
Sistem Perputaran Waktu dan Makna Pergantian Tahun dalam Perspektif Islam
Waktu terus bergerak, dan umur manusia terus berkurang. Ini adalah sistem paten yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia yang diberi kesempatan untuk hidup di dunia. Pergantian waktu semakin cepat, dan mengikis umur setiap individu. Dalam kehidupan manusia, perputaran waktu selalu mengikuti poros yang berdampingan dengan aturan dan konsekuensi. Pasalnya, waktu yang diberikan pasti akan dipertanggung jawabkan ketika seseorang meninggal dan kembali kepada Allah.
Dalam konteks agama Islam, sholat menjadi salah satu amal yang dihitung pada hari perhitungan kelak. Sholat dibagi sesuai dengan hukum asalnya, yakni wajib dan sunnah. Selain shalat lima waktu, salah satu shalat yang termasuk dalam golongan fardhu' ain adalah shalat Jumat. Shalat Jumat menjadi wajib bagi para kaum laki-laki. Salah satu rukun yang harus dikerjakan adalah berkhutbah yang disampaikan oleh sang khatib. Dalam penerapannya, berkhutbah bisa mengangkat berbagai tema dan topik.
Dalam khutbah pertama, penulis menyampaikan pesan-pesan penting tentang makna pergantian tahun dalam kalender masehi. Khutbah ini menekankan bahwa pergantian hari, bulan, dan tahun adalah sunnatullah yang sarat makna bagi kita. Allah SWT mengabadikan pentingnya waktu melalui representasi surat Al-‘Ashr. Sunnatullah ini juga diindikasikan dalam firman Allah surat Ar-Ra’d ayat 2:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.”
Khutbah ini juga menyentil kita yang masih bergeming tidak menyadari kebesaran Sang Khaliq. Allah SWT mengingatkan kita melalui berbagai fenomena alam seperti banjir, longsor, gempa, dan bencana lainnya yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Peristiwa ini bukan sekadar berita, tetapi bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita sikapi dengan iman, ilmu, dan amal.
Makna Musibah dan Akhir Tahun dalam Perspektif Muslim
Di akhir tahun ini, kita dihadapkan pada berbagai peristiwa bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah daerah lainnya. Peristiwa tersebut bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita sikapi dengan iman, ilmu, dan amal. Ada beberapa hal penting yang perlu kita garis bawahi dalam memaknai akhir tahun dan musibah ini sebagai seorang Muslim, yaitu:
-
Musibah mengajarkan muhasabah
Muhasabah adalah evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Allah SWT berfirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura [42]: 30). Ayat ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah, evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Seorang Muslim tidak boleh hanya menyalahkan keadaan, tetapi harus bertanya: sejauh mana iman, syukur, dan sabar telah kita jalankan. -
Musibah menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Musibah yang menimpa sebagian masyarakat adalah panggilan bagi yang lain untuk hadir membantu. Kepedulian terhadap korban bencana, baik melalui doa, infak, tenaga, maupun dukungan moral, adalah wujud nyata dari iman dan akhlak Islam. -
Musibah dan akhir tahun mendorong mujahadah dan perencanaan hidup
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18). Ayat ini menegaskan bahwa muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. -
Musibah mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan nasib berputar
Bencana mengajarkan kepada kita bahwa hidup di dunia tidak abadi. Umur bertambah berarti jarak dengan kematian semakin dekat. Allah SWT berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 140). Musibah menyadarkan kita bahwa dunia tidak kekal. Keselamatan dan kelapangan hidup bisa berubah kapan saja.
Khutbah Kedua: Doa dan Harapan untuk Umat Muslim
Khutbah kedua menyampaikan doa-doa dan harapan untuk umat Muslim. Dalam khutbah ini, penulis memohon kepada Allah SWT agar memberikan perlindungan, kekuatan, dan keberkahan bagi umat Islam. Doa-doa ini mencakup permohonan agar Islam dan umat Muslim dikuatkan, serta musuh-musuh Islam dikalahkan. Penulis juga memohon agar bencana, wabah, gempa, dan berbagai bentuk ujian lainnya dijauhkan dari negeri Indonesia dan seluruh dunia.
Penulis juga memohon kepada Allah SWT agar memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, serta melindungi kita dari azab neraka. Dalam khutbah ini, penulis mengingatkan bahwa Allah SWT memerintahkan keadilan, kebaikan, dan memberi hak kepada kerabat dekat, serta melarang perbuatan buruk, munkar, dan kezaliman. Penulis juga menyeru kepada seluruh umat Muslim untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada Allah SWT, karena ingatan terhadap-Nya akan membuat kita diingat oleh-Nya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar