Multifinance Tetap Konservatif, CNAF Targetkan Dana Rp9,6 Triliun


nurulamin.pro.CO.ID -
JAKARTA

Kondisi ekonomi yang masih memprihatinkan, khususnya lesunya daya beli masyarakat, diperkirakan akan terus memengaruhi kinerja industri multifinance sepanjang tahun 2026. Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan pembiayaan memilih untuk mengambil strategi yang lebih konservatif dalam menjalankan bisnisnya.

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), Ristiawan Suherman, menyatakan bahwa pasar otomotif, khususnya segmen mobil penumpang, belum menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya pada tahun ini. Situasi ini membuat perusahaan semakin hati-hati dalam menetapkan target pertumbuhan.

CNAF menargetkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp 9,6 triliun sepanjang 2026. Angka ini hanya sedikit meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 9,5 triliun. Meskipun demikian, CNAF tetap berupaya keras untuk mempertahankan kinerja bisnisnya di tengah kondisi pasar yang tidak menjanjikan.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh CNAF adalah diversifikasi produk. Perusahaan mulai mengembangkan berbagai jenis pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Salah satunya adalah pembiayaan emas. Selain itu, CNAF juga fokus pada pembiayaan komersial dan pembiayaan haji.

“Kami berharap produk-produk tersebut dapat berkontribusi lebih dari 10% terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan,” ujar Ristiawan pada Jumat (2/1/2026).

Meski memiliki strategi yang lebih agresif dalam mengembangkan produk baru, CNAF tetap berharap bahwa daya beli masyarakat akan segera membaik. Upaya-upaya pemerintah dalam mendorong perputaran ekonomi diharapkan bisa membantu mempercepat pemulihan pasar. Dengan begitu, kondisi pasar diharapkan dapat kembali stabil dan memberi ruang bagi pertumbuhan bisnis yang lebih baik.

Selain CNAF, PT Adira Dinamika Multi Finance juga mengambil sikap kehati-hatian dalam menjalankan bisnisnya. Perusahaan ini menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan portofolio pembiayaan yang sehat dan seimbang. Prinsip kehati-hatian serta kualitas aset menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan bisnis.

Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menjelaskan bahwa strategi ini diperlukan agar pertumbuhan yang dicapai dapat berkelanjutan di tengah tantangan industri multifinance. Menurut Gani, meskipun penurunan suku bunga berpotensi mendorong pertumbuhan pembiayaan pada 2026, penyaluran pembiayaan tetap akan dilakukan secara selektif dan terukur.

“Secara umum, perusahaan berharap kinerja pembiayaan baru pada 2026 dapat terus membaik seiring prospek ekonomi yang lebih baik dan meningkatnya aktivitas usaha,” kata Gani.

Dalam situasi yang tidak pasti, para pelaku industri multifinance terus beradaptasi dengan berbagai strategi yang mereka miliki. Diversifikasi produk, pengendalian risiko, dan peningkatan kualitas layanan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas bisnis. Dengan pendekatan yang lebih bijak, perusahaan berharap bisa bertahan dan bahkan berkembang di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan