Netanyahu Minta Maaf ke Presiden Israel, Ini Fakta Pentingnya

Perkembangan Terbaru dalam Kasus Korupsi Netanyahu

Sidang kasus korupsi yang melibatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, masih terus berlangsung. Pada hari Minggu (30/11/2025), Netanyahu secara resmi meminta pengampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, atas tuduhan korupsi yang menimpanya. Diketahui bahwa Netanyahu sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari sekutu dekatnya, yaitu mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sering kali menyuarakan pengampunan.

Namun, Herzog menolak untuk memberikan pengampunan tanpa syarat dan menyatakan bahwa tindakan Netanyahu menimbulkan kekhawatiran. Pertanyaannya adalah, apakah Netanyahu harus mengakui kesalahannya terlebih dahulu?

Menurut laporan dari Al Jazeera pada Senin (1/12/2025), pemimpin oposisi Yair Lapid mengatakan bahwa Netanyahu tidak dapat diberikan pengampunan tanpa adanya pengakuan bersalah, pernyataan penyesalan, dan pensiun dari kehidupan politik. Namun, seorang peneliti di Institut Demokrasi Israel, Dana Blander, menilai bahwa secara hukum, pengakuan bersalah bukanlah suatu keharusan.

Permohonan pengampunan tersebut pertama-tama akan ditinjau oleh departemen pengampunan Kementerian Kehakiman, yang kemudian akan mengirimkan pendapatnya ke kantor Herzog. Meskipun presiden biasanya mengikuti rekomendasi kementerian, ia tidak wajib melakukan hal itu.

Tuduhan yang Dihadapi Netanyahu

Menurut laporan dari New York Times, Netanyahu menghadapi dakwaan kasus penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus terpisah yang terkait.

Pada kasus pertama, ia disebut menerima hadiah hampir 300.000 dollar AS, termasuk cerutu dan sampanye dalam rentang waktu 2007-2016 dari produser Hollywood Arnon Milchan dan miliarder Australia James Packer. Sebagai imbalan, Netanyahu menekan Kementerian Keuangan Israel untuk menggandakan durasi pengecualian pajak bagi warga negara Israel ekspatriat, seperti Milchan, setelah mereka kembali dari luar negeri.

Netanyahu juga didakwa melobi Pemerintah AS untuk membantu Milchan memperbarui visa Amerika dan membantu kesepakatan merger yang melibatkan saluran televisi Milchan.

Pada kasus kedua, Netanyahu dituduh membahas quid pro quo pada 2014 dengan Arnon Mozes, penerbit Yediot Aharonot, salah satu surat kabar terkemuka di Israel. Kesepakatan yang dibuat adalah liputan positif tentang Netanyahu. Imbalannya, Netanyahu dituduh setuju untuk mempertimbangkan pengesahan undang-undang yang akan mengekang kekuatan Israel Hayom, surat kabar saingannya.

Pada kasus ketiga, seorang raja telekomunikasi, Shaul Elovitch dan istrinya dituduh memberi bantuan kepada Netanyahu dan keluarganya demi melindungi bisnisnya. Elovitch dituduh berulang kali mengizinkan Netanyahu dan keluarganya untuk membentuk liputan situs berita miliknya, Walla. Sebagai imbalan, ia berharap PM Israel itu tidak akan melakukan apa pun yang bisa mengganggu berbagai kepentingan bisnisnya.

Kapan Kasus Ini Muncul?

Aktivitas Netanyahu sebenarnya mulai diselidiki pada 2016. Namun, polisi baru merekomendasikan adanya indikasi hukum pada Februari 2018. Dakwaan pertama dan persidangan dimulai pada Mei 2020. Ia mengaku tidak bersalah pada Februari 2021, dan kemudian menyampaikan pidato berapi-api yang mengecam kasus tersebut.

Sejak saat itu, Pengadilan Distrik Yerusalem telah memeriksa lebih dari 300 saksi. Proses persidangan telah dihentikan beberapa kali, karena pembatasan terkait virus corona pada 2020 dan perang di Gaza pada 2023. Pada akhir 2024, Netanyahu akhirnya mulai bersaksi sebagai terdakwa, pertama kalinya bagi seorang perdana menteri yang sedang menjabat. Demi alasan keamanan, sidang digelar di sebuah bunker bawah tanah di Tel Aviv.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Belum jelas apakah Herzog akan mengampuni Netanyahu sebelum dinyatakan bersalah. Namun, pengadilan kemungkinan masih akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai putusan. Jika terbukti bersalah, Netanyahu dapat dijatuhi hukuman beberapa tahun penjara.

Sekutu Netanyahu mengatakan, pengampunan Herzog akan mengakhiri perpecahan politik selama bertahun-tahun atas kasusnya. Sementara, para pengkritiknya menilai hal itu akan bertentangan dengan supremasi hukum, kecuali Netanyahu mengakui kesalahannya dan sepenuhnya meninggalkan dunia politik.

Pengaruh bagi Israel

Kasus ini telah menyebabkan kekacauan politik selama bertahun-tahun. Hal ini mendorong beberapa sekutu dan pendukung Netanyahu untuk meninggalkannya, sebuah eksodus yang membuat negara itu terpecah belah antara pendukung dan pengkritiknya. Perpecahan ini menyulitkan kedua belah pihak untuk membentuk mayoritas yang stabil di Parlemen.

Setelah kehilangan kekuasaan pada tahun 2021, Netanyahu membentuk aliansi dengan partai-partai sayap kanan yang sebelumnya berada di pinggiran politik Israel. Blok tersebut memenangkan mayoritas yang rapuh pada 2022 dan membawa kelompok garis keras ke pusat pemerintahan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan