
Tantangan Menteri Keuangan untuk Direksi Baru BEI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tantangan terbuka kepada jajaran direksi baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menjabat periode 2026–2030. Ia meminta kepemimpinan baru BEI untuk berani membersihkan praktik manipulasi saham yang selama ini merusak kepercayaan investor. Menurutnya, integritas pasar modal tidak bisa ditawar lagi dan harus menjadi prioritas utama.
Purbaya menegaskan bahwa praktik seperti goreng saham dan permainan spekulan nakal menjadi hambatan utama pertumbuhan pasar yang sehat dan berkeadilan. Ia menilai, tanpa tindakan nyata, pasar modal tidak akan berkembang secara optimal dan mengancam kredibilitas bursa.
Integritas Pasar Jadi Syarat Utama
Menurut Purbaya, keberanian menindak pelaku manipulasi harus menjadi prioritas bagi direksi BEI yang baru. Ia menekankan bahwa perlindungan investor—terutama investor ritel—tidak cukup hanya dengan regulasi di atas kertas. Dukungan pemerintah, seperti insentif fiskal untuk pengembangan pasar modal, baru bisa diberikan jika ada bukti nyata bahwa praktik manipulatif benar-benar diberantas.
“Integritas pasar adalah harga mati,” ujar Purbaya, menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi bagi pelaku manipulasi saham. Pernyataan ini menunjukkan tekad pemerintah untuk menjaga kualitas pasar modal Indonesia.
Menjelang Pergantian Direksi BEI
Pernyataan ini muncul menjelang berakhirnya masa jabatan direksi BEI periode 2022–2026 yang diperkirakan selesai pada pertengahan 2026. Proses seleksi direksi baru pun menjadi sorotan, seiring harapan publik terhadap perubahan nyata di lantai bursa.
Purbaya berharap, direksi baru tidak hanya menguasai aspek teknis pasar modal, tetapi juga memiliki keberpihakan kuat pada transparansi dan keadilan pasar. Menurutnya, pasar saham yang bersih akan mendorong pertumbuhan investor jangka panjang.
Kenapa Mafia Saham Masih Jadi Masalah
Praktik manipulasi saham, termasuk skema pump and dump atau saham gorengan, masih dianggap sebagai ancaman serius di pasar modal Indonesia. Pola ini kerap menargetkan saham berlikuiditas rendah, lalu mengerek harga secara tidak wajar sebelum akhirnya dilepas besar-besaran.
Akibatnya, banyak investor ritel masuk di harga puncak dan menanggung kerugian ketika harga anjlok. Kondisi ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga menggerus kepercayaan terhadap pasar secara keseluruhan.
Sejumlah pihak menilai, tanpa penegakan hukum yang tegas dan konsisten, praktik serupa akan terus berulang dengan pola yang berbeda.
Dorongan Penindakan Lebih Tegas
Regulator pasar modal sebenarnya telah memiliki payung hukum untuk menindak manipulasi saham. Namun, Purbaya menilai tantangan terbesarnya ada pada keberanian dan konsistensi penegakan aturan. Dengan kepemimpinan baru BEI, ia berharap ada perubahan pendekatan: tidak sekadar pengawasan, tetapi juga penindakan yang memberi efek jera.
Tantangan Menkeu Purbaya menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menaruh ekspektasi besar pada direksi baru BEI. Keberhasilan memberantas mafia saham bukan hanya soal citra bursa, tetapi juga masa depan kepercayaan investor dan stabilitas pasar modal Indonesia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar