
JAKARTA, nurulamin.pro – Jakarta sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan ruang hidup.
Pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur membuat sebagian besar lahan di ibu kota beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan gedung-gedung bertingkat.
Masifnya pembangunan tersebut berdampak pada semakin terbatasnya ruang terbuka hijau. Lahan pertanian dan perkebunan yang dulu masih mudah dijumpai kini kian sulit ditemukan di Jakarta.
Hamparan hijau perlahan tergantikan oleh beton, yang dalam jangka panjang berkontribusi pada persoalan lingkungan, termasuk penurunan muka tanah.
Namun, di tengah kepadatan dan dominasi bangunan, aktivitas pertanian sayur masih bertahan di Jakarta Utara. Tepat di samping Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, terbentang lahan pertanian seluas kurang lebih dua hektare yang ditanami berbagai jenis sayuran.
Lahan tersebut telah dipetak-petakkan dan ditanami beragam komoditas hortikultura yang mulai tumbuh subur dan menghijau.
Keberadaan pertanian sayur itu menghadirkan pemandangan kontras dengan megahnya stadion berstandar internasional, menciptakan suasana yang menyerupai pedesaan di tengah hiruk-pikuk kota, meski panas matahari Jakarta Utara tetap terasa menyengat.
Lahan sewa
Lahan seluas kurang lebih dua hektare itu digarap oleh belasan petani yang berasal dari berbagai daerah, seperti Tangerang dan Indramayu, Jawa Barat.
"Ada sekitar 15 orang, petani sini mah masing-masing aja, enggak ada paguyuban," ucap salah satu petani bernama Hendi (30) saat diwawancarai nurulamin.pro di lokasi, Jumat (9/1/2026).
Menurut Hendi, lahan di samping JIS merupakan milik perusahaan swasta yang mengizinkan para petani bercocok tanam selama lahan tersebut belum digunakan untuk pembangunan.
Meski diizinkan menggarap lahan, para petani mengaku tetap harus membayar biaya sewa setiap bulan.
"Ini kan petakan punya saya, sistemnya sewa sama keamanan atau orang sini, bukan sama perusahaan langsung. Saya enggak tahu uang sewanya sampai sana atau enggak kan kita enggak tahu," jelas Hendi.
Rata-rata biaya sewa lahan yang harus dibayar petani berkisar antara Rp 800.000 hingga Rp 1 juta per bulan, tergantung luas lahan yang digunakan. Adapun lahan yang disewa Hendi seluas 2.800 meter persegi dengan biaya Rp 750.000 per bulan.
Ditanami berbagai jenis sayur
Lahan-lahan sewaan tersebut ditanami beragam jenis sayuran hijau, seperti kangkung, bayam, sawi, seledri, dan komoditas lain yang kemudian dijual kepada warga sekitar maupun tengkulak.
Hendi mengatakan, jika penanaman dilakukan secara rutin setiap hari, panen pun dapat dilakukan setiap hari karena masa tumbuh sayuran hijau relatif singkat.
"Dalam sehari bisa jual 30 - 40 ikat tapi campuran ada kemangi, bayam, jualnya ada tengkulaknya," tutur dia.
Petani lain bernama Cariman (28) mengungkapkan, hasil panennya bahkan bisa mencapai 50 ikat sayuran per hari yang langsung dibeli tengkulak.
Ia mengaku bersyukur dapat bertani sayur di Jakarta karena tingginya permintaan pasar membuat hasil panen hampir selalu terserap.
"Kalau di sini kan bisa tiap hari panennya. Kalau di kampung kan jarang. Karena kan tergantung pasarnya, kalau di sini kan ramai, di sana sepi," jelas dia.
Cariman menambahkan, hampir seluruh hasil panennya habis terjual dan jarang sekali tersisa atau terbuang. Menurut dia, semakin rajin petani menanam, semakin besar pula hasil panen yang dapat diperoleh.
Menyejukkan mata
Keberadaan lahan pertanian sayur di samping JIS juga mendapat respons positif dari warga sekitar. Salah satunya Kirai (34), yang menilai lahan hijau tersebut memberikan suasana berbeda di kawasan Tanjung Priok yang dikenal gersang.
"Lumayan banget buat menyejukan mata, kan tahu sendiri Tanjung Priok gersangnya kayak apa. Ya, meski enggak bikin adem kayak pohon gede, setidaknya pemandangannya lebih enak lah," kata Kirai kepada nurulamin.pro di lokasi, Jumat.
Kirai berharap lahan pertanian tersebut dapat dipertahankan dan bahkan menjadi salah satu ikon Jakarta Utara.
Respons serupa disampaikan warga lain, Salsa (27), yang merasa keberadaan pertanian di tengah kota memberikan pengalaman visual yang unik.
"Ya, senang aja ada pertanian di Jakarta Utara, kalau lewat sini jadi beragam. Pertama lewat stadion berskala internasional JIS, terus belok kiri bisa liat lahan pertanian, majuan sedikit perumahan elit," kata Salsa sambil tertawa.
Ia berharap lahan pertanian itu tidak digantikan oleh pembangunan infrastruktur lain yang justru menambah beban kawasan Jakarta Utara.
Lahan milik swasta
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok menjelaskan, lahan pertanian di samping JIS memang merupakan lahan milik pihak swasta.
"Lahan pertanian yang terletak di samping Jakarta International Stadium (JIS) merupakan lahan milik PT Permata Hijau yang saat ini dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Sayur Berkah untuk menanam komoditas hortikultura berupa sayuran daun dan buah," kata Hasudungan dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Menurut Hasudungan, budidaya sayuran tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan sebagian hasilnya dijual sebagai sumber penghasilan petani.
Hingga kini, kata dia, lahan tersebut belum digunakan oleh pengembang sehingga petani diizinkan memanfaatkannya.
Hasudungan juga memastikan para petani yang menggarap lahan tersebut merupakan kelompok binaan Pemerintah Kota Jakarta Utara.
"Kelompok Tani Sayur Berkah yang diketuai oleh Bapak Hakim merupakan salah satu binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Kota Administrasi Jakarta Utara," jelas dia.
Sebagai kelompok binaan, para petani telah menerima berbagai bantuan dari Dinas KPKP untuk mendukung pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming.
Bantuan tersebut meliputi sarana produksi pertanian, seperti benih sayuran daun dan buah, pupuk, media tanam, serta peralatan pertanian seperti cangkul.
Perlu dikembangkan
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho menilai keberadaan pertanian di tengah kota perlu dipertahankan dan dikembangkan.
"Sangat bagus dan perlu dikembangkan di wilayah lain di Jakarta, tidak hanya di Jakarta Utara saja, karena kita tahu bahwa pertanian perkotaan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan di masyarakat," kata Apri saat dihubungi nurulamin.pro, Jumat.
Menurut dia, pertanian perkotaan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga, seperti RT, RW, hingga kelurahan, tanpa terlalu bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Selain memenuhi kebutuhan pangan, pertanian di tengah kota juga berpotensi dikembangkan sebagai ladang bisnis baru. Jika hasil panen telah mencukupi kebutuhan sekitar, kelebihannya dapat dijual untuk menambah pendapatan petani.
Apri menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melakukan pendampingan yang berkelanjutan, bukan sekadar pembinaan jangka pendek.
"Adanya sosialisasi dan pendampingan yang intens termasuk monitoring, sehingga tidak hanya jadi program jangka pendek tetapi bisa menjadi program yang sustain," tutur dia.
Ia juga menyarankan agar pemerintah mengenalkan teknologi-teknologi budidaya baru kepada para petani. Dengan penerapan teknologi yang tepat, kualitas dan kuantitas hasil panen dapat meningkat.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu membantu petani dalam memasarkan hasil panen agar tidak terbuang sia-sia.
"Diberi sarana untuk penjualan produknya," kata dia.
Menurut Apri, tanpa dukungan pemasaran yang memadai, hasil panen yang melimpah justru berpotensi merugikan petani. Karena itu, keterlibatan pemerintah dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan pertanian perkotaan di Jakarta.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar