
Saya merasa cukup terkejut ketika Mbak Ria Agustina bertanya tentang outfit, bukan teknik editing atau proses produksi, dalam sesi coaching clinic one on one Kompasianival 2025 lalu. Pertanyaan ini justru membuat saya terpaku karena tidak pernah terpikir bahwa topik seperti itu akan muncul.
Ketika saya menerima tawaran menjadi coach "creating pop video", saya mulai membayangkan jenis pertanyaan apa saja yang akan muncul dari para peserta. Saya mencoba memprediksi semua kemungkinan topik yang bisa dibahas, mulai dari cara menjaring ide yang unik, membuat hook yang menarik, proses editing, pembuatan VO, aplikasi yang digunakan hingga alat-alat yang biasa saya gunakan.
Saya berpikir pertanyaannya akan fokus pada hal-hal tersebut karena itulah yang sering ditanyakan oleh teman-teman melalui DM. Tapi dugaan saya sedikit meleset. Mbak Ria justru bertanya soal outfit: apakah saya memikirkan dengan matang outfit yang dipakai dalam konten-konten saya? Saya sempat terpaku, bukan karena tidak bisa menjawab, tapi karena tidak mengira akan mendapat pertanyaan semacam itu.
Mungkin bagi orang lain pertanyaan ini terdengar remeh, tapi dari situ saya justru berpikir, mengapa saya tidak memasukkan soal outfit ke dalam materi yang saya bagikan? Pada praktiknya, saya memang memikirkan outfit yang akan saya pakai ketika mau take video. Meski tidak sedetail layaknya seorang fashion stylist, saya benar-benar mempertimbangkan hal tersebut. Misalnya, apa dominasi warna dari tempat yang akan saya datangi dan apakah warna outfit yang saya pakai sudah sesuai, kontras atau justru tenggelam?
Tidak, artikel ini tidak akan membahas soal warna maupun outfit secara lebih jauh. Di sini saya justru ingin bercerita mengenai pengalaman pertama kali menjadi coach di Kompasianival 2025 yang rasanya seperti mengunyah permen Nano-Nano: manis, asam, asin, rame banget deh pokoknya!
Ketika pertama kali tawaran dari aiotrade datang melalui pesan WhatsApp, sebuah pertanyaan muncul: apa saya sudah pantas? Di satu sisi muncul keraguan, tapi di sisi lain saya sadar bahwa hari seperti ini cepat atau lambat, siap tidak siap, akan tiba juga. Saya tidak bisa terus menerus menerima ilmu dari orang lain tanpa ikut menularkannya. Dari situlah saya memantapkan diri untuk mengambil kesempatan ini sebagai tantangan baru yang harus saya taklukkan.
Rasanya campur aduk, menantang iya, senang iya, khawatir juga iya. Biar bagaimanapun saya sedang memikul sebuah tanggung jawab baru. Aneka perasaan itu mendominasi saya di hari-hari setelahnya. Sisi positifnya, saya jadi tidak terlalu memikirkan hasil vote usai masuk kategori Best in Storytelling. Bagi saya, menjadi coach jauh lebih menegangkan.
Peserta yang ikut sesi coaching video pasti sudah tahu bahwa saya membagikan copy materi dan cookies manis buatan Kompasianer Efa Butar Butar. Ide copy materi muncul karena jatah waktu setiap peserta hanya 10 menit. Saya takut ada banyak pertanyaan yang belum tuntas sebelum waktunya. Sementara ide cookies terinspirasi dari mengikuti sesi coaching clinic Mbak Dewi Puspa di tahun sebelumnya.
Di masa persiapan, saya banyak sharing dengan Efa dan Mas Rudi yang sudah pernah menjadi coach di Kompasianival tahun sebelumnya. "Nah, itu tandanya kamu berhasil Mas, Mbak Ire yang dulu ikut kelasmu bisa jadi seperti sekarang," kata Efa kepada Mas Rudi. "Kamu coach keduaku Mas, yang pertama Mas Kevin," ucap saya sembari tertawa.
Memang betul, pertama kali saya belajar video ya dari program Crowds Meetup 2024. Dari sanalah saya jadi paham pentingnya hook dari sebuah konten. Semua ilmu yang saya dapat, baik dari Mas Kevin, Mas Rudi maupun pengalaman pribadi, saya ramu menjadi sebuah materi yang saya bagikan ke peserta.
Sebelum sesi dimulai, kepala saya penuh tanda tanya; Siapa saja yang akan saya temui? Pertanyaan apa saja yang akan muncul? Bisakah saya melewatinya dengan lancar? Materi yang saya siapkan sudah saya desain untuk menjawab sebagian besar prediksi pertanyaan. Tapi tetap saja, ada pertanyaan di luar dugaan.
Ibu Ina Tanaya datang dengan membawa buku catatan yang cukup besar. Terlihat beberapa poin pertanyaan ada di sana. Bapak Agus Hendrawan membuka pertanyaan dengan bercerita bahwa beliau suka membuat video untuk konten Youtube. Rupanya peserta datang dari berbagai background; kompasianer lama, baru, muda hingga paruh baya, mulai dari yang suka membuat video, baru mau belajar video hingga yang memang sudah berprofesi sebagai video creator, mulai dari yang berdomisili Jakarta hingga yang datang dari luar kota seperti Mas Gilang.
Ada juga peserta yang terlihat antusias ingin segera mengikuti sesi coaching saya, tapi pada saat sesi dimulai malah menghilang entah kemana. Hmf. (Hashtag: Pak Sutiono, hahahaha)
Pertanyaan yang datang pun bervariasi, mulai dari bagaimana membuat video yang menarik, cara agar video bisa FYP, membuat video tanpa harus menampilkan muka hingga soal outfit yang dipilih. Rentetan pertanyaan tadi membuat saya sadar bahwa masih banyak ranah dalam pembuatan video yang perlu saya pelajari lebih jauh.
Ya, belajar memang tak ada akhirnya. Saya menganggap sesi coaching lalu itu adalah sebuah pembelajaran, tidak hanya untuk peserta tapi juga saya sendiri. Dari menjadi coach video saya justru banyak belajar bahwa mengajar itu seperti bercermin. Saat bercermin terkadang kita melihat detail yang selama ini tidak kita sadari.
Terima kasih kepada aiotrade karena selain menjadi wadah menulis juga memberikan saya kesempatan untuk terus belajar dan bertumbuh :)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar