
Taman Nasional Bukit Tigapuluh: Paru-Paru Dunia di Pulau Sumatra
Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan salah satu kawasan konservasi strategis yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan keseimbangan iklim global. Wilayah ini membentang lintas kabupaten dan provinsi, serta dikenal sebagai paru-paru dunia di Pulau Sumatra. TNBT terletak di Kecamatan Batang Gansal dan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, serta mencakup wilayah Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi.
Kawasan TNBT memiliki hutan tropis yang luas dan lebat, yang berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂) sekaligus penghasil oksigen (O₂). Selain itu, hutan ini juga menjadi penyangga ekologis yang mendukung keberlangsungan kehidupan flora dan fauna langka. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6407/Kpts-II/2002, TNBT memiliki luas kawasan konservasi sekitar 144.223 hektare.
Peran Penting TNBT dalam Ekosistem Sumatra
Selain fungsi lingkungan, TNBT juga menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa langka seperti Harimau Sumatera. Kawasan ini tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem besar Sumatra, tetapi juga menjadi penyangga alami yang menjaga keseimbangan ekologis di kawasan tersebut. Dengan adanya hutan yang masih asri, TNBT mampu mempertahankan keanekaragaman hayati dan menjaga kestabilan iklim regional.
Upaya pelestarian TNBT dilakukan secara aktif oleh berbagai pihak, termasuk Balai TNBT dan masyarakat sekitar. Beberapa kegiatan rutin dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan, antara lain penanaman pohon, patroli pengamanan kawasan, serta pencegahan kebakaran hutan. Ini dilakukan guna menghadapi ancaman perambahan dan kerusakan lingkungan yang bisa mengancam keberadaan kawasan ini.
Balai TNBT memiliki tugas utama dalam mengelola kawasan konservasi, mulai dari perlindungan, pengawetan, hingga pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Selain itu, Balai TNBT juga menjalankan fungsi inventarisasi kawasan, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan pemanfaatan non-komersial, pemberdayaan masyarakat, serta kerja sama konservasi untuk melindungi satwa langka dan menjaga kearifan lokal masyarakat setempat.
Kunjungan Ketua MKA LAMR ke TNBT
Baru-baru ini, TNBT menerima kunjungan dari Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, beserta rombongan. Kunjungan ini disambut langsung oleh Kepala Balai TNBT, Dr Gebyar Andyono SSi MSI. Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi semangat baru bagi Balai TNBT, terutama atas dukungan yang diberikan oleh Ketua MKA LAMR dalam menjaga kelestarian kawasan.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua MKA LAMR dan rombongan bahkan menyempatkan bermalam di Camp Granit TNBT serta mengunjungi air terjun yang terdapat di dalam kawasan taman nasional. Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf juga melakukan penanaman pohon sebagai bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian hutan.
Menurut Gebyar Andyono, kedatangan Ketua MKA LAMR disambut hangat oleh jajaran Balai TNBT. Pada kesempatan itu, Ketua MKA LAMR menyampaikan bahwa kondisi TNBT masih sangat asri dan memiliki peran penting sebagai penyangga paru-paru dunia. Ia juga memberikan apresiasi kepada Balai TNBT yang dinilai konsisten menjaga kelestarian kawasan, termasuk mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Talang Mamak dan Anak Rimba yang hidup di sekitar kawasan, khususnya di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jambi.
Ajakan untuk Bersama Menjaga Keasrian TNBT
Ketua MKA LAMR mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keasrian TNBT agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Ia juga menyatakan kesiapan menerima kunjungan pihak lain yang ingin mengetahui langsung kondisi TNBT. Dengan dukungan dari berbagai pihak, TNBT dapat terus bertahan sebagai kawasan konservasi yang penting bagi lingkungan dan kehidupan manusia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar