
nurulamin.pro Di jalan raya, setiap orang menghadapi situasi yang sama: macet, pengendara lain yang ceroboh, lampu merah yang terasa terlalu lama, atau pejalan kaki yang menyeberang tanpa menoleh.
Namun, respons setiap orang bisa sangat berbeda. Ada yang memilih membunyikan klakson singkat, ada yang menarik napas panjang, dan ada pula yang langsung berteriak—meski lawan bicaranya mungkin tak mendengar sama sekali.
Menariknya, menurut psikologi, kebiasaan berteriak saat berkendara bukan sekadar reaksi spontan. Ia sering kali menjadi cerminan kepribadian, pola emosi, dan cara seseorang menghadapi tekanan hidup.
Dilansir dari Geediting pada Minggu (11/1), terdapat sembilan ciri kepribadian yang kerap dimiliki oleh orang-orang yang lebih memilih berteriak daripada menekan klakson.
1. Kesulitan Mengelola Emosi Secara Real Time
Salah satu ciri paling menonjol adalah kesulitan mengatur emosi saat berada dalam situasi mendesak. Ketika frustrasi muncul, emosi itu langsung tumpah keluar dalam bentuk teriakan.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai emotional dysregulation—ketidakmampuan menunda atau meredam respons emosional.
Alih-alih memilih tindakan yang lebih fungsional (seperti klakson), mereka mengekspresikan perasaan terlebih dahulu.
2. Impulsivitas yang Cukup Tinggi
Berteriak adalah respons yang sangat impulsif. Ia terjadi tanpa perencanaan dan sering kali tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Orang dengan impulsivitas tinggi cenderung:
Bereaksi cepat
Sulit menahan dorongan sesaat
Lebih mengutamakan pelepasan emosi daripada efektivitas
Di jalan raya, sifat ini mudah muncul karena situasinya penuh tekanan dan minim kontrol.
3. Tingkat Stres Harian yang Sudah Menumpuk
Sering kali, teriakan di jalan bukan hanya soal lalu lintas. Ia adalah puncak dari stres yang telah menumpuk sepanjang hari—pekerjaan, masalah keluarga, tekanan finansial, atau konflik sosial.
Psikologi menyebutnya sebagai stress spillover, yaitu ketika tekanan dari satu area kehidupan tumpah ke situasi lain yang sebenarnya sepele.
4. Kebutuhan untuk Didengar dan Diakui
Meskipun tidak rasional, berteriak memberi sensasi “aku menyuarakan ketidakadilan.” Ini sering berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk didengar dan diakui.
Orang dengan ciri ini biasanya:
Merasa pendapatnya sering diabaikan
Memiliki kebutuhan validasi yang cukup tinggi
Mudah merasa tidak dihargai
Teriakan menjadi simbol perlawanan kecil terhadap rasa tak dianggap itu.
5. Persepsi Dunia yang Cenderung Mengancam
Dalam psikologi kognitif, ada konsep hostile attribution bias—kecenderungan menafsirkan tindakan orang lain sebagai niat buruk.
Pengendara yang langsung berteriak sering kali:
Menganggap kesalahan orang lain sebagai kesengajaan
Merasa diserang secara personal
Sulit melihat kemungkinan bahwa orang lain hanya lalai
Pola pikir ini membuat emosi negatif lebih cepat menyala.
6. Kontrol Diri yang Melemah Saat Merasa Aman
Menariknya, banyak orang yang berteriak di mobil justru cukup tenang di ruang publik lain. Mobil menciptakan ilusi “ruang aman” dan anonimitas.
Dalam kondisi ini, kontrol diri menurun karena:
Tidak ada kontak langsung
Risiko sosial terasa kecil
Ekspresi emosi dianggap “tak terlihat”
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai deindividuasi.
7. Kebiasaan Meluapkan Emosi Secara Verbal
Bagi sebagian orang, berbicara—atau berteriak—adalah cara utama mengeluarkan emosi. Mereka tidak terbiasa memproses perasaan secara internal.
Ciri ini sering terlihat pada individu yang:
Lebih vokal daripada reflektif
Mengandalkan kata-kata untuk meredakan tekanan
Sulit menenangkan diri tanpa ekspresi verbal
Sayangnya, di jalan raya, cara ini jarang efektif.
8. Ambang Toleransi Frustrasi yang Rendah
Setiap orang punya batas toleransi terhadap gangguan. Orang yang sering berteriak biasanya memiliki frustration tolerance yang lebih rendah.
Hal-hal kecil seperti:
Lampu sein yang terlambat
Kendaraan lambat di depan
Klakson orang lain
bisa terasa jauh lebih menjengkelkan dibandingkan bagi orang dengan toleransi tinggi.
9. Kesulitan Mengalihkan Fokus Saat Emosi Muncul
Alih-alih segera kembali fokus pada tujuan utama (berkendara dengan aman), orang yang berteriak sering terjebak pada sumber kekesalan.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan:
Ruminasi singkat
Fokus berlebihan pada pemicu emosi
Sulit “move on” dalam hitungan detik
Akibatnya, reaksi emosional menjadi lebih intens daripada situasi yang sebenarnya.
Kesimpulan: Teriakan di Jalan Adalah Cermin Emosi, Bukan Sekadar Kebiasaan
Berteriak saat berkendara mungkin terlihat sepele, bahkan lucu bagi sebagian orang. Namun dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini sering kali menjadi cermin dari kondisi emosi, pola pikir, dan tekanan hidup yang lebih dalam.
Bukan berarti orang-orang ini “buruk” atau “tidak dewasa”. Justru sebaliknya—mereka sering kali adalah individu yang sedang kelelahan secara emosional, memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi, atau belum menemukan cara yang lebih sehat untuk mengelola stres.
Dengan memahami pola ini, kita tidak hanya bisa lebih mengenali diri sendiri, tetapi juga menjadi lebih empatik terhadap orang lain—bahkan terhadap teriakan yang terdengar di tengah kemacetan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar