
Pemerintah Venezuela Mengecam Serangan Militer AS
Pemerintah Venezuela secara tegas mengecam serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat. Serangan tersebut dianggap sebagai upaya memaksakan kolonialisme baru, perang kolonial, dan perubahan rezim di negara Amerika Selatan ini.
Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil menyatakan bahwa serangan itu merupakan agresi serius terhadap kedaulatan negara dan bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pernyataan resminya, ia mengatakan:
“Upaya memaksakan perang kolonial untuk menghancurkan pemerintahan republik dan memaksakan ‘perubahan rezim’, dengan bersekutu bersama oligarki fasis, akan gagal sebagaimana semua upaya sebelumnya telah gagal.”
Gil menegaskan bahwa Republik Bolivarian Venezuela menolak dan mengecam agresi militer yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah dan rakyat Venezuela. Ia menilai serangan tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
“Agresi semacam ini menempatkan nyawa jutaan orang dalam risiko serius,” ujarnya.
Serangan AS menargetkan lokasi sipil dan militer di ibu kota Caracas serta sejumlah negara bagian, yakni Miranda, Aragua, dan La Guaira. Gil menuding tujuan utama serangan tersebut adalah merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral, serta melemahkan kemandirian politik negara itu.
“Mereka tidak akan berhasil,” kata Gil menegaskan.
Respons Pemerintah Venezuela
Sebagai respons atas situasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah menandatangani dekret yang menetapkan Status Gangguan Eksternal di seluruh wilayah Venezuela. Kebijakan itu diambil untuk melindungi warga negara dan memastikan lembaga-lembaga negara tetap berfungsi.
Sebelumnya, sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Caracas di tengah meningkatnya ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap tebal di beberapa titik ibu kota, disertai bunyi sirene serangan udara.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social mengklaim pasukan Amerika telah melancarkan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Trump juga menyatakan keduanya telah diterbangkan ke luar negeri.
Media internasional melaporkan sedikitnya 40 orang, termasuk personel militer dan warga sipil, tewas dalam serangan tersebut. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez sebelumnya juga menyebut adanya korban dari kalangan pejabat, militer, dan warga sipil akibat serangan AS.
Tuntutan dan Penyelidikan
Pemerintah Venezuela mengaku belum mengetahui keberadaan Maduro dan meminta Amerika Serikat memberikan bukti bahwa presiden mereka masih hidup. Tak lama berselang, Trump mempublikasikan foto yang diklaim menunjukkan Maduro berada di atas kapal Amerika Serikat.
Menanggapi eskalasi ini, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan mengajukan banding ke berbagai organisasi internasional serta mendesak Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat untuk membahas serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Dari Moskow, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas kepada rakyat Venezuela. Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan pemaksaan pemindahan Maduro dan istrinya, serta menyerukan pembebasan keduanya dan pencegahan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar