Pemulihan Kesehatan di Wilayah Terdampak Bencana Sumatra
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan rencana pemerintah untuk mengirim dokter dan perawat dari kota lain guna membantu masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra. Hal ini dilakukan karena keterbatasan tenaga kesehatan yang bertugas di tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Jadi kami harus mengirim beberapa dokter dan perawat dari kota lain untuk masuk (bertugas di daerah terdampak bencana Sumatra)," ujar Menkes dalam acara Indonesia Health Partners Meeting 2025 dengan tema Harmony for Indonesia Health Transformation Acceleration yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Tenaga Kesehatan Juga Turut Terdampak
Budi menjelaskan bahwa masyarakat setempat di Sumatra yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan juga turut menjadi korban bencana. Sehingga saat ini mereka masih dalam proses pemulihan, baik untuk tempat tinggal maupun mengurus keluarga.
"Masalah kami sekarang, dokter dan perawat juga menjadi korban. Dan mereka tidak punya rumah, beberapa tidak bisa makan, mereka masih mengurus keluarga mereka," ungkapnya.

31 Rumah Sakit di Sumatra Terdampak
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), total ada 31 rumah sakit yang terdampak bencana di Sumatra. Saat ini, pemerintah terus berupaya memulihkan semua rumah sakit tersebut. Menkes menjelaskan alasan lebih baik menyiapkan rumah sakit saat kondisi darurat, ketimbang puskesmas.
"Tujuan pertama (setelah terjadi bencana) adalah memastikan 31 rumah sakit yang terdampak, beroperasi kembali secepat mungkin. Orang bilang, 'kenapa tidak Puskesmas? Kenapa rumah sakit?' Puskesmas itu di masa normal kita berurusan dengan Puskesmas. Di masa buruk, kondisi kritis itu perginya ke rumah sakit, kita lebih baik siapkan rumah sakitnya," ucap Menkes.
Saat ini, sejumlah rumah sakit di lokasi bencana Sumatra sudah ada yang mulai beroperasi kembali, namun masih terdapat pula yang masih dalam proses pemulihan.

Kendala Pasokan Listrik dan Air Bersih
Budi lantas menjelaskan, sejumlah rumah sakit yang mulai beroperasi kini terkendala pasokan aliran listrik. Ia menyebut, pasokan listrik sementara melalui genset belum bisa memenuhi kebutuhan rumah sakit. Sebab, batas daya penggunaan genset paling lama hanya tiga hari, sementara akses menuju lokasi rumah sakit masih sangat sulit sehingga harus memanfaatkan helikopter.
"Bagaimana anda bisa membuka rumah sakit tanpa listrik? Dan kami punya 10 lokasi tanpa listrik. Jadi kami harus menggunakan helikopter untuk mengangkut genset, penuh dengan bensin—yang sebenarnya sangat berbahaya untuk dilakukan—dan membawanya naik dan menaruhnya di rumah sakit. Tapi genset itu hanya bertahan tiga hari, karena setelah tiga hari mereka kehabisan bahan bakar. Dan tidak ada cara untuk membawa bahan bakar. Jadi kami harus mengangkut [ke] rumah sakit lagi dan membawa bahan bakar ke rumah sakit ini," ujar Menkes.

Kemudian, Budi mengungkapkan masalah lain yang dialami rumah sakit di daerah bencana Sumatra sekarang ini, kebutuhan air bersih.
"Begitu listrik menyala, kami punya masalah dengan air, karena kami butuh air. Dan itu butuh satu atau dua hari lagi untuk mengoperasikan rumah sakit. Ketika kami mendapat akses air, kami nyalakan lampu, kami sadar bahwa lumpurnya setebal ini. Karena sekarang sudah tidak hujan lagi, jadi lumpurnya mengeras. Jadi kami harus membersihkan semua rumah sakit. Itu butuh tiga atau empat hari lagi," kata Budi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar