Presiden Venezuela Ditangkap oleh Pasukan Amerika Serikat
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dilaporkan telah tiba di Negara Bagian New York pada Sabtu, (3/1/2026) malam waktu setempat setelah ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat. Ia kemudian dibawa ke Manhattan untuk menjalani proses hukum atas dakwaan narkoterorisme dan kejahatan senjata yang diajukan pemerintah AS.
Menurut laporan sejumlah media Amerika, pesawat yang membawa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mendarat di Stewart International Airport, sekitar 97 kilometer barat laut New York City, pada pukul 17.38 waktu setempat. Dari lokasi tersebut, Maduro dijadwalkan diterbangkan dengan helikopter menuju Westside Heliport di Manhattan sebelum dibawa ke kantor pusat Badan Pemberantasan Narkoba AS (DEA) untuk proses administrasi penahanan.
Rekaman video yang beredar menunjukkan sejumlah personel Amerika Serikat, termasuk agen FBI, naik ke pesawat tak lama setelah mendarat. Beberapa jaringan televisi nasional mengidentifikasi sosok yang turun dari pesawat sebagai Nicolás Maduro.

Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa Maduro akan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Manhattan pada Senin, (5/1/2026) mendatang. Sambil menunggu persidangan, ia akan ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn. Penjara tersebut dikenal sebagai fasilitas penahanan bagi terdakwa kasus-kasus besar dan tokoh publik.
Maduro didakwa dalam sejumlah perkara, termasuk konspirasi narkoterorisme, penyelundupan kokain, serta kepemilikan dan penggunaan senjata api dan bahan peledak. Sementara itu, Cilia Flores juga menghadapi dakwaan terkait konspirasi impor kokain ke Amerika Serikat.
Di Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengecam penangkapan tersebut dan menyebutnya sebagai penculikan. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Rodríguez menuntut pembebasan Maduro. “Kami menuntut pembebasan segera Presiden Nicolás Maduro dan istrinya. Ia adalah satu-satunya presiden Venezuela,” kata Rodríguez.
Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim pemerintahannya telah berkomunikasi dengan Rodriguez dan menyebut sikapnya kooperatif. “Dia sebenarnya tidak punya pilihan,” ujar Trump.
Sementara itu, situasi di sejumlah kota Venezuela dilaporkan relatif kondusif. Aparat militer terlihat berpatroli di beberapa wilayah Caracas, sementara kelompok kecil pendukung Maduro menggelar aksi protes. Sebagian warga justru menyatakan kelegaan atas peristiwa tersebut.
Dalam konferensi pers yang digelar bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump belum menjelaskan secara rinci bagaimana Amerika Serikat akan terlibat dalam pengelolaan Venezuela pasca-penangkapan Maduro. Namun, ia menyatakan terbuka terhadap opsi pengiriman pasukan AS. “Kami tidak takut menempatkan pasukan di darat,” ujarnya.
Penggulingan Maduro, yang telah berkuasa lebih dari 12 tahun dan kerap dituding memerintah secara otoriter, dinilai berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan di Venezuela. Hingga kini, belum jelas pihak mana yang akan menjadi mitra Amerika Serikat dalam proses transisi politik di negara tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar