
Pernyataan Menteri HAM Mengenai Aksi Teror terhadap Influencer
Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengungkapkan perhatian terhadap sejumlah aksi teror yang dialami oleh para influencer atau pemengaruh belakangan ini. Aksi tersebut diduga terkait dengan kritik mereka terhadap penanganan bencana di Sumatera pada November lalu. Pigai menegaskan bahwa pelaku dari rangkaian teror ini tidak mungkin merupakan pemerintah atau aktor negara.
“Tidak mungkin institusi, apalagi negara menghalangi kebebasan,” ujar Pigai pada Jumat, 2 Januari 2025. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan adanya peran pemerintah dalam aksi teror yang dialami para influencer. Oleh karena itu, publik tidak boleh langsung menyalahkan pemerintah atas kejadian tersebut.
Pigai juga meminta para pemengaruh untuk tidak asal menuduh pemerintah sebagai pelaku teror yang mereka alami. Menurutnya, identifikasi pelaku teror hanya bisa dilakukan melalui penyelidikan dan penyidikan yang mendalam. Untuk itu, ia meminta aparat penegak hukum segera mengusut kasus tersebut hingga tuntas agar dapat diketahui motif dan siapa pelakunya.
Pigai menegaskan bahwa pemerintah tidak alergi terhadap kritik yang disampaikan oleh para pemengaruh, termasuk kritik tentang penanganan bencana di Sumatera. Namun, ia menekankan bahwa setiap kritik harus didasarkan pada fakta. Menurutnya, pemerintah sangat serius dalam menangani bencana tersebut.
“Hampir setiap minggu Presiden (Prabowo Subianto) datang ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” jelas Natalius. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi pasca-bencana.
Sebelumnya, Pigai mengakui bahwa dirinya belum mengetahui adanya teror terhadap warga yang mengkritik penanganan bencana Sumatera. “Saya sendiri belum tahu. Jadi, bagaimana saya percaya mereka diteror? Oleh siapa dan karena apa?” tanyanya pada Rabu, 31 Desember 2025.
Contoh Aksi Teror terhadap Para Pemengaruh
Beberapa influencer dan aktivis yang mengkritik penanganan bencana Sumatera telah menjadi korban teror. Misalnya, pemusik asal Aceh, Ramond Dony Adam alias D.J. Donny, menerima kiriman bangkai ayam dan surat ancaman. Selanjutnya, influencer asal Aceh, Shery Annavita, mengaku dikirimi sekantung telur busuk dan mengalami vandalisme di mobilnya.
Tidak hanya itu, rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga dikirimi bangkai ayam beserta pesan bernada ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pengkampanye Greenpeace, terutama kritikannya terhadap kinerja pemerintah dalam menangani bencana Sumatera.
Tindakan yang Perlu Dilakukan
Dari berbagai kejadian tersebut, penting bagi masyarakat dan aparat hukum untuk tetap waspada dan menangani setiap laporan teror secara serius. Keterbukaan dan transparansi dalam proses penyelidikan akan membantu mengungkap siapa pelaku serta motivasi di balik aksi teror tersebut.
Selain itu, masyarakat perlu terus memberikan dukungan kepada para pemengaruh yang berani menyampaikan kritik konstruktif. Dengan demikian, kebebasan berbicara dan hak asasi manusia tetap terjaga, meskipun dalam situasi yang penuh tantangan.
Hendrik Yaputra ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar