Pernahkah kamu bertemu seseorang dan merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama? Atau kehilangan kontak dengan seseorang, lalu bertahun-tahun kemudian nama mereka tiba-tiba muncul dalam ingatan tanpa alasan yang jelas? Pertanyaan tentang apakah pertemuan kita dengan orang-orang tertentu adalah kebetulan atau takdir merupakan salah satu misteri paling universal dalam pengalaman manusia.
Film Past Lives (2023), debut penyutradaraan Celine Song, mengangkat pertanyaan ini dengan pendekatan yang jarang ditemukan dalam film romance kontemporer. Film ini tidak memberikan jawaban sederhana, melainkan mengajak penonton untuk merenungkan kompleksitas hubungan antarmanusia melalui lensa filosofi Korea.
Sebuah Film tentang Koneksi dan Pilihan
Past Lives mengikuti kisah Nora (Greta Lee), seorang playwright Korea-Amerika di New York, yang dipertemukan kembali dengan Hae Sung (Teo Yoo), teman masa kecilnya dari Seoul. Mereka terpisah 24 tahun lalu ketika keluarga Nora beremigrasi ke Kanada. Kini Nora telah menikah dengan Arthur (John Magaro), seorang penulis Amerika.
Film ini bukan tentang love triangle dalam pengertian konvensional. Ini adalah eksplorasi tentang orang-orang yang tetap hadir dalam ingatan kita meskipun tidak lagi berada dalam kehidupan kita. Tentang pertanyaan yang muncul di berbagai titik dalam hidup: bagaimana jika dahulu kita mengambil jalan yang berbeda?
Yang membuat Past Lives menarik adalah bagaimana film ini menggunakan konsep Korea kuno, in-yun, untuk mengeksplorasi dilema antara takdir dan kehendak bebas dalam konteks hubungan manusia.
In-Yun: Koneksi yang Tidak Selalu Berujung Kebersamaan
Konsep in-yun diperkenalkan dalam film melalui penjelasan Nora kepada suaminya. Ia menggambarkan bagaimana dalam kepercayaan Korea, jika dua orang berpapasan di jalan dan pakaian mereka saling bersentuhan, hal itu terjadi karena ada 8.000 lapisan in-yun dari kehidupan-kehidupan masa lalu mereka. Semakin dalam hubungan dua orang, semakin banyak lapisan in-yun yang mereka miliki bersama.
In-yun dapat diterjemahkan sebagai providence atau ikatan takdir, tetapi maknanya lebih kompleks. In-yun adalah akumulasi dari semua interaksi yang pernah kita miliki dengan seseorang, tidak hanya dalam kehidupan ini, tetapi juga dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. Setiap pertemuan, setiap momen yang dibagikan, menambah lapisan pada in-yun antara dua individu.
Aspek paling signifikan dari konsep ini adalah bahwa in-yun hanya berbicara tentang koneksi, bukan tentang kebersamaan. Seseorang dapat memiliki ribuan lapisan in-yun dengan orang lain namun tetap tidak dapat bersama. Koneksi itu nyata dan bermakna, tetapi koneksi tidak menjamin hasil tertentu. Inilah yang membedakan pendekatan Past Lives dari kebanyakan film romance. Film ini tidak menawarkan ilusi bahwa cinta sejati selalu menemukan jalannya. Sebaliknya, film ini menghadirkan kemungkinan yang lebih kompleks: bahwa terkadang, bentuk cinta yang paling matang adalah melepaskan seseorang.
Film ini mengeksplorasi in-yun melalui dinamika pertemuan kembali setelah pemisahan yang panjang. Pertanyaan sentral yang diajukan adalah: apakah pertemuan kembali tersebut merupakan manifestasi dari in-yun (providence), atau sekadar kebetulan (coincidence)?
Yang menarik dari eksplorasi konsep in-yun dalam film ini adalah bagaimana ia mempertanyakan batas antara takdir dan pilihan. Ketika dua individu tidak dapat melupakan satu sama lain selama beberapa dekade, apakah itu karena in-yun yang terlalu kuat? Atau karena mereka secara sadar memilih untuk terus mengingat?
Ketika pertemuan kembali terjadi pada waktu yang tidak ideal, dengan kehidupan yang telah berkembang ke arah berbeda, apakah itu indikasi bahwa in-yun mereka tidak cukup kuat? Atau justru konfirmasi bahwa in-yun tidak pernah tentang kebersamaan, melainkan tentang koneksi yang perlu diakui keberadaannya?
Dua Perspektif dalam Memahami In-Yun
1. Perspektif Deterministik: Koneksi sebagai Keniscayaan
Dari sudut pandang deterministik, semua pertemuan dan interaksi dalam hidup kita adalah bagian dari rangkaian yang telah ditentukan. Dalam konteks film, dua karakter yang memiliki in-yun mendalam akan terus terhubung terlepas dari jarak dan waktu.
Perspektif ini didukung oleh fakta bahwa koneksi tertentu dalam hidup kita tampak bertahan melampaui logika. Ada orang-orang yang tetap signifikan dalam ingatan kita meskipun hubungan tersebut telah berakhir bertahun-tahun lalu. Ada pertemuan yang terasa terlalu meaningful untuk disebut kebetulan semata. Dari lensa ini, in-yun adalah kekuatan yang memastikan bahwa koneksi-koneksi penting dalam hidup kita akan selalu menemukan cara untuk diakui, bahkan jika tidak dalam bentuk kebersamaan permanen.
- Perspektif Eksistensialis: Pilihan sebagai Penentu Akhir
Namun, film ini juga dapat dibaca sebagai afirmasi terhadap agency manusia. Meskipun koneksi mungkin ada, pada akhirnya individulah yang menentukan apa yang akan dilakukan dengan koneksi tersebut.
Beberapa keputusan krusial dalam film dibuat berdasarkan pilihan sadar, bukan karena takdir yang tak terelakkan. Pemisahan terjadi karena seseorang memilih untuk melepaskan, bukan karena universe memaksanya. Komitmen terhadap pasangan yang ada dipilih berdasarkan kompatibilitas dan kehidupan yang telah dibangun bersama, bukan semata karena in-yun. Dari perspektif ini, in-yun mungkin membuka kemungkinan pertemuan, tetapi tindakan dan pilihan manusialah yang membentuk hasil akhirnya. Koneksi hanya bermakna sejauh kita memutuskan untuk memberinya makna.
In-yun dapat memfasilitasi pertemuan, tetapi individu yang menentukan bagaimana merespons pertemuan tersebut. Takdir mungkin membuka pintu, tetapi kita yang memutuskan apakah akan melangkah masuk atau tidak.
Film ini menunjukkan bahwa memiliki koneksi mendalam dengan seseorang tidak secara otomatis berarti harus bersama dengan orang tersebut. In-yun adalah pengakuan terhadap signifikansi koneksi, bukan arahan untuk bertindak dengan cara tertentu. Ini adalah perbedaan yang subtle namun fundamental. Past Lives tidak menawarkan closure yang rapi atau jawaban yang memuaskan. Film ini hanya menyajikan realitas bahwa hidup itu kompleks, dan itu adalah sesuatu yang perlu kita terima.
Setelah menonton Past Lives, penonton mungkin meninggalkan bioskop dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Apakah keputusan yang dibuat dalam film adalah yang "benar"?
Pada akhirnya, Past Lives adalah film tentang acceptance. Tentang menerima bahwa beberapa koneksi dalam hidup kita akan tetap tidak terselesaikan, dan hal itu tidak mengurangi signifikansinya. Tentang menerima bahwa orang tertentu akan selalu memiliki tempat dalam ingatan kita, meskipun mereka tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tentang menerima bahwa terkadang, bentuk cinta yang paling dewasa adalah membiarkan seseorang pergi, bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita cukup peduli untuk tidak memaksakan koneksi tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat ia wujudkan.
In-yun mengajarkan bahwa kita membawa semua orang yang pernah penting bagi kita, dalam 8.000 lapisan, dalam 8.000 kehidupan, bahkan ketika kita harus berjalan ke arah yang berbeda. Karena pada akhirnya, in-yun bukan tentang bersama atau berpisah. In-yun adalah tentang pengakuan: "Kamu pernah ada di sini. Kamu mengubah sesuatu dalam diriku. Dan aku akan membawa itu selamanya."
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar