
nurulamin.pro, MANOKWARI -Kawasan ikonik Gunung Botak di Kabupaten Manokwari Selatan mendadak menjadi pusat ketegangan setelah ratusan sopir Hilux memutuskan untuk mematikan mesin mereka sejak Minggu (11/1/2026).
Aksi mogok massal yang direncanakan berlangsung hingga Selasa depan ini merupakan bentuk protes keras terhadap masuknya travel TransNusa di rute Manokwari–Teluk Bintuni, Papua Barat.
Bagi para sopir, kehadiran moda transportasi korporasi ini bukan sekadar persaingan bisnis, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup yang telah mereka rajut selama tiga dekade.
Para sopir bakal terancam mata pencahariannya setelah Pemerintah diduga mengizinkan masuknya travel tersebut.
Januarius Sufi, salah satu warga pengguna moda transportasi darat jalur Bintuni, mengaku hari ini kesulitan mendapat kendaraan ke Bintuni.
"Saya dari Tambrauw mau ke Bintuni antar mas kawin kaka perempuan, tapi susah sekali dapat tumpangan mobil jalur Bintuni-Manokwari," kata Januarius.
Ketua komunitas Hilux Jalur Manokwari-Bintuni, Nofti Tapilatu, membenarkan adanya mogok.
"Kami melakukan ini karena diduga pemerintah mengizinkan travel yang beroperasi di Manokwari-Bintuni," kata Nofti.
Supir Hilux Menolak: Kami sudah 30 tahun di jalur ini
Seluruh sopir Hilux saat ini sedang berkumpul di kawasan Gunung Botak, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.
Nofti mengatakan aksi ini bertujuan menolak kehadiran travel di jalur Bintuni-Manokwari.
"Kami tolak kehadiran travel Transnusa di jalur ini. 30 tahun kami beroperasi di jalur ini telah memberikan sumber penghidupan bagi ratusan warga lokal," kata Nofti.
Dia mengaku persoalan ini sebelumnya telah dibawa ke DPR Kabupaten Teluk Bintuni dan juga Bupati Teluk Bintuni.
Hanya saja tak ada tindakan dari para pengambil kebijakan hingga kabar yang mereka dengar travel Transnusa akan launching pada Senin (12/1/2026).
"Kami sudah bawa masalah ini ke Bupati Teluk Bintuni dan DPR, namun nyatanya travel akan melakukan launching besok Senin," ujarnya.
"Perusahaan Travel Rusak 'Piring Makan' Kami"
Samuel Serok, salah satu sopir Hilux Jalur Bintuni-Manokwari mengatakan, 30 tahun dia dan teman-temannya sopir melayani masyarakat sejak Bintuni masih jadi distrik hingga dimekarkan sebagai kabupaten, tak ada transportasi semacam travel masuk.
"30 tahun kami melayani warga sejak zaman masih distrik, jalan masih berlumpur, hingga saat ini jalan sudah mulus baru ada perusahaan transportasi yang masuk merusak piring makan kami," kata Samuel.
Samuel secara tegas menolak travel Transnusa masuk di jalur Bintuni-Manokwari.
Di sisi lain, dia juga mendesak pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi agar memperhatikan masalah ini.
"Kami minta perhatian pemerintah sebab hal ini bukan masalah satu atau dua orang, tetapi kepentingan banyak orang," kata Samuel.
Sekitar 300 lebih sopir Hilux khusus jalur Bintuni-Manokwari telah menggantung hidup dan menghidupi keluarga.
Kini mereka terancam dengan kehadiran Travel TransNusa di kawasan itu. (*)
Berita ini dioptimasi dari kompas.com
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar