Oemar Gatab: Penjaga Senyap di Balik Kekuasaan Intelijen Polisi

Oemar Gatab: Penjaga Senyap di Balik Kekuasaan Intelijen Polisi

Sejarah dan Peran Oemar Gatab dalam Pengembangan Intelijen Kepolisian Indonesia

Oemar Gatab adalah sosok yang tak hanya berperan penting dalam sejarah intelijen kepolisian Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi bagi sistem pengamanan negara yang kini dikenal sebagai Intelkam. Dari masa pendudukan Jepang hingga era modern, ia menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Masa Awal dan Pendidikan

Oemar Gatab lahir pada 8 Juni 1912, dan wafat pada 20 Maret 1968. Ia dianggap sebagai Bapak Intelijen Kepolisian Indonesia karena perannya dalam membangun sistem intelijen yang solid. Di tengah situasi politik yang penuh tantangan, ia tumbuh sebagai bagian dari generasi polisi intelijen yang ditempa oleh kondisi sulit. Berpengalaman sejak masa pendudukan Jepang, ia berpangkat Inspektur dan bertugas di wilayah Banyumas. Kepercayaan yang diberikan kepadanya mencerminkan kemampuannya membaca situasi dan menjaga stabilitas.

Peran dalam PAM dan DPKN

Pada tahun 1948, Oemar Gatab menjabat sebagai Kepala Bagian Pengawasan Aliran Masyarakat atau PAM yang berkedudukan di Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. PAM dibentuk untuk menggantikan Polisi Bagian Politik (PBP), dengan tugas mengawasi aliran-aliran yang berpotensi membahayakan negara, serta membangun kerja sama dengan masyarakat. Tidak seperti konsep Polisi Politik ala kolonial, PAM hadir bukan untuk menekan, melainkan untuk mencegah konflik dan menjaga keutuhan bangsa dan Negara.

Beberapa bulan sebelum pecahnya Peristiwa Madiun 1948, Oemar Gatab telah mencium adanya ketegangan antara kelompok sayap kiri dan sayap kanan. Ia menyampaikan kekhawatiran itu kepada pemerintah, sebagai bentuk kewaspadaan dan tanggung jawab moral seorang intelijen. PAM juga berperan dalam penanggulangan berbagai gerakan separatis di tanah air, termasuk gerakan APRA yang dipimpin Westerling.

PAM kemudian bertransformasi menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara atau DPKN, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah tanggal 13 Maret 1951. Oemar Gatab tetap dipercaya memimpin lembaga tersebut. DPKN terus memantau dinamika politik dan keamanan nasional yang berkembang pada era 1950-an.

Peran dalam BKI dan Transformasi Intelijen

Sebagai tokoh sentral intelijen kepolisian, Oemar Gatab tercatat oleh Ken Conboy dalam buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia sebagai anggota penting Badan Koordinasi Intelijen atau BKI yang dibentuk pada 5 Desember 1958. Di lembaga itu, Oemar mewakili unsur Kepolisian. Seiring perjalanan waktu, DPKN berubah menjadi Korps Polisi Security atau KPS, kemudian menjadi Korps Intelijen, lalu Direktorat Intelijen dan Security, hingga akhirnya dikenal sebagai Direktorat Intelijen dan Keamanan saat Polri tergabung dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Pada tahun 2002, ketika Badan Kordinasi Intelijen atau BAKIN bertransformasi menjadi BIN, Direktorat Intelijen dan Keamanan Polri pun menjadi Badan Intelijen dan Keamanan Polri atau Baintelkam, yang hingga kini dikenal luas sebagai Intelkam.

Kisah Humanis di Balik Ketegasan

Selain perannya sebagai pejuang intelijen, Oemar Gatab juga memiliki sisi humanis yang hangat. Suatu ketika, ia ditugaskan mencari pematung untuk membuat patung Gajah Mada di depan Markas Besar Kepolisian. Karena tidak ada foto asli Gajah Mada, Oemar Gatab diam-diam meminjam foto Muhammad Jasin, Komandan Brigade Mobil saat itu. Foto tersebut diberikan kepada pematung, dan jadilah patung Gajah Mada yang wajahnya sangat mirip Muhammad Jasin.

Setelah patung diresmikan pada Hari Ulang Tahun Polri, 1 Juli 1959, Oemar Gatab dengan rendah hati meminta maaf kepada Jasin dan memohon agar kisah itu dirahasiakan.

Kehidupan Purna Tugas dan Warisan

Oemar Gatab pensiun dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal Polisi. Ia menghabiskan masa tuanya di kawasan Menteng, Jakarta. Di sanalah putra tunggalnya, Indrodjojo Kusumonegoro yang dikenal Indro Warkop, tumbuh dan kelak dikenal sebagai penyiar radio, pelawak, dan aktor nasional.

Indro Warkop pernah menyampaikan pengakuan bahwa "Bapak gua pendiri intel di Indonesia, Dinas Pengawasan Keselamatan Negara yang akhirnya dipegang Angkatan Darat jadi BIN."

Oemar Gatab dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Warisan pemikiran dan strategi beliau terus hidup, menjadi fondasi bagi sistem intelijen Indonesia hingga hari ini.

Hari Intelijen dan Perayaan

Tanggal 2 Januari 1946 merupakan awal operasi intelijen dan pengawalan pemindahan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga dari Jakarta menuju Jogyakarta dalam rangka pemindahan ibukota Republik Indonesia, jadilah hari Intelijen. Tahun ini juga menjadi awal perayaan Hari Jadi Intelkam Polri ke-80.

Jaya selalu Kepolisian Republik Indonesia.
Satya Haprabu.
Indra Waspada, Negara Raharja.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan