Peluru Berhamburan di Atap Rumahku

Perang di Perbatasan Thailand dan Kamboja

Perang antara Thailand dan Kamboja, dua negara tetangga di Asia Tenggara, telah berlangsung selama enam hari terakhir. Konflik ini menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak, baik militer maupun warga sipil. Saat ini, sebanyak 300 ribu warga Kamboja telah mengungsi dari rumah mereka akibat perang yang sedang berkecamuk.

Kehidupan Sopha yang Terpaksa Berubah

Ibu Sao Sopha adalah salah satu dari banyak warga yang terdampak konflik ini. Dia terlihat gugup dan ketakutan. Mengenakan daster, Sopha tengah hamil besar dan harus meninggalkan rumah kesayangannya bersama putranya yang masih kecil-kecil. Suaminya bekerja sebagai sopir taksi. Sopha memutuskan untuk meninggalkan rumahnya pada 9 Desember 2025 karena perang berkecamuk di dekat tempat tinggalnya. Perang antara tentara Kamboja dan Thailand menyebabkan peluru beterbangan di atas atap rumahnya, membuatnya merasa sangat takut.

Sopha dan keluarganya tiba dengan selamat di lokasi pengungsian sementara yang didirikan di halaman sebuah pagoda di distrik O'Chrov, sekitar satu jam perjalanan dari rumahnya. Dua hari kemudian, tepatnya pada 11 Desember 2025, dia melahirkan di tempat pengungsian. Ya, dia melahirkan putrinya di tengah perang. Sopha mengatakan bahwa meskipun ia merasa khawatir sebelum kelahiran, kini ia merasa sedikit lebih baik karena bayinya lahir dengan selamat.

Ratusan Ribu Orang Mengungsi

Sopha dan keluarganya termasuk di antara 303.200 warga sipil Kamboja yang mengungsi akibat pertempuran dengan Thailand sejak 8 November 2025 lalu. Menurut data dari pihak berwenang Kamboja, total 909 sekolah negeri dan swasta terpaksa ditutup, yang berdampak pada lebih dari 216.000 siswa diliburkan. Setidaknya 100 keluarga telah mendirikan kemah di lokasi pengungsian pagoda sejak pertempuran antara Thailand dan Kamboja kembali pecah pada 8 Desember lalu. Banyak keluarga memiliki anak berusia antara tiga dan 14 tahun. Beberapa di antara mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa anak-anak mereka akan jatuh sakit atau ketinggalan sekolah.

Korban Jiwa dalam Konflik

Thailand mengerahkan jet tempur F-16 dan tank untuk menyerang Kamboja. Sementara itu, Kamboja dilaporkan mengerahkan peralatan anti-tank dan sejumlah artileri berat lainnya, termasuk drone kamikaze yang ditemukan tentara Thailand. Setidaknya 10 warga sipil Kamboja tewas dan 60 lainnya terluka dalam perang itu. Wakil Menteri Negara dan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, menyatakan bahwa korban termasuk 10 warga sipil yang tewas, termasuk satu bayi, dan 60 warga sipil yang terluka. Socheata menuduh tentara Thailand terus menerus menembakkan peluru artileri ke banyak lokasi di wilayah Kamboja.

Bangkok Post melaporkan hingga kemarin 10 tentara Thailand tewas akibat perang dengan Kamboja di wilayah perbatasan. Laksamana Muda Surasant Kongsiri, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, mengatakan pasukan Kamboja terus melakukan serangan besar-besaran di sepanjang perbatasan, khususnya di provinsi Sa Kaeo. Pada Jumat pagi, Angkatan Laut Kerajaan Thailand menghancurkan pusat komando Kamboja yang mengarahkan serangan, dan operasi terus berlanjut.

Upaya Damai yang Pernah Dilakukan

Perang Thailand dan Kamboja dipicu oleh masalah perbatasan yang sudah berlangsung lama. Dua negara sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata tanpa syarat pada 29 Juli 2025 setelah lima hari pertempuran di perbatasan. Pertempuran lima hari itu mengakibatkan sedikitnya 33 orang tewas dan puluhan ribu warga mengungsi. Pada 28 Juli 2025, dua negara dimediasi di Putrajaya, Malaysia, oleh PM Malaysia Anwar Ibrahim ASEAN. Presiden AS Donald Trump juga telah memediasi kedua belah pihak dan sepakat untuk menghentikan perang. Namun sejak 7 Desember 2025, militer Thailand melancarkan serangan udara ke sasaran militer Kamboja di perbatasan setelah menuduh Kamboja lebih dulu menembak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan