Menjemput Fajar Baru: Muhasabah di Tengah Kegelapan Tahun Baru

Menjemput Fajar Baru: Muhasabah di Tengah Kegelapan Tahun Baru

Pergantian Tahun dalam Perspektif Islam

Detik jam yang berdetak menuju angka dua belas sering kali disambut dengan sorak-sorai dan kembang api yang mewarnai langit. Namun, bagi seorang muslim, momen pergantian tahun bukanlah sekadar perubahan angka di kalender atau perayaan seremonial tanpa makna.

Di balik gemerlap perayaan duniawi, ada jeda yang sangat berharga untuk menoleh sejenak ke belakang dan menatap jauh ke depan dengan kacamata iman. Dalam pandangan Islam, waktu adalah modal utama manusia. Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu dalam Surah Al-Ashr untuk menegaskan betapa berharganya setiap detik yang terlewati. Pergantian tahun sebenarnya adalah sebuah pengingat halus namun tegas: bahwa jatah usia kita di dunia ini sedang berkurang, bukan bertambah.

Setiap lembar kalender yang jatuh adalah bagian dari hidup kita yang tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, merayakan pergantian tahun dengan hura-hura yang berlebihan terasa kontradiktif dengan hakikat berkurangnya kesempatan kita untuk beramal saleh.

Muhasabah: Menghitung Diri Sebelum Dihitung

Malam pergantian tahun adalah momentum emas untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Sayyidina Umar bin Khattab ra. pernah berpesan, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (oleh Allah)." Seorang muslim yang cerdas akan menggunakan malam ini sebagai waktu untuk "audit spiritual". Beberapa pertanyaan penting yang bisa diajukan pada diri sendiri antara lain:

  • Bagaimana kualitas salat lima waktu saya selama setahun terakhir?
  • Berapa banyak harta yang telah saya sedekahkan dibandingkan dengan yang saya habiskan untuk kesenangan pribadi?
  • Apakah akhlak saya terhadap orang tua, keluarga, dan sesama sudah mencerminkan ajaran Rasulullah SAW?
  • Dosa apa yang masih terus saya ulangi, dan kapan saya benar-benar akan bertaubat?

Menghindari Tasyabbuh dan Mengejar Kebermanfaatan

Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki jati diri yang kuat. Di tengah euforia budaya luar yang mungkin tidak sejalan dengan nilai-nilai syariat, seorang muslim diajak untuk tetap terjaga. Menghabiskan malam tahun baru dengan aktivitas yang bermanfaat, seperti membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian, atau sekadar beristirahat lebih awal agar bisa melaksanakan salat Tahajud, jauh lebih mulia daripada larut dalam kerumunan yang melalaikan zikir.

Menyusun Resolusi Berbasis Akhirat

Resolusi tahun baru bagi seorang muslim tidak seharusnya hanya berkutat pada pencapaian materi, karier, atau estetika fisik semata. Alangkah indahnya jika resolusi tersebut juga mencakup target spiritual, misalnya:

  • Memperbaiki Istiqomah: Menargetkan bacaan Al-Qur'an satu juz sehari atau tidak melewatkan salat sunnah Rawatib.
  • Pembersihan Hati: Bertekad untuk meninggalkan penyakit hati seperti iri, dengki, dan pamer (riya).
  • Khidmat pada Sesama: Menjadi pribadi yang lebih ringan tangan dalam membantu kesulitan orang lain.

Kesimpulan

Malam pergantian tahun hanyalah sebuah pintu. Yang paling penting adalah siapa yang melangkah masuk melaluinya dengan niat yang lebih murni. Jangan biarkan malam ini berlalu hanya sebagai kebisingan yang kosong. Jadikan ia sebagai titik tolak untuk menjadi hamba yang lebih dicintai oleh Sang Pencipta.

Sejatinya, tahun yang baru adalah kesempatan kedua yang diberikan Allah untuk memperbaiki segala retak di masa lalu. Mari kita jemput fajar pertama di tahun baru dengan sujud syukur dan tekad bulat untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan