Menjembatani Diplomasi dan Dinamika Lokal

Menjembatani Diplomasi dan Dinamika Lokal

Perjalanan Gubernur NTB yang Berpotensi Membawa Perubahan

Pilkada 2024 telah membuka lembaran baru dengan melahirkan 37 gubernur di seluruh Indonesia, masing-masing membawa harapan segar untuk daerahnya. Hiruk-pikuk koalisi politik sering kali menyiratkan ketidakpastian, publik tak jarang bertanya-tanya, bagaimana memastikan pemimpin terpilih benar-benar siap memenuhi tuntutan rakyat? Jawaban yang ideal, tentu saja terletak pada proses seleksi yang lebih matang, bukan sekadar popularitas atau dukungan partai politik, melainkan keseimbangan antara visi luas dan pemahaman mendalam tentang karakter politik lokal dan kebutuhan lokal.

Di Nusa Tenggara Barat, kemenangan telak Dr. Muhamad Lalu Iqbal dengan lebih dari 52 persen suara menjadi contoh menarik. Sebagai diplomat senior yang pernah menjabat Duta Besar RI untuk Turki, Iqbal membawa angin segar ke Pilkada NTB melalui visi "NTB Makmur Mendunia". Kampanyenya yang lincah di ranah digital berhasil menyentuh hati pemilih muda, didukung kuat oleh Partai Gerindra dan koalisi partai non-parlemen, hingga mengalahkan petahana Dr. Zulkieflimansyah serta lawan-lawan lainnya.

Popularitasnya yang dibangun dari prestasi di panggung internasional memang menjadi daya tarik utama, tetapi kini, sepuluh bulan setelah pelantikan pada Februari 2025, perjalanan Iqbal memasuki babak yang lebih menantang: menyatukan pengalaman globalnya dengan irama unik NTB. Transisi ini, seperti yang dialami banyak pemimpin baru, tidak lepas dari guncangan awal. Pengalaman diplomasi yang biasa berhadapan dengan negosiasi antarnegara kini bertemu dengan realitas yang lebih dekat di kampung halamannya sendiri, yakni adat istiadat Sasak dan Sumbawa yang kaya makna, jaringan pesantren yang menjadi tulang punggung masyarakat, serta harmoni Muslim Hindu yang menjadi ciri khas pulau Lombok.

Beberapa catatan dari masyarakat, seperti harapan akan komunikasi yang lebih hangat dengan elemen adat atau penanganan isu-isu hukum di lingkaran terdekat, muncul sebagai pengingat bahwa memimpin daerah memerlukan sentuhan lokal yang halus dan pas. Kasus-kasus seperti dugaan gratifikasi DPRD, pemotongan DAK pendidikan, atau pengelolaan aset NTB Convention Centre, meski belum menyentuh Iqbal secara langsung menjadi pelajaran berharga tentang betapa rapuhnya kepercayaan jika pengawasan internal tak segera diperkuat.

Begitu pula kontraksi ekonomi sementara di triwulan II 2025, yang mencapai -0,82 persen year-on-year menurut BPS, meski dibayangi pertumbuhan kuartalan 6,56 persen yang menjanjikan, mengingatkan bahwa pemulihan sektor unggulan seperti pertambangan, pariwisata halal serta pertanian dan peternakan butuh strategi yang lebih adaptif.

Namun, justru di sinilah letak potensi besar Iqbal. Latar belakangnya sebagai diplomat bukanlah beban, melainkan jembatan emas untuk membawa NTB ke panggung dunia. Bayangkan setelah mempertautkan provinsi tetangga (Bali, NTT, Sulsel), bagaimana jaringan internasionalnya bisa dimanfaatkan untuk memperkuat sister province dengan negara-negara Timur Tengah atau Turki, menarik investasi ke sektor halal tourism, atau membuka beasiswa vokasi bagi pemuda NTB di luar negeri.

Untuk itu, langkah awal yang bijak adalah memperdalam kepekaan budaya lokal khususnya antara Sumbawa dan Lombok, selain meneruskan mengedepankan pendekatan bukan dengan cara yang kaku, melalui rutinitas sederhana seperti dialog rutin dengan ulama pesantren, atau pertemuan silaturahmi dengan tokoh adat Sasak, Sumbawa, Bima dan pemuka Hindu atau menemui kalangan muda serta blusukan ke pasar tradisional.

Hal ini tidak hanya akan membangun ikatan emosional yang lebih erat, tetapi juga membantu Iqbal merasakan denyut nadi masyarakat, di mana gotong royong adat Lombok menjadi kunci utama dalam membangun koalisi yang kokoh. Seorang guru besar ilmu politik saya di Universitas Indonesia pernah berujar, NTB adalah laboratorium dan locus riset doctoral yang istimewa dan menantang, karena hanya yang berkualifikasi doctoral yang bisa menganalisis dan memahami karakter dan praktek politik di Bumi Gora yang khas itu.

Lebih jauh lagi, pengelolaan tim inti sang gubernur menjadi elemen krusial dalam perjalanan ini. Energi segar dari milenial dan Gen Z yang mendominasi tim suksesnya telah membuktikan diri dalam kampanye, tetapi kini saatnya harus disatukan dan betul-betul dikendalikan dengan kebijaksanaan figur senior yang paham akar politik NTB, seperti kualifikasi yang melekat pada sejumlah mantan bupati atau tokoh masyarakat atau politisi senior di parlemen yang telah lama bergelut di birokrasi daerah.

Dengan cara ini, tim inti dan eks timses tidak lagi sekadar "menagih keringat" pasca-pilkada, melainkan menjadi mitra yang saling melengkapi, di mana antusiasme muda bertemu pengalaman lokal untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif. Transparansi internal pun bisa ditingkatkan melalui dashboard publik untuk proyek strategis atau audit berkala bersama BPKP dan Ombudsman, sehingga isu-isu hukum seperti yang baru-baru ini muncul di Kejati NTB, termasuk penahanan ASN terkait korupsi masker Covid-19 lama atau dugaan dana pokir DPRD, bisa dicegah sejak dini yang dapat menjaga integritas dan reputasi pemerintahan sebagai prioritas utama.

Dalam menggeliatkan ekonomi, Iqbal memiliki peluang emas untuk mengintegrasikan visi globalnya dengan kebutuhan riil NTB. Kontraksi sementara akibat fluktuasi pertambangan, seperti yang disinggung Mendagri Tito Karnavian dalam rapat online, bisa dijawab dengan percepatan program seperti penguatan UMKM berbasis produk halal, pemberdayaan koperasi pesantren, atau kolaborasi dengan swasta untuk industrialisasi kecil-menengah. Kolaborasi sektor ekonomi dengan provinsi tetangga seperti dengan Bali dan NTT serta Sulsel merupakan langkah taktis yang semoga segera membuahkan dampak positif.

Inisiatif seperti Akademi Pemuda NTB yang telah dirintisnya adalah langkah brilian. Bayangkan jika ini diperluas menjadi pusat kaderisasi yang tak hanya mengajarkan etika politik, tetapi juga pengelolaan anggaran daerah dan kewirausahaan berkelanjutan, untuk mewujudkan lahirnya generasi pemimpin NTB yang siap mewujudkan "makmur mendunia" tanpa meninggalkan akar lokal.

Komunikasi publik yang hangat, melalui sesi tanya jawab bulanan semacam Coffee Morning di media sosial, kunjungan ke media, dialog dengan aktifis lingkungan dan perempuan atau forum lintas elemen dengan DPRD dan Forkopimda yang sudah berjalan, akan semakin memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap pemerintahan ini.

Pada akhirnya, perjalanan Gubernur Iqbal adalah kisah adaptasi yang menginspirasi, dari koridor diplomatik ke pasar rakyat, dari negosiasi global ke dialog desa. Dengan apresiasi atas pencapaian seperti peringkat kedua nasional realisasi APBD per Juni 2025 yang dipuji Mendagri, serta penghargaan Kemendagri atas pelayanan kesehatan di Desember 2025, jelas menunjukkan adanya fondasi kuat yang bisa terus dikembangkan.

Warga NTB sendiri punya peran untuk mendukung dan mengingatkan dengan penuh empati, karena keberhasilan seorang gubernur adalah cerminan kebersamaan seluruh anak daerah. Selain itu bukankah sebagian besar yang memilih sosok Gubernur NTB saat ini adalah mayoritas rakyat Bumi Gora sendiri juga.

Semoga empat tahun ke depan, setidak-tidaknya sampai jabatannya berakhir, menjadi era di mana NTB mampu mewujudkan tidak hanya bersinar di peta dunia, tetapi juga semakin guyub rukun di setiap sudut pulau seribu masjid dan pesonanya yang memukau.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan