Nilai $12 Triliun yang Terabaikan: Pemberdayaan Wanita Bukan Hanya Keadilan, Tapi Strategi Ekonomi G


Surabaya --- Ekonomi modern sering kali diukur melalui angka-angka yang menarik, mulai dari investasi teknologi hingga tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu peran dan kontribusi perempuan dalam bidang ekonomi.

Studi dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa jika wanita diberi kesempatan untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam perekonomian, PDB global dapat meningkat hingga $12 triliun pada tahun 2025. Angka ini menegaskan bahwa pemberdayaan wanita bukan hanya isu sosial atau etika, tetapi strategi ekonomi nyata yang mendorong pertumbuhan, ketahanan, dan inklusivitas bangsa.

Peningkatan ekonomi melalui peran wanita sudah terlihat jelas. Wanita adalah pilar utama dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang menjadi tulang punggung perekonomian di banyak negara, termasuk Indonesia. Kemampuan mereka dalam mengelola usaha mikro terlihat dengan daya tahan yang tinggi, khususnya dalam menghadapi fluktuasi ekonomi. Lalu, apa keunggulan para wirausaha wanita penggerak UMKM ini?

Beberapa keunggulan yang sering kali terlihat adalah ketelitian dan akuntabilitas. Wanita cenderung lebih teliti dalam pengelolaan keuangan mikro dan memiliki tingkat pengembalian pinjaman yang baik. Selain itu, kekuatan jaringan (networking) juga menjadi salah satu faktor penting. Mereka mampu menemukan peluang bisnis di lingkungan lokal serta membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dan pemasok. Tak ketinggalan, ketangguhan diri mereka dalam bangkit setelah mengalami kegagalan dan beradaptasi dengan perubahan pasar.

Namun, potensi besar ini masih terhambat oleh tantangan struktural yang membuat kontribusi wanita tidak tercatat secara maksimal dalam data makroekonomi. Meskipun ada potensi sebesar $12 triliun, pasar kerja dan lingkungan bisnis masih didominasi oleh ketidaksetaraan yang menghambat wanita mencapai tingkat kinerja puncak.

Berikut beberapa tantangan utama:

  • Kesenjangan upah gender (Gender Pay Gap)
    Secara global, kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 20-30%. Di Indonesia, rata-rata upah pekerja laki-laki lebih tinggi dibandingkan pekerja perempuan. Kesenjangan ini bukan hanya disebabkan oleh perbedaan pendidikan atau pengalaman, tetapi juga oleh faktor-faktor diskriminatif yang sulit dijelaskan.

  • 'Glass Ceiling' dan beban ganda
    Meskipun wanita menempati hampir setengah dari tenaga kerja dunia dan mendominasi posisi awal, hanya sekitar 25% yang berhasil mencapai posisi kepemimpinan tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai 'Glass Ceiling', yaitu hambatan tak terlihat yang menghalangi wanita naik ke jenjang eksekutif. Masalah utamanya adalah beban ganda, yakni tanggung jawab terhadap pekerjaan berbayar dan pekerjaan perawatan tak berbayar seperti mengurus rumah tangga dan anak. Beban ini sering membuat wanita terpaksa mengambil cuti, mengurangi jam kerja, atau bahkan keluar dari pasar kerja, sehingga menghambat peluang mereka untuk promosi dan pengalaman kepemimpinan.

Untuk mencapai potensi sebesar $12 triliun, diperlukan intervensi kebijakan tepat dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Berikut solusi-solusi yang dapat diterapkan:

  • Membuka akses finansial dan digital
    Pemerintah dan lembaga keuangan perlu menghilangkan hambatan struktural yang menghalangi akses wanita terhadap modal usaha (kredit) dan program pengembangan. Selain itu, pentingnya peningkatan literasi digital. Pelatihan keterampilan digital dapat membantu wanita bersaing di sektor-sektor berpenghasilan tinggi dan fleksibel.

  • Penegakan kesetaraan di tempat kerja
    Perusahaan harus berkomitmen pada praktik ketenagakerjaan yang adil, termasuk dengan menerapkan kebijakan upah yang setara untuk pekerjaan yang sama. Selain itu, diperlukan kuota gender di dewan direksi dan manajemen senior, serta dukungan infrastruktur seperti fasilitas penitipan anak di kantor atau fleksibilitas jam kerja (hybrid work).

  • Mengatasi beban ganda
    Solusi paling mendasar adalah mengakui dan mendistribusikan ulang tanggung jawab pekerjaan perawatan yang tidak berbayar. Kebijakan seperti cuti ayah berbayar (untuk mendorong partisipasi pria dalam tugas rumah tangga) dan investasi publik dalam layanan penitipan anak yang berkualitas sangat penting untuk membebaskan wanita agar dapat berpartisipasi penuh di pasar kerja.

Pemberdayaan wanita bukan hanya sekadar misi sosial, melainkan motor penggerak ekonomi yang vital. Dengan mengatasi kesenjangan upah, menghapus 'Glass Ceiling' dan mendukung wanita dalam peran ganda mereka, kita tidak hanya bergerak menuju masyarakat yang lebih adil, tetapi juga membuka potensi pertumbuhan ekonomi triliunan dolar yang akan menguntungkan seluruh manusia. Investasi pada wanita adalah investasi paling cerdas untuk masa depan ekonomi global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan