
Peningkatan Okupansi Hotel di Bali Selama Nataru 2025/2026
Tingkat hunian atau okupansi kamar hotel di Bali selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 5–10 persen. Perkiraan ini disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace). Meski ada peningkatan, beberapa tantangan seperti cuaca ekstrem dan melemahnya pasar domestik tetap menjadi isu utama yang perlu diperhatikan.
“Perkiraan meningkat antara 5–10 persen di akhir tahun ini. Awal bulan ini masih masuk low season. Nanti di minggu ketiga baru mulai kelihatan pergerakannya,” kata Cok Ace, Senin 8 Desember 2025. Ia menjelaskan bahwa saat ini angka okupansi hotel anggota PHRI sangat bervariasi, berada pada kisaran 40 hingga 60 persen, tergantung lokasi dan segmen pasar.
Menurutnya, pasar wisatawan domestik masih rendah akibat kendala penerbangan dan cuaca. Pasca Pandemi Covid-19, penerbangan domestik belum sepenuhnya beroperasi dan harga tiket masih tinggi. “Satu faktor penerbangan yang agak kesulitan. Kedua sekali lagi faktor cuaca,” katanya.
Sementara itu, wisatawan mancanegara (wisman) menunjukkan tren peningkatan. “Yang dulu sebelum Covid angkanya 18 ribu per hari, sekarang sedang di atas 20 ribu. Sejujurnya sudah meningkat,” ujarnya. Namun, persoalannya tidak banyak wisman yang menginap di hotel. Mereka, kata Cok Ace, kini banyak menyasar penginapan kecil seperti homestay, vila hingga kost elit. Bahkan akomodasi tersebut banyak yang tidak memiliki izin sehingga tidak ada pajak yang disetorkan ke daerah.
Kondisi ini menjadi paradoks dimana kunjungan wisatawan meningkat, namun okupansi hotel justru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. “Data BPS melihat, turun dia. Dari tahun lalu rata-rata 68 persen, sekarang di bawah 60 persen,” katanya.
Persiapan Hotel-Hotel di Bali untuk Perayaan Nataru
Sebagai perayaan akhir tahun, hotel-hotel di Bali telah mempersiapkan berbagai program dan fasilitas tambahan. Seperti acara Old and New yang menjadi acara tambahan ketika menyambut tahun baru. Termasuk tema dan dekorasi Natal juga mulai disiapkan sebagai rutinitas tahunan.
Untuk kesiapsiagaan bencana selama musim hujan, sejumlah hotel telah bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk sertifikasi dan pelatihan. “Kita terus berupaya dan kita terus update,” ungkapnya.
Persiapan Transportasi Laut Selama Nataru
Sementara itu, sebanyak 55 armada kapal disiagakan selama momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di lintas Ketapang-Gilimanuk. Salah satu lintasan transportasi laut tersibuk di Indonesia ini diprediksi bakal mengalami lonjakan beberapa hari sebelum momen tersebut.
ASDP Pelabuhan Gilimanuk juga menyiapkan skema pola operasional kapal dari normal, padat hingga sangat padat. Maksimal, ada 32 kapal yang dioperasikan ketika diterapkan operasional sangat padat. Sebelumnya, ASDP Pelabuhan Gilimanuk memprediksi aktivitas penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk bakal meningkat di momen akhir tahun ini. Mulai dari kenaikan jumlah penumpang atau pengguna jasa sebesar 7 persen, kemudian kendaraan roda dua hingga truk.
Manajer Usaha ASDP Pelabuhan Gilimanuk, Didi Juliansyah menegaskan, pihaknya telah menyiagakan puluhan armada untuk melayani pengguna jasa selama periode sibuk ini. Seperti sebelumnya, juga menyiapkan skema operasional normal, padat dan sangat padat. “Serangkaian momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mendatang, kami telah menyiagakan total 55 kapal yang siap beroperasi melayani penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk,” ujar Didi saat dikonfirmasi, Senin 8 Desember 2025.
Ia menyebutkan, jika skema normal 28 armada beroperasi dan maksimal 32 armada ketika diterapkan skema sangat padat. Selain kesiapan armada kapal, kata dia, ASDP Gilimanuk juga memberikan perhatian khusus pada kenyamanan pengguna kendaraan roda dua. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya di mana antrean sepeda motor bisa memanjang, pihak ASDP menyiapkan fasilitas tambahan di area tunggu.
“Kami menyiapkan tenda khusus di areal tunggu (buffer zone) untuk sepeda motor. Ini agar pengguna jasa merasa lebih nyaman dan terlindungi, baik dari terik matahari maupun hujan saat menunggu giliran masuk ke kapal,” tambah Didi.
Pengawasan Cuaca dan Keselamatan Selama Musim Hujan
Terkait adanya prediksi ancaman potensi bencana hidrometeorologi pada akhir tahun 2025 hingga Februari 2026 mendatang, aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Apalagi belakangan ini sempat terjadi penundaan pelayaran dan peristiwa kapal kandas dampak dari cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang lebihi batas normal.
Dia mengakui, untuk memantau perkembangan kondisi cuaca secara real time pihaknya berkomunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kemudian juga menggandeng Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sebagai langkah antisipasi tanggap darurat jika terjadi dampak dari kondisi cuaca buruk yang terjadi di Selat Bali saat momen tersebut.
“Kemudian juga mengerahkan petugas internal ASDP yang didukung penuh oleh pengamanan dari kepolisian (Polri) untuk menjaga kondusivitas di area pelabuhan serta lalu lintas nantinya,” tandasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar