Netanyahu Tidak Menyerah Meski Terlibat Kasus Korupsi

Peran Presiden Israel dalam Persidangan Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat ini sedang menantikan keputusan dari Presiden Israel, Isaac Herzog, terkait permohonan pengampunan yang diajukannya. Permohonan ini diharapkan dapat membantu Netanyahu menghindari tuntutan hukum terkait dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Namun, beberapa pemimpin oposisi Israel menolak pemberian pengampunan tersebut kecuali jika Netanyahu bersedia meninggalkan dunia politik.

Dalam sebuah wawancara dengan media pada hari Minggu (7/12/2025), seorang reporter bertanya apakah Netanyahu akan mengakhiri karier politiknya jika mendapatkan pengampunan. Netanyahu hanya menjawab singkat "Tidak" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa dia masih ingin tetap berada di posisi kepemimpinan meskipun tengah menghadapi proses hukum.

Di Israel, pengampunan biasanya diberikan setelah proses hukum selesai dan terdakwa telah dihukum. Tidak ada preceden untuk memberikan pengampunan selama persidangan berlangsung. Saat ini, Netanyahu masih menjalani persidangan dalam tiga kasus dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang menjeratnya.

Penolakan Oposisi terhadap Pengampunan

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, ketua Partai Yesh Atid, menyatakan penolakannya terhadap pemberian pengampunan kepada Netanyahu. Ia meminta Herzog tidak memberikan pengampunan kecuali Netanyahu bersedia mengakui kesalahannya, menunjukkan penyesalan, dan mundur dari kehidupan politik.

Yair Golan, pemimpin oposisi lain dari Partai Demokrat, juga menentang pemberian pengampunan. Menurutnya, hanya orang yang bersalah yang meminta pengampunan. Ia menilai bahwa permintaan pengampunan dari Netanyahu tidak layak karena kasus-kasusnya belum selesai.

Golan menegaskan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai persatuan nasional adalah dengan membuat Netanyahu bertanggung jawab, mengakui kesalahannya, dan meninggalkan politik.

Permohonan Pengampunan dari Netanyahu

Pada 30 November 2025, Netanyahu mengumumkan bahwa dia telah mengajukan permintaan pengampunan kepada Presiden Herzog. Menurutnya, kasus-kasus dugaan korupsi yang sudah lama membelitnya telah memecah belah negara. Dalam pernyataannya, Herzog menyatakan bahwa ia akan mempertimbangkan kepentingan terbaik Israel dan masyarakat.

Beberapa waktu sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga mengirim surat kepada Herzog. Dalam surat tersebut, Trump meminta Herzog untuk mempertimbangkan pemberian pengampunan kepada Netanyahu. Ia memuji kepemimpinan Netanyahu saat Israel menghadapi perang dan menilai bahwa proses peradilan terhadap Netanyahu memiliki motif politik.

Trump menyatakan bahwa ia sangat menghormati independensi sistem peradilan Israel, tetapi yakin bahwa kasus terhadap Netanyahu adalah penuntutan yang tidak beralasan. Meskipun demikian, Herzog disebut sangat menghormati Trump dan menyampaikan apresiasi atas dukungan teguhnya untuk Israel.

Kasus Korupsi yang Menjerat Netanyahu

Ada tiga kasus dugaan korupsi yang menjerat Netanyahu dan istrinya, Sara. Pada kasus pertama, mereka dituduh menerima hadiah mewah senilai 260 ribu dolar AS dari dua pebisnis besar, Arnon Milchan dan James Packer. Sebagai imbalan, Netanyahu diduga memberikan bantuan regulasi dan diplomatik untuk kepentingan bisnis Milchan.

Kasus kedua melibatkan negosiasi rahasia antara Netanyahu dan Arnon Mozes, pemilik surat kabar Yedioth Ahronoth. Netanyahu disebut ingin mendapatkan peliputan positif di surat kabar tersebut, dan sebagai imbalannya, ia akan mendukung undang-undang yang membatasi distribusi surat kabar pesaing.

Kasus ketiga terjadi saat Netanyahu menjabat sebagai menteri komunikasi Israel (2014–2017). Ia diduga menerbitkan regulasi menguntungkan senilai ratusan juta dolar AS kepada Bezeq, perusahaan telekomunikasi milik Shaul Elovitch. Dalam pertukaran, situs berita milik Bezeq, Walla, diminta menayangkan peliputan positif terhadap Netanyahu dan keluarganya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan