Banyak pasangan yang menikah jarang mengalami pertengkaran soal hal-hal besar. Mereka bisa sepakat tentang tempat tinggal, lokasi sekolah anak, atau keputusan terkait keluarga besar. Namun, ada satu topik yang sebenarnya terlihat kecil, tapi efeknya bisa seperti bom waktu, yaitu uang.
Pertengkaran soal uang sering tidak dimulai dengan teriakan keras. Ia muncul secara perlahan, dari komentar-komentar kecil seperti, "Kenapa sih beli ini lagi?" "Kok uangnya cepat habis?" "Atau... 'Harusnya kamu lebih mikir.'"
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa, tapi jika diulang setiap bulan dan setiap tahun, ia berubah menjadi racun yang meresap ke dalam hubungan. Perlahan, romantisme mulai terkikis. Percakapan jadi defensif. Rumah yang seharusnya aman berubah menjadi ruang audit.
Banyak riset menyebutkan bahwa masalah keuangan adalah salah satu pemicu utama perceraian. Bukan karena pasangan miskin atau kaya, tetapi karena ketakutan, kecemasan, dan kurangnya kejujuran dalam berbicara soal uang.
Masalahnya, uang bukan hanya angka. Ia melambangkan rasa aman, harga diri, trauma masa kecil, harapan masa depan, bahkan luka yang belum sembuh. Maka ketika pasangan bertengkar soal uang, sebenarnya yang sedang bertabrakan bukan dompet mereka, melainkan nilai hidup mereka.
Jika kita ingin pernikahan yang lebih sehat dan bertahan lama, kita perlu berhenti menghindari topik uang. Coba saja mulai biasakan bicara soal duit, tapi tujuannya bukan memicu pertengkaran lebih sering, tapi justru agar pertengkaran yang sama tidak terulang dengan wajah berbeda.
Berikut adalah empat sumber pertengkaran soal uang yang paling sering terjadi dalam pernikahan:
1. Visi Keuangan Tidak Selaras
Ketika pasangan menikah, hidup bersama, tapi sayangnya mimpi mereka berjalan di arah berbeda. Di sinilah benih-benih pertengkaran bakal muncul. Banyak pasangan tidak sadar bahwa mereka tidak pernah benar-benar satu kapal secara finansial. Mereka tinggal serumah, makan di meja yang sama, tidur di kasur yang sama, tapi arah keuangannya berbeda jauh.
Satu pihak berpikir hidup harus dinikmati sekarang. Pihak lain berpikir hidup harus diamankan untuk nanti. Satu ingin liburan mewah setahun sekali, karena "hidup cuma sekali." Yang lain ingin menabung mati-matian demi rumah, dana darurat, dan masa depan anak.
Tidak ada yang benar dan yang salah di sini. Masalahnya adalah tidak pernah ada kesepakatan. Awalnya terlihat sepele. Tapi lama-lama, salah satu mulai merasa berjuang sendirian. Yang satu merasa pasangannya boros. Yang lain merasa pasangannya pelit dan tidak menikmati hidup.
Di titik tertentu, uang tidak lagi netral. Ia berubah jadi alat ukur cinta. "Kalau kamu benar-benar peduli, kamu pasti mikir masa depan." "Atau sebaliknya, 'kalau kamu sayang, kamu nggak akan terlalu perhitungan.'" Padahal, dua-duanya sama-sama lelah.
Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak pasangan tidak pernah duduk dan membicarakan visi keuangan secara eksplisit. Mereka berasumsi cinta saja cukup untuk menyatukan segalanya.
Padahal, cinta tanpa arah keuangan itu seperti naik mobil tanpa peta. Jalan tetap ditempuh, tapi cepat atau lambat akan tersesat.
Solusinya? Bukan saling mengalah secara sepihak, tapi membuat peta bersama. Duduklah dan bahas, apa tujuan keuangan jangka pendek (12 tahun)? Apa mimpi besar kalian 510 tahun ke depan? Mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda?
Tak perlu cari siapa yang menang dan siapa yang kalah, carilah titik temu itu. Bisa saja kalian sepakat misalnya begini, menabung serius tapi tetap menyisakan ruang untuk menikmati hidup. Atau liburan tetap ada, tapi dengan batasan yang jelas.
Ingat, visi keuangan bukan sesuatu yang saklek. Ia bisa berubah. Tapi... tanpa disepakati, ia pasti jadi sumber konflik.
2. Satu Pasangan Cenderung Menghabiskan Uang
Masalah ini hampir selalu berakar dari satu hal, yaitu kurangnya transparansi. Salah satu pasangan sering tidak benar-benar tahu uang habis untuk apa saja, berapa pengeluaran kecil yang ternyata menumpuk, seberapa besar kebutuhan rumah tangga sebenarnya.
Yang satu merasa, "Ah ini kan cuma sedikit." Yang lain melihatnya sebagai kebocoran yang terus-menerus. Awalnya tidak ada yang bicara. Sampai suatu hari, emosi menumpuk. Lalu... BOOM. Meledaklah "perang dunia ketiga" versi rumah tangga.
Tuduhan dilontarkan. Yang dituduh jadi defensif. Percakapan berubah jadi adu ego, bukan solusi. Inilah dampak yang terjadi ketika uang tidak pernah diperlakukan sebagai milik tim.
Kenapa ini sering terjadi? Karena banyak pasangan tidak punya catatan keuangan, tidak pernah membahas batas pengeluaran, mengandalkan ingatan dan asumsi. Padahal, uang yang tidak dicatat itu seperti air bocor. Tidak terasa, tapi lama-lama rumah kebanjiran.
Solusinya sederhana, tapi sering dihindari, yaitu duduk dan buka semua kartu. Kalian lihat bersama, berapa pengeluaran bulanan, berapa pengeluaran kecil yang sering luput, berapa biaya rutin vs biaya impulsif.
Kalau salah satu pasangan mengelola uang bulanan, penting ada batasan yang disepakati. Contohnya, pengeluaran kecil di bawah nominal tertentu boleh diputuskan sendiri. Pengeluaran besar wajib dibicarakan bersama. Di sinilah pencatatan keuangan jadi kunci. Tujuannya bukan untuk saling mengawasi, tapi untuk mengurangi asumsi. Sebab asumsi adalah bahan bakar konflik paling berbahaya.
3. Satu Pasangan Frustrasi karena Mengatasi Semua Masalah Keuangan Sendiri
Ada pasangan yang secara tidak sadar membagi peran seperti ini, yaitu satu orang mikir uang. Yang lain "ikut saja." Awalnya terlihat praktis ya. Tapi lama-lama, orang yang memikul semua beban keuangan mulai lelah. Ia merasa sendirian. Merasa tidak didukung. Merasa pasangannya tidak peduli.
Ironisnya, pasangan yang "ikut saja" itu, entah suami, entah istri, sering tidak tahu bahwa pasangannya sudah di ambang kelelahan. Stres finansial ini bisa berubah jadi kebencian diam-diam. Dan kebencian yang dipendam selalu lebih berbahaya daripada pertengkaran terbuka.
Kenapa ini berbahaya? Ketika satu orang terus menanggung semuanya, hubungan berubah dari kemitraan menjadi hierarki. Yang satu jadi "manajer hidup." Yang lain jadi "penumpang." Dan tidak ada yang bahagia dalam peran itu.
Solusinya ya komunikasi jujur, bahkan saat rasanya memalukan. Bilang kalau capek. Bilang kalau takut. Bilang kalau tidak sanggup menanggung semuanya sendiri. Ini tanda dewasa, bukan lemah ya.
Libatkan pasangan dalam keputusan keuangan. Jangan saling menyalahkan, tapi bangkitkan rasa saling memiliki dan tanggung jawab tumbuh bersama.
4. Pasangan Tidak Siap Mengelola Keuangan Bersama
Bisa dibilang ini tuh warisan pola lama yang diam-diam masih hidup. Masih banyak pasangan membawa pola lama ke dalam pernikahan modern. Misalnya suami mengatur semua uang, istri menerima tanpa tahu detail, atau sebaliknya, satu pihak dominan, satu pihak pasif.
Dunia sekarang jauh lebih kompleks. Ketika satu orang tidak siap menghadapi masalah keuangan, rumah tangga jadi rapuh saat krisis datang.
Masalah lain yang sering terjadi adalah uang dianggap topik tidak romantis. Akhirnya, pasangan tidak pernah membicarakannya saat pacaran. Bahkan setelah menikah pun, topik ini dihindari. Padahal, menghindari uang tidak membuat masalah hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk meledak.
Solusinya ya belajar mengelola keuangan sebagai tim, bukan sebagai atasan dan bawahan. Bicarakan berapa pendapatan masing-masing, utang (kalau ada), gaya hidup, ekspektasi. Tidak harus sempurna. Yang penting, sadar dan siap.
Uang Bukan Musuh, Tapi Cermin Hubungan
Sejatinya menurut saya, pasangan tidak bertengkar karena uang. Mereka bertengkar karena tidak didengar, tidak dipahami, tidak merasa satu tim. Uang hanya memperjelas retakan yang sudah ada.
Kalau kita berani jujur, banyak konflik finansial sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Bukan dengan lebih banyak uang, tapi dengan lebih banyak percakapan yang jujur dan dewasa. Bukankah yang namanya hubungan sehat itu harus berani membahas hal-hal sulit tanpa saling menjatuhkan?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar