Modal Asing Rp125,1 Triliun Mengalir Keluar RI di 2025, Investor Banyak Jual SRBI


nurulamin.pro, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran dana asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp125,1 triliun selama tahun 2025. Angka ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana terjadi aliran masuk dana asing sebesar Rp212,32 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu tersebut, terjadi pembelian neto di instrumen Surat Berharga Negara (SBN), tetapi lebih banyak penjualan neto di instrumen saham maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 31 Desember 2025, nonresiden tercatat menjual neto sebesar Rp17,00 triliun di pasar saham dan Rp110,11 triliun di SRBI, serta membeli neto sebesar Rp2,01 triliun di pasar SBN," jelas Denny dalam keterangannya.

Bandingkan dengan situasi pada 2024, di mana BI mencatat aliran dana asing sebesar Rp212,32 triliun. Pada saat itu, terdapat beli neto sebesar Rp15,74 triliun di pasar saham, Rp34,59 triliun di pasar SBN, dan Rp161,99 triliun di SRBI.

Artinya, kondisi pasar keuangan pada 2025 berbeda secara signifikan dibandingkan 2024, khususnya dari sudut pandang investor asing. Jika pada 2024 lebih banyak modal asing yang masuk (Rp212,32 triliun), maka pada 2025 justru lebih banyak yang keluar (Rp125,1 triliun).

Pada pekan terakhir tahun 2025, yaitu 29—31 Desember 2025, investor asing tercatat membeli neto sebesar Rp2,43 triliun. Perinciannya, ada beli neto sebesar Rp1,23 triliun di pasar saham dan Rp1,66 triliun di pasar SBN; sementara itu, terjadi jual neto sebesar Rp0,46 triliun di SRBI.

Dari segi indikator risiko kredit, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun tercatat di angka 67,78 basis poin (bps) per 1 Januari 2026, turun dari 69,95 bps pada 26 Desember 2025. Hal ini menunjukkan sedikit penurunan risiko kredit terhadap pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, tingkat imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun stabil di 6,04% pada Jumat (2/1/2026), dari level 6,05% pada Rabu (31/12/2025). Sebagai perbandingan, imbal hasil UST (US Treasury) Note 10 tahun berada di level 4,167% pada Rabu (31/12/2026).

Nilai tukar rupiah juga tercatat melemah pada awal pekan ini. Pada Jumat (2/1/2026), rupiah dibuka di posisi Rp16.680 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi Rp16.670 per dolar AS pada penutupan Rabu (31/12/2025).

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," tutup Denny.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan