Menyambut Ramadan dengan Kebersihan, Tradisi Kuramasan di Kampung Miduana Cianjur

Menyambut Ramadan dengan Kebersihan, Tradisi Kuramasan di Kampung Miduana Cianjur

Tradisi Kuramasan: Ritual Penyucian Diri di Kampung Adat Miduana

Di tengah persiapan menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat di Kampung Adat Miduana, Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, melakukan ritual penyucian diri yang unik bernama Tradisi Kuramasan. Ritual ini memiliki makna mendalam sebagai bentuk penyucian jasmani dan rohani sekaligus memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

Tradisi Kuramasan bukan hanya sekadar ritual musiman, melainkan warisan sejarah yang kuat. Diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 hingga ke-18 Masehi, diturunkan oleh para pendiri kampung, Eyang Jagat Nata dan Eyang Jagat Niti. Ritual ini menjadi bukti bagaimana kearifan lokal Sunda berakulturasi dengan nilai-nilai religius Islam, menghasilkan praktik unik yang bertahan hingga saat ini.

Pelaksanaan Ritual Kuramasan

Ritual Kuramasan dilaksanakan sehari menjelang puasa Ramadan dimulai. Proses pelaksanaannya penuh dengan nilai budaya dan spiritual. Berikut adalah rangkaian acara dalam tradisi ini:

  • Berkumpul dan Doa
    Warga Kampung Adat Miduana berkumpul di tepi Sungai Cipandak, salah satu sumber air utama di wilayah tersebut. Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat. Doa ini menjadi awal dari prosesi penyucian diri secara spiritual.

  • Iringan Kesenian
    Prosesi ini dimeriahkan dengan iringan musik tradisional seperti rebana dan pertunjukan reog dengan kostum adat Sunda, yakni pangsi untuk lelaki dan kebaya bagi para perempuan. Hal ini menambah semarak suasana dan memperkuat identitas budaya setempat.

  • Mandi Massal
    Puncak ritual adalah mandi massal. Warga beramai-ramai masuk ke sungai untuk mandi besar tanpa melepaskan pakaian adat mereka. Mandi ini dianggap sebagai simbol penyucian diri secara fisik dan spiritual.

  • Aksi Ekologis
    Kuramasan juga disisipi dengan nilai ekologis. Sebelum dan sesudah ritual, warga secara gotong royong membersihkan Sungai Cipandak dari sampah. Ini menegaskan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari kearifan lokal.

  • Silaturahmi
    Acara ditutup dengan kegiatan makan bersama di tepi sungai. Aktivitas ini berfungsi sebagai media utama untuk mempererat silaturahmi antarwarga dan memperkuat ikatan sosial.

Pelestarian Identitas Budaya dan Nilai Luhur

Lebih dari sekadar mandi, Tradisi Kuramasan memiliki nilai penting yang berlapis. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kesiapan Rohani
    Ritual ini menanamkan kesiapan rohani menyambut Ramadan dan memperkuat ikatan kekeluargaan serta semangat gotong royong.

  • Pendidikan Lingkungan
    Praktik pembersihan sungai mengajarkan nilai-nilai konservasi alam kepada generasi muda. Ini menjadi bentuk edukasi langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan.

  • Pelestarian Budaya
    Kuramasan menjadi benteng pelestarian kearifan lokal Sunda, memperkuat identitas budaya masyarakat Miduana, dan menjadi media pembelajaran nilai-nilai adat bagi generasi muda.

Dukungan dan Peran Wisata Budaya

Dukungan dari pemerintah daerah memastikan keberlanjutan tradisi ini. Selain itu, Kuramasan kini menjadi daya tarik wisata budaya yang unik, memastikan kelestariannya di tengah arus modernisasi. Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada kalangan lebih luas.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan