Masalah dalam Pencarian Bakat di Klub Sepak Bola Indonesia
Bursa transfer paruh musim Super League baru saja dibuka pada 10 Januari. Sebagai momen penting, klub memanfaatkan jendela transfer ini untuk mencari pemain baru agar meningkatkan performa mereka di paruh kedua musim. Dengan harapan bisa meraih posisi yang lebih baik di klasemen. Namun, menurut pelatih Bali United, Johnny Jansen, proses rekrutmen pemain di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan.
Tidak Ada Tim Pencari Bakat
Jansen mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada tim pencari bakat yang bekerja secara profesional di klub-klub sepak bola Indonesia. Menurutnya, proses perekrutan pemain sering kali dilakukan tanpa adanya analisis mendalam terhadap potensi dan kemampuan pemain.
“Kami tidak memiliki tim pencari bakat. Pemilik kami hanya menerima video YouTube dari agen, bersama dengan detail Transfermarkt. Lalu dia menghubungi saya dan berkata: 'kita sedang mencari striker, kan? Apakah ini sesuatu?' Begitulah kira-kira prosesnya,” ujar Jansen.
Pemain Disodorkan oleh Agen
Menurut Jansen, pemilik klub cenderung bergantung pada masukan dari agen dalam memilih pemain. Hal ini sering kali menyebabkan ketidaksesuaian antara kebutuhan klub dan kualitas pemain yang direkrut.
“Tidak ada klub di sini yang mencapai itu (mempunyai pencari bakat). Tetapi akan sangat bagus jika memiliki pencari bakat yang dapat mencari bakat di dalam negeri, dan juga di luar negeri. Terkadang kami mencari striker, dan kemudian pemilik kami yang sangat kaya muncul dengan pemain sayap kiri setinggi 1,65 meter. Dia sama sekali tidak bisa bermain sebagai striker.”
Jansen menambahkan bahwa pemilik klub sering kali memberi jawaban yang tidak sesuai dengan kebutuhan tim. “Lalu pemilik klub menjawab orang seperti itu pasti bisa bermain sepakbola. Lalu saya berkata: 'itu benar, tetapi kami menginginkan seorang striker'. Kemudian dia berkata oke, batalkan kontrak, dan pemain baru datang. Begitulah cara kami beroperasi. Tetapi bukan itu cara yang saya inginkan untuk bekerja, dan bukan itu cara yang biasa saya lakukan.”
Harapan untuk Perubahan
Meski mengeluh tentang sistem rekrutmen pemain, Jansen mengaku sangat menikmati pengalamannya di Indonesia. Ia berharap bisa melanjutkan karirnya di negara ini selama dua atau tiga tahun ke depan.
“Saya ingin sekali tinggal di sini selama dua atau tiga tahun lagi dan meninggalkan warisan saya, bagi klub untuk membangunnya, itu akan fantastis,” ujarnya.
Jansen berharap dengan waktu yang cukup, ia bisa membantu klub dalam mengubah pola pengelolaan yang lebih profesional. Dengan adanya sistem pencarian bakat yang lebih baik, klub bisa lebih mudah menemukan pemain yang tepat sesuai kebutuhan tim dan posisi yang diperlukan.
Kesimpulan
Perlu adanya perubahan dalam sistem rekrutmen pemain di klub sepak bola Indonesia. Tanpa adanya tim pencari bakat yang profesional, proses perekrutan akan terus berjalan dengan ketidakpastian. Jansen berharap bahwa ke depannya, klub-klub di Indonesia bisa lebih bijak dalam memilih pemain, sehingga meningkatkan kualitas kompetisi sepak bola nasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar