Natal Kristus: Jemaat GPM Porto Jadi Pembawa Damai

Natal Kristus: Jemaat GPM Porto Jadi Pembawa Damai

Perayaan Natal di Gereja Irene, Menyampaikan Pesan Damai dan Pengampunan

Ratusan jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Porto Klasis Pulau-pulau Lease, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, menghadiri Perayaan Natal Kristus di Gereja Irene, Kamis (25/12/2025). Perayaan tahun ini mengusung tema “Natal Kristus Menghadirkan Damai Sejahtera Bagi Semua.” Ibadah dipimpin oleh Pendeta Nyong Aponno, dengan pembacaan Alkitab dari Yesaya 9:1–6 dan Lukas 2:1–7.

Suasana Natal terasa sejak awal ibadah, ditandai dengan lantunan lagu damai sejahtera serta jemaat yang saling berjabat tangan di dalam gereja. Pantauan menunjukkan bahwa orang tua hingga anak-anak tampak memadati ruang ibadah. Sejumlah keluarga juga terlihat mengenakan pakaian seragam lengkap dengan atribut Natal.

Dalam perayaan tersebut, dua lagu pujian dipersembahkan oleh seorang solois dan kwartet anak-anak, menambah kekhidmatan perayaan Natal. Melalui khotbahnya, Pendeta Nyong Aponno mengajak jemaat untuk memaknai Natal sebagai momentum saling mengampuni dan berdamai. Ia menekankan pentingnya pengampunan dalam membentuk karakter dan kehidupan bersama.

“Marah boleh, tetapi jangan sampai matahari terbenam. Perubahan karakter yang terbaik dimulai dengan mengampuni,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan bahwa ibadah sejati diwujudkan melalui sikap mengampuni dan melayani sesama yang membutuhkan.

Menurutnya, gereja yang kuat berawal dari keluarga yang dibangun atas dasar kasih dan perdamaian. “Gereja harus membangun keluarga-keluarga yang kuat. Suami istri harus berdamai, orang tua dan anak hidup rukun, sehingga menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Menutup khotbah, Pendeta Nyong Aponno mengajak jemaat untuk menyambut Natal dengan menjadi pembawa damai bagi sesama. “Siapkan diri kita sebagai pribadi yang telah menerima Raja Damai, menjadi agen perubahan dan pembawa damai,” tegasnya.

Ibadah Natal berlangsung penuh sukacita dengan selingan kelakar ringan dalam khotbah, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami jemaat dengan baik. Setelah khotbah, jemaat diberi kesempatan memberikan persembahan sebagai ungkapan syukur.

Usai ibadah, jemaat saling berjabat tangan dengan para pendeta di depan Gereja Irene. Sebagai informasi, di Kecamatan Saparua saat ini terdapat 24 gereja dan satu masjid sebagai wujud kehidupan antarumat beragama yang harmonis.

Pesan Khotbah yang Mendalam

Pendeta Nyong Aponno menyampaikan pesan-pesan penting dalam khotbahnya. Ia menjelaskan bahwa pengampunan adalah kunci utama dalam menciptakan perdamaian. Dalam kehidupan sehari-hari, marah adalah hal yang wajar, tetapi penting untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai hati. Ia menekankan bahwa pengampunan adalah langkah pertama menuju perubahan yang lebih baik.

Khotbah ini juga menyoroti pentingnya hubungan antar sesama. Ia mengajak jemaat untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, dengan membangun keluarga yang harmonis dan saling mendukung. Hal ini menjadi pondasi bagi kehidupan beragama yang damai dan harmonis.

Selain itu, ia menekankan bahwa gereja memiliki peran penting dalam memperkuat masyarakat. Dengan membangun keluarga-keluarga yang kuat, gereja dapat menjadi tempat yang memberikan dukungan spiritual dan sosial kepada umatnya.

Kehadiran Jemaat yang Lengkap

Pada perayaan Natal kali ini, kehadiran jemaat sangat lengkap. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, semua hadir untuk merayakan Natal bersama. Mereka memakai pakaian seragam dan atribut Natal, mencerminkan antusiasme dan semangat perayaan.

Lagu-lagu pujian yang dinyanyikan oleh anak-anak dan solois menambah suasana yang khidmat dan penuh sukacita. Selain itu, adanya selingan kelakar dalam khotbah membuat pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipahami oleh jemaat.

Kehidupan Beragama yang Harmonis

Di Kecamatan Saparua, kehidupan antarumat beragama terlihat sangat harmonis. Terdapat 24 gereja dan satu masjid, yang menjadi bukti bahwa masyarakat di sini mampu hidup berdampingan dengan damai. Hal ini mencerminkan kerukunan dan toleransi yang tinggi antara umat beragama.

Perayaan Natal di Gereja Irene menjadi salah satu contoh nyata dari keharmonisan tersebut. Dengan pesan-pesan damai dan pengampunan yang disampaikan, perayaan ini tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat persatuan dan perdamaian di tengah masyarakat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan