harga saham MORA pada penutupan Kamis lalu berada di posisi Rp11.950. Harga tersebut mencerminkan lonjakan 359,62% dalam sebulan terakhir, namun pada perdagangan Kamis terpukul cukup dalam sebesar 14,95%. Namun, secara ytd saham MORA telah mengalami kenaikan ekstrem hingga 2.442,55%.
Dari sisi fundamental, laba bersih MORA per kuartal III/2025 tumbuh 16,4% YoY. Namun, David menilai bahwa harga saham MORA kemungkinan sudah mencapai puncaknya. "Kecepatan kenaikan harga terlalu ekstrem dibandingkan pertumbuhan laba," ujarnya.
BUMI (PT Bumi Resources Tbk.)
Saham BUMI per penutupan Kamis (11/12) masih menguat 10,43% ke Rp360. Dalam sebulan terakhir, harga saham tersebut melonjak 140%, sehingga sejak awal tahun saham BUMI melejit 205,08%. Namun, secara fundamental, laba bersih perseroan per kuartal III/2025 susut 73,6% YoY.
David menjelaskan bahwa BUMI masih dalam fase uptrend, dengan price action agresif dan volume besar yang menunjukkan adanya dana masuk. Namun, risiko tinggi tetap ada.
Valuasi Saham yang Menjadi Perhatian Investor
Seiring dengan kenaikan harga saham yang melonjak ratusan hingga ribuan persen sejak awal tahun, valuasi saham juga menjadi premium. Misalnya, rasio price to earnings (PE) annualised saham MORA berada di level 835,86 kali dengan rasio price to book value (PBV) di 34,38 kali. Sedangkan, PE BUMI ada di level 215,88 kali dengan PBV 5,31 kali. Bahkan, PE DCII ada di 530,50 kali dengan PBV 152,41 kali.
Selain itu, saham-saham lain seperti DSSA (PT Dian Swastika Sentosa Tbk.) dan CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk.) juga menunjukkan valuasi yang sangat tinggi. DSSA mencatatkan rasio PE 211,50 dengan PBV 27,70 kali. Sementara itu, CUAN memiliki rasio PE sebesar 798,77 kali dengan PBV 53,01 kali.
Perspektif Investor untuk Tahun Depan
David menilai bahwa saham-saham top leaders saat ini secara valuasi tidak ada yang cukup atraktif. Namun, bukan berarti saham-saham tersebut kehilangan potensi pertumbuhan di tahun depan. "Rata-rata memiliki valuasi tidak masuk akal, maka pendekatan yang bisa dilakukan adalah analisa teknikal dan money flow," ujarnya.
Menurut David, setiap saham memiliki masa siklusnya sendiri. Artinya, saham-saham yang tahun ini mengalami pertumbuhan besar-besaran belum tentu akan terus naik di 2026. "Apalagi kenaikan sahamnya tidak didukung dengan earnings yang sesuai, ini membuat gap fundamental makin jauh," tambahnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Berita tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar