Perjuangan Seorang Mama Muda dalam Kehidupan yang Penuh Tantangan
Di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit, Nunu, seorang mama muda berusia 26 tahun, terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia tinggal bersama suaminya dan tiga orang anaknya di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan. Lingkungan tempat tinggal mereka adalah kawasan padat yang memiliki kondisi permukiman yang memprihatinkan, dengan tumpukan sampah di berbagai sudut dan keterbatasan akses terhadap air bersih.
Pendapatan suami Nunu sebagai buruh bangunan tidak lagi cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, terutama setelah anak pertama mereka mulai masuk sekolah dasar. Hal ini memaksa Nunu untuk ikut bekerja sebagai kuli bangunan. Meski pekerjaan tersebut sangat melelahkan, ia rela melakukannya demi kebutuhan anak-anaknya.
Pekerjaan Berat yang Dilakukan Nunu
Setiap hari, Nunu dan suaminya berangkat bekerja saat hari masih gelap dan hanya pulang ketika matahari hampir tenggelam. Di lokasi proyek, Nunu melakukan berbagai pekerjaan berat seperti mengaduk semen, menyusun batu, dan mengangkat gerobak berisi bahan bangunan. Upah yang diterimanya hanya Rp80 ribu per hari, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ketika tidak ada pekerjaan, Nunu dan suaminya bahkan kesulitan mendapatkan makanan. Suaminya terkadang menjadi tukang parkir demi membeli beras. Nunu mengenang hari-hari paling sulit dalam hidupnya ketika rumah mereka tidak memiliki apa pun untuk dimakan.

Masalah Ekonomi yang Semakin Menghimpit
Meski bekerja keras, upah yang diterima sangat minim. Para perempuan di proyek itu hanya dibayar Rp80 ribu per hari, sementara laki-laki menerima Rp90 ribu. Jumlah tersebut jauh dari cukup, apalagi untuk keluarga dengan tiga anak. Bahkan, ketika tidak mendapat panggilan untuk bekerja sebagai kuli, kondisi ekonomi semakin terhimpit.
Nunu terpaksa meminjam dari rentenir dengan bunga yang cukup besar. Untuk biaya masuk sekolah SD, ia harus utang dan membayar sedikit-sedikit dengan bunganya. “Di rentenir, kemarin saya pinjam 1 juta untuk biaya perlengkapan sekolah, jadi kembali Rp1,5 juta. Saya bayar 150 ribu seminggu,” ujarnya dengan suara bergetar.
Membawa Anak Saat Bekerja
Untuk memastikan anak-anaknya tetap bersama, Nunu terkadang membawa kedua anaknya yang masih balita ke lokasi kerja. Namun, jika mereka belum bangun, Nunu harus menitipkan mereka pada orang tuanya. “Kalau cepat bangun, aku bawa. Kalau tidak, simpan di mamaku,” jelasnya.
Meski sudah berusaha mencari pekerjaan lain, Nunu sering ditolak karena penampilannya dan status pernikahannya. “Tidak diterima, dengan alasan mencari yang single dan belum berkeluarga. Kalau di toko-toko tidak bisa karena tidak ada ijazah. Selain itu penampilan. Sekarang pekerjaan begitu. Jadi pergi kerja buruh saja karena itu yang diterima,” katanya.
Kuli Bangunan sebagai Pilihan Terakhir
Bagi Nunu, menjadi kuli bangunan adalah pilihan terakhir, tetapi saat ini adalah satu-satunya pekerjaan yang menerima dirinya tanpa memandang status dan penampilan fisik. Meskipun hidup dalam kondisi sulit, Nunu tetap menyimpan harapan untuk bisa memberikan makanan bergizi bagi anak-anaknya.
Saat ini, ia menumpang di rumah orang tuanya karena tak mampu membayar kontrakan. Rasa iri hati sempat ada ketika melihat teman-temannya memiliki pekerjaan dengan gaji yang layak. Namun, Nunu tetap bertekad agar anak-anaknya tidak mengalami hal yang sama.
Dengan hanya lulusan SD dan mengalami putus sekolah karena alasan finansial, Nunu ingin anak-anaknya bisa merasakan pendidikan yang lebih baik. Namun, pekerjaan sebagai kuli bangunan sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama di musim hujan.
“Saya biasa kasihan sama diriku, tapi karena demi anak, seorang ibu tidak memikirkan dirinya. Saya harus kuat, sabar, jadi ibu terbaik buat anak-anakku,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar