Patrick Kluivert Tak Mau Lakukan, Fabio Cannavaro Buka Rahasia Ini yang Membuatnya Disegani di Uzbek

Pengalaman Baru Fabio Cannavaro sebagai Pelatih Timnas Uzbekistan

Fabio Cannavaro, legenda sepak bola Italia yang pernah memenangkan gelar Piala Dunia 2006, kini menjalani tantangan baru dalam karier pelatihnya. Setelah menyelesaikan kontraknya dengan klub di Eropa, ia kini menjadi pelatih tim nasional Uzbekistan. Negara Asia Tengah ini membutuhkan seorang pelatih berpengalaman untuk menghadapi kompetisi internasional seperti Piala Dunia 2026.

Sejak Oktober lalu, Cannavaro telah memimpin timnas Uzbekistan dalam empat pertandingan selama FIFA Matchday bulan Oktober dan November. Dalam empat laga tersebut, tim yang dikenal dengan julukan Serigala Putih berhasil meraih tiga kemenangan atas Iran, Mesir, dan Kuwait. Satu-satunya kekalahan yang didapat adalah dari Uruguay yang dilatih oleh Marcelo Bielsa dengan skor 1-2.

Awalnya, banyak pihak khawatir bahwa Cannavaro tidak akan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di Uzbekistan. Namun, ternyata pelatih asal Italia ini bekerja sangat baik bersama para pemain seperti Abbosbek Fayzullaev dan kawan-kawan. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia menyampaikan bahwa dirinya juga disambut dengan baik oleh para penggemar.

Cannavaro bahkan memutuskan untuk tinggal lebih lama di negara tersebut agar bisa lebih memahami sepak bola lokal. Ia menghabiskan waktu selama 40 hari di Tashkent, mengunjungi berbagai tempat dan menonton pertandingan secara langsung. Menurutnya, hal ini penting agar bisa memahami proyek jangka panjang yang sedang dikembangkan.

"Kami menonton satu atau dua pertandingan setiap hari selama sebulan," ujarnya. "Kami pergi ke berbagai tempat karena ingin mendalami proyek ini secara langsung."

Pengalaman ini mirip dengan apa yang dilakukan Shin Tae-yong saat melatih timnas Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan itu juga menghabiskan waktu cukup lama di Indonesia untuk memahami sepak bola akar rumput negara tersebut.

Namun, tidak semua pelatih memiliki pendekatan yang sama. Beberapa pelatih sering hanya datang menjelang pertandingan tanpa memahami kondisi sepak bola lokal. Hal ini bisa menjadi alasan mengapa Patrick Kluivert, pelatih asal Belanda yang pernah menangani timnas Indonesia, tidak populer di kalangan suporter.

Kluivert hanya datang ke Indonesia menjelang pertandingan kandang dan hanya menonton segelintir pertandingan lokal. Pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Arab Saudi, kebencian suporter terhadapnya semakin meningkat. Saat timnas Indonesia tersingkir, pelatih asal Belanda itu langsung pulang ke negara asalnya tanpa memberikan penjelasan yang memadai.

Dengan pendekatan yang lebih mendalam seperti yang dilakukan Cannavaro, sepertinya pelatih-pelatih yang ingin mencapai kesuksesan di negara-negara Asia harus lebih memahami budaya dan sepak bola lokal. Ini bukan hanya tentang hasil sementara, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat untuk masa depan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan