Pasar RI Heboh Tunggu Keputusan The Fed, Apa Dampaknya Jika IHSG Naik dan Rupiah Stagnan?

Pergerakan Pasar Keuangan Indonesia yang Volatil

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan mengalami pergerakan volatil pada pekan ini, mengingat adanya keputusan penting dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Di tengah dinamika tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor all time high (ALH) pada penutupan perdagangan Senin (8/12/2025). IHSG menguat 77,93 poin atau 0,90 persen ke level 8.710,695 setelah bergerak stabil di zona hijau sepanjang sesi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari RTI, IHSG dibuka di posisi 8.676,727 dan terus menguat hingga menyentuh level tertinggi pada 8.720,091. Adapun posisi terendah berada di 8.642,062. Aktivitas perdagangan juga meningkat dengan volume mencapai 56,955 miliar saham dan nilai transaksi Rp 27,03 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2.901.965 kali, dengan 385 saham menguat, 265 melemah, dan 153 stagnan. Kapitalisasi pasar BEI naik menjadi Rp 16.034,693 triliun.

Di sisi lain, rupiah justru melemah pada awal pekan. Kurs spot turun Rp 47 atau 0,28 persen ke posisi Rp 16.695 per dolar AS.

Sentimen Pasar Keuangan Jelang Keputusan The Fed

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai investor menaruh ekspektasi kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga. Menurutnya, situasi tersebut membuka peluang IHSG untuk kembali menguat selama tidak ada tekanan tambahan dari sentimen global.

“Investor saat ini memberikan kepercayaan probabilitas cukup besar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga. Minggu ini IHSG memiliki peluang untuk menguat selama tidak ada gangguan dari sentimen makro dari global,” ujar Reydi kepada aiotrade, Senin sore ini.

Ia menekankan pergerakan rupiah setelah keputusan The Fed akan menentukan arah aliran modal asing. Jika rupiah melemah, investor cenderung menarik dana mereka keluar dari pasar Indonesia karena risiko dianggap meningkat. Sebaliknya, jika rupiah tetap stabil, kondisi tersebut dapat menarik minat investor untuk menambah investasi, sehingga arus modal asing masuk berpotensi meningkat lebih besar.

“Jika rupiah melemah setelah keputusan The Fed, hal itu dapat memicu capital outflow, namun apabila rupiah stabil, maka akan picu inflow yang semakin masif,” paparnya.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, meskipun indeks dollar AS sedang berfluktuasi dan cenderung melemah, rupiah tetap sulit menguat dan bergerak terbatas di kisaran Rp 16.600-16.700 per dollar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia serta kondisi ekonomi domestik yang dinilai masih lemah. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan rupiah menembus level Rp 16.700-17.000.

The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga, tetapi kemungkinan memberi sinyal hawkish dalam pertemuan FOMC, sehingga pelaku pasar memilih bersikap menunggu hingga ada kepastian arah kebijakan. Rupiah diprediksi bergerak konsolidatif hingga keputusan FOMC diumumkan, namun setelah itu rupiah masih berpotensi tertekan, bergantung pada hasil pertemuan The Fed. Pergerakan rupiah untuk sementara diperkirakan tetap berada di rentang Rp 16.600 - Rp 16.700.

“Namun tentunya investor wait and see untuk sinyal yang jelas. Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi hingga FOMC namun berpotensi tertekan paska itu, namun tentunya akan tergantung pada hasil pertemuan tsb. Range 16600-16700,” ucap Lukman kepada aiotrade.

Optimisme Pasar Keuangan Global

Sementara itu, Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan memasuki pekan kedua menuju potensi Santa Claus rally, pasar keuangan global mulai dibayangi optimisme baru. Namun sejumlah data ekonomi AS tetap menjadi perhatian utama.

Nico memaparkan pendapatan pribadi masyarakat AS (personal income) pada September masih stabil di 0,4 persen. Belanja masyarakat (personal spending) turun menjadi 0,3 persen dari sebelumnya 0,5 persen, sementara belanja riil merosot dari 0,2 persen menjadi 0 persen. Menurutnya, perlambatan belanja ini membantu menahan laju inflasi.

Indeks harga pilihan The Fed, US PCE Price Index, tetap di 0,3 persen secara bulanan, meski naik tipis menjadi 2,8 persen secara tahunan. Core PCE Price Index bulanan tercatat 0,2 persen, dan secara tahunan turun menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 2,9 persen. Tekanan inflasi inti yang melemah ini memberikan sinyal positif bagi pasar.

Ekspektasi inflasi berdasarkan survei University of Michigan juga menurun baik untuk proyeksi satu tahun maupun 5-10 tahun. Sentimen konsumen meningkat menjadi 53,3 dari 51, meskipun indeks kondisi saat ini melemah sedikit. Nico menyebut rangkaian data tersebut meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Dari Eropa, data GDP kuartalan menunjukkan perbaikan dari 0,2 persen menjadi 0,3 persen. Yang tidak ketinggalan, selain inflasi dari sisi konsumen, juga ada inflasi dari sisi produsen dimana PPI Final Demand YoY yang diharapkan mengalami penurunan. Sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi The Fed untuk bisa meeting dengan tenang.

Revisi Aturan DHE SDA

Pemerintah juga mengumumkan revisi PP No. 8 Tahun 2025 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam yang berlaku mulai 1 Januari 2026. Revisi dilakukan karena aturan sebelumnya dinilai belum mampu meningkatkan cadangan devisa nasional.

Dalam revisi terbaru, DHE SDA wajib ditempatkan di bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), menggantikan kebijakan lama yang membolehkan penempatan di seluruh bank domestik. Retensi DHE nonmigas tetap 100 persen selama 12 bulan, dengan batas konversi valas ke rupiah maksimal 50 persen. Penggunaan valas juga diperluas, sementara instrumen penempatan kini mencakup SBN valas yang hanya dapat dicairkan setelah masa retensi berakhir.

Kebijakan ini diproyeksikan meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) valas di bank-bank Himbara, memperkuat likuiditas, dan membuka peluang pendapatan baru berbasis fee maupun investasi. Namun, konsentrasi dana pada Himbara juga dikhawatirkan memperlebar kesenjangan daya saing dengan bank non-Himbara.

Secara keseluruhan, revisi aturan DHE SDA dinilai mampu memperkuat stabilitas devisa nasional dan mendukung kinerja sektor perbankan dalam jangka panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan