
Pemindahan Pedagang Kaki Lima di Pasar Serpong Berdampak pada Pendapatan
Sejumlah pedagang kaki lima yang direlokasi dari area depan pasar Serpong, Kota Tangerang Selatan mengungkapkan kesulitan dalam menjalankan usahanya. Mereka merasa kehilangan pendapatan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Usri, salah satu pedagang sayur berusia 67 tahun, mengatakan bahwa pendapatannya turun drastis setelah dipindahkan ke dalam pasar. Ia telah berdagang selama 20 tahun di luar pasar, namun baru sebulan terakhir ia dipindahkan ke area dalam. Sejak itu, penjualan dagangannya menurun tajam.
“Di luar bisa dapat 200 biji tahu tempe terjual, di sini paling 10 atau 20 biji. Nggak ada apa-apanya,” ujarnya dengan nada sedih. Ia juga mengeluhkan sulitnya membeli beras dan membayar kontrakan. Bahkan untuk kebutuhan dasar seperti pulsa dan lampu listrik, ia kesulitan.
Kondisi ini tidak hanya dialami Usri, tetapi juga pedagang lainnya. Menurut Usri, banyak pedagang yang belum memiliki pemasukan selama sebulan. Ada yang kesulitan membayar biaya sekolah anak dan kontrakan.
Lokasi Baru Dinilai Tidak Strategis
Para pedagang mengaku bahwa lokasi baru yang disediakan tidak strategis. Mereka menyebut pembeli enggan masuk ke area dalam pasar. “Saking memperjuangkan dagangan, kami disuruh ke dalam-dalam. Nggak ada pembelinya,” keluh Usri.
Ia berharap pemerintah benar-benar mendengarkan keluhan para pedagang kecil yang kini terancam kehilangan nafkah. “Pokoknya minta didukung, Neng. Sengsara ini,” tambahnya.
Proses Relokasi dan Fasilitas yang Disiapkan
Sebelumnya, relokasi pedagang ke dalam Pasar Serpong telah dibuka, namun hingga kini hanya 14 pedagang yang mendaftar untuk menempati ruang dagang relokasi. Kepala pasar Serpong, Jeffri, mengatakan bahwa belum ada kendala berarti dalam proses perpindahan. Namun, banyak pedagang belum datang ke posko relokasi.
Posko relokasi Pasar Serpong terletak di lantai dua area belakang, dengan tulisan "Posko Relokasi" yang terlihat jelas. Jeffri menyatakan bahwa seluruh fasilitas di lokasi baru sudah lengkap dan siap digunakan. Termasuk saluran air, area parkir, musola, ruang laktasi, listrik, kebersihan, dan keamanan.
Mengenai kekhawatiran pedagang soal sepi pengunjung, pihak pasar memastikan bahwa kondisi pasar sebenarnya cukup ramai. “Pasar ini memang pasarnya ramai ya. Seharusnya mereka bisa mengambil keuntungannya,” kata Jeffri.
Harga Sewa dan Bantuan Pemilik Kios
Terkait sewa kios, seluruh ruang dagang di pasar merupakan milik pribadi. Karena itu, pengelola berperan memediasi antara pedagang dengan pemilik kios. Jeffri menjelaskan bahwa harga sewa ruang dagang bervariasi tergantung jenisnya, mulai dari kios mering, los atau lapak, hingga Mamin.
“Contohnya di Mamin sewanya cuma 5–6 juta setahun. Di kios mering juga sama, 5–6 juta,” ujarnya. Untuk mempermudah pedagang relokasi, pemilik kios pun bersedia memberikan masa sewa pendek. “Ada yang coba sebulan, ada yang tiga bulan,” tambahnya.
Sejauh ini, pengelola menyebut belum ada keluhan dari pedagang yang telah menempati ruang dagang relokasi. “Keluhan secara langsung tidak ada. Kendala belum ada mereka,” ujar Jeffri.
Tujuan Penataan Pasar
Pemkot Tangsel menyatakan bahwa penataan pasar dilakukan untuk menciptakan kawasan tertib dan nyaman. Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan menyebut lebih dari 120 lapak disediakan, dan pemerintah memastikan keringanan sewa bagi pedagang. Pilar menegaskan bahwa relokasi bukan untuk mematikan mata pencaharian pedagang, melainkan demi keadilan dan ketertiban kawasan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar