
Penangkapan Presiden Venezuela dan Dakwaan Federal AS
Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penuntutan federal terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, istrinya Cilia Flores, serta empat tokoh lainnya. Mereka dituduh melakukan konspirasi narko-terorisme. Pengumuman ini dilakukan pada hari Minggu (4/1/2026) dini hari WIB, setelah Maduro dan sang istri ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat di wilayah Venezuela.
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, menyatakan bahwa dakwaan tersebut diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat di Manhattan. Selain Maduro dan Flores, jaksa juga menuntut putra Maduro, Nicolas Ernesto Maduro Guerra, serta Diosdado Cabello Rondon, Ramon Rodriguez Chachin, dan Hector Rusthenford Guerrero Flores.
Dalam dokumen yang dipublikasikan secara daring, disebutkan bahwa selama lebih dari 25 tahun, para pemimpin Venezuela telah menyalahgunakan kepercayaan publik dan merusak institusi negara untuk memasukkan berton-ton kokain ke Amerika Serikat. Dakwaan ini menuduh Maduro memimpin pemerintahan yang dianggap korup dan tidak sah, serta menggunakan kekuasaan negara untuk melindungi dan memfasilitasi aktivitas ilegal, termasuk perdagangan narkotika lintas negara.
“Perdagangan narkoba tersebut telah memperkaya dan mengokohkan elite politik dan militer Venezuela,” tulis jaksa dalam dokumen tersebut. Jaksa AS juga menyoroti peran Diosdado Cabello Rondon, yang menjabat Menteri Dalam Negeri, Kehakiman, dan Perdamaian, serta Ramon Rodriguez Chachin, mantan menteri bidang yang sama. Keduanya disebut turut menikmati keuntungan dari jaringan perdagangan narkoba tersebut. Sementara itu, Hector Rusthenford Guerrero Flores diidentifikasi sebagai pemimpin kelompok kriminal Venezuela, Tren de Aragua.
Maduro menjabat Presiden Venezuela sejak 2013. Ia sebelumnya merupakan sopir bus yang naik daun dalam lingkar kekuasaan Hugo Chávez dan pernah menjabat Menteri Luar Negeri sebelum menggantikan Chávez setelah wafat.
Namun, selama masa kepemimpinannya, pemerintahan Maduro kerap dinilai otoriter. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2019 memperkirakan lebih dari 20 ribu warga Venezuela tewas akibat eksekusi di luar proses hukum. Selain itu, lembaga peradilan dan supremasi hukum disebut mengalami kemunduran signifikan, sementara hubungan Venezuela dengan Amerika Serikat terus memburuk.
Dalam beberapa bulan terakhir, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyerukan agar Maduro disingkirkan. Trump menuduh Maduro mengirim narkoba dan kriminal ke Amerika Serikat, meski klaim tersebut sebelumnya diragukan sejumlah pakar. Trump juga menuding pemerintahan Maduro mencuri minyak milik AS.
Meski retorika politik kedua negara meningkat dalam beberapa bulan terakhir, penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026), disebut terjadi tanpa peringatan. Otoritas Venezuela pun dinilai tidak siap menghadapi operasi penangkapan yang dilakukan secara terbuka oleh pasukan Amerika Serikat tersebut.***
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar