
Solidaritas sebagai Pengalaman Inkarnasi Allah
Bagi kita orang Katolik, solidaritas bukan sekadar konsep sosial atau etika publik; tapi pertama-tama solidaritas adalah cara Allah sendiri hadir di tengam dunia melalui peristiwa inkarnasi.
Inkarnasi adalah puncak solidaritas ilahiAllah yang turun tangan dan menceburkan diri dalam sejarah manusia, berjalan bersama, dan memikul beban kehidupan kita (lih. Yoh 1:14). Dengan kata lain, inkarnasi Allah adalah paradigma dasar Gereja sebagai umat Allah di dalam memaknai peziarahannya di dunia ini. Maka setiap kali Gereja berbicara tentang solidaritas, ia sesungguhnya sedang mengundang kita untuk mengambil bagian dalam cara Allah memandang dan mencintai dunia.
Karena itu Gaudium et Spes menyatakan dengan kuat: Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini terutama yang miskin dan terlantar&adalah juga sukacita dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus (GS 1). Atau pernyataan lebih tegas tentang hal ini tampak dalam identifikasi diri Yesus sendiri dengan orang-orang miskin dan tersisih, kepada siapa Ia mendedikasikan hidup-Nya: Apa saja yang kamu lakukan kepada salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:40). Jadi solidaritas bagi kita bukanlah tugas tambahan bagi Gereja; ia adalah identitas Gereja itu sendiri.
Solidaritas dalam Hidup Menggereja
Dalam tubuh Gereja, solidaritas diwujudkan terutama sebagai persekutuansebuah relasi yang lahir dari iman yang sama kepada Kristus yang telah menyatakan diri dalam sejarah umat manusia. Imfa yang sama oleh karena perjumpaan dengan Kristus telah melahirkan solidaritas dalam Gereja. Ini bukan persekutuan yang dibangun oleh kesamaan karakter atau kepentingan, atau hobi, bahkan kesamaan suku/etnis, melainkan oleh Roh yang menjadikan kita satu tubuh (1Kor 12:12).
Maka solidaritas adalah buah iman yang dihidupi, bukan sekadar etika sosial yang diindoktrinasikan atau bahkan dipaksakan. Untuk itu saya ingin menekankan empat dimensi pemaknaan solidaritas di dalam Gereja:
- Pertama, solidaritas adalah perwujudan iman. Tanpa solidaritas, iman menjadi gagasan hampa.
- Rasul Yakobus menyatakan dengan tegas: iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17).
- Tetapi juga tanpa iman, solidaritas dalam Gereja hanya dapat menjadi aktivisme yang menyesatkan.
- Perbuatan iman itu, dalam konteks komunitas Gereja, mengambil bentuk kesediaan untuk saling mendukung, memikul beban satu sama lain (Gal 6:2), menguatkan yang lemah, dan menegur yang menyimpang dengan kasih.
-
Saat Gereja hidup dalam solidaritas, ia sedang mewujudkan wajah Kristus yang adalah Sahabat bagi semua orang.
-
Kedua, solidaritas adalah penghormatan martabat manusia. Ajaran Sosial Gereja menempatkan martabat manusia sebagai dasar seluruh refleksi sosial Gereja.
- Martabat itu tidak tergantung pada posisi, ekonomi, atau kemampuan seseorang, tetapi pada kenyataan bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27).
- Dunia modern seringkali berbicara tentang hak asasi manusia sebagai instrumen martabat manusia. Namun paham HAM seringkali berbicara tentang martabat manusia tanpa dimensi transendental.
-
Bagi kita jelas, manusia memiliki martabat karena ia adalah imago Deigambar dan rupa Allah sendiri.
-
Ketiga, solidaritas memuncak dalam semangat pelayanan dan berbagi. Pelayanan bukan sekadar aktivisme; ia adalah cara Gereja bernapas.
- Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mrk 10:45).
-
Maka ketika Gereja melakukan aktivitas pastoral seperti perhatian pada yang sakit, atau kepedulian pada keluarga yang berduka, perhatian pada keluarga yang sulit menyekolahkan anak-anak mereka, perhatian pada ibu-ibu yang hendak melahirkan, sesungguhnya Gereja sedang menapaki jejak Sang Guru.
-
Keempat, solidaritas membangun persekutuan sejati. Persekutuan sejati lahir dari otentisitas diri.
- Otentisitas diri lahir dari persekutuan iman dengan Yesus Kristus; pengalaman perjumpaan dan pengalaman dikasihi oleh Allah secara personal.
- Persekutuan sejati bukanlah suasana harmonis tanpa konflik. Justru solidaritas mengizinkan kita untuk berani memasuki konflik dengan hati yang jernih, mengolah perbedaan tanpa permusuhan, dan berdamai tanpa menghilangkan identitas diri sendiri.
Solidaritas dalam Hidup Bermasyarakat
Solidaritas Gereja tidak berhenti dalam tembok aman Gereja. Ia bergerak keluar menyentuh dunia sosial yang lebih luas, sebab Gereja dipanggil menjadi tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Secara sederhana Gereja merayakan keyakinan ini dalam perutusan setelah setiap perayaan Ekaristi.
Maka solidaritas eksternal adalah bentuk keterlibatan Gereja dalam membangun tata dunia yang lebih adil, damai, dan manusiawi. Berikut beberapa dimensi semangat solidaritas dalam hidup bermasyarakat.
- Pertama, solidaritas mendorong Gereja untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bersama.
- Kesejahteraan bersama adalah jumlah keseluruhan kondisi sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai perkembangan penuh.
-
Gereja harus berani bersuara ketika keadilan dilukai, ketika kelompok lemah tidak mendapat kesempatan, ketika struktur sosial menciptakan ketimpangan.
-
Kedua, Gereja dipanggil untuk hadir bagi kaum miskin dan tersingkir. Semboyan Option for the Poor bukanlah pilihan emosional melainkan tuntutan Injil.
-
Dalam diri orang miskin, Gereja melihat wajah Kristus sendiri.
-
Ketiga, solidaritas juga berarti membangun relasi lintas agama dan kepercayaan. Dunia kita terdiri dari perbedaan yang tak dapat disangkal.
-
Fratelli Tutti mengundang kita untuk membangun persaudaraan universalbukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan menemukan tanah subur tempat dialog bisa tumbuh.
-
Keempat, solidaritas juga menyentuh dimensi ekologissolidaritas dengan alam ciptaan.
- Laudato Si menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama; merusaknya sama saja dengan melukai generasi masa depan.
Implementasi dalam Dunia Sehari-hari: Tempat Kerja dan KUB
Nilai-nilai solidaritas menemukan bobot sebenarnya dalam ruang-ruang kecil kehidupan: kantor atau tempat kerja, rumah tangga, lingkungan, dan terutama KUB (kelompok umat basis). Di tempat kerja, solidaritas muncul dalam kesediaan untuk membantu rekan kerja yang kewalahan; dalam keberanian menolak praktik manipulatif; dalam memberi ruang bagi pendapat orang yang biasanya diam; dalam membangun budaya saling menghargai meskipun tekanan pekerjaan tinggi.
Solidaritas di tempat kerja bukan hanya etika profesional, tetapi cara menghadirkan Injil dalam ritme harian. Dalam KUB, solidaritas mengambil bentuk persekutuan yang hangat. KUB menjadi ruang manusiawi untuk saling memperhatikanmenjenguk yang sakit, mendampingi yang berduka, memberi telinga kepada kaum muda dan mendampingi mereka yang sedang mencari arah hidup.
Dalam kerja sama mempersiapkan liturgi, membersihkan kapela, atau merancang kegiatan sosial, kita belajar bahwa solidaritas bukan sikap individual melainkan proyek bersama. KUB adalah laboratorium iman. Solidaritas dalam kehidupan sehari-hari juga berarti kepekaan terhadap wajah-wajah kecil penderitaan: tetangga yang diam-diam kesulitan ekonomi. Para janda dan yatim piatu yang terjerat utang, keluarga yang anaknya putus sekolah karena ketiadaan biaya, atau lansia yang merasa sendirian.
Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka, tetapi kita dapat menjadi lingkaran kecil harapanhadir, mendengar, menemani, mencari jalan bersama. Fratelli Tutti mengingatkan: solidaritas membuat orang lain merasa bahwa hidupnya tidak harus ditanggung sendirian. Dalam hal ekologis, implementasi solidaritas, meskipun kecil tetapi bermakna: mengurangi sampah plastik, menanam pohon, mendukung gerakan lingkungan paroki, atau membangun pola konsumsi yang lebih sadar.
Laudato Si menegaskan bahwa pertobatan ekologis dimulai dari pilihan kecil yang diulang terus menerus. Akhirnya solidaritas dalam lingkup kecil adalah cara kita menenun dunia yang lebih besar. Ia bukan sekadar tindakan moral, melainkan jalan spiritual. Dengan setia padahal-hal kecil, kita memberi tubuh bagi Injil, agar pengalaman akan Inkarnasi Kristus itu menjadi nyata dan lebih dapat dialami. Solidaritas seperti ini menghadirkan wajah Gereja sebagai kesaksian yang penuh harapan bagi dunia akan pengalaman inkarnasi Allah dalam dunia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar