Pemain Malaysia tertinggal dari Alwi Farhan, tim tambah kekuatan

Perombakan di Sektor Tunggal Putra Malaysia


Sektor tunggal putra Malaysia sedang mengalami perubahan besar dengan penambahan pelatih dan pemain muda. Tujuannya adalah untuk mengejar ketertinggalan dari para rival, termasuk Indonesia yang terlihat lebih unggul dalam beberapa tahun terakhir.

Nasib Leong Jun Hao dan Justin Hoh, dua pemain muda yang sering dibandingkan dengan Alwi Farhan, tampaknya akan segera berubah. Kedua pemain ini sering menjadi sorotan karena kesamaan mereka dengan pemain yang telah mencapai prestasi tinggi. Namun, masih ada jarak antara mereka dan para pesaing lainnya.

Perbandingan antara tunggal putra Malaysia dan Indonesia pernah dibahas oleh legenda bulu tangkis Malaysia, Rashid Sidek. Ia menyebut bahwa masalah utamanya adalah soal motivasi. Menurutnya, pemain Indonesia yang berusia 18 atau 20 tahun sudah berani dan berkarakter. Sementara itu, pemain Malaysia juga memiliki bakat, tetapi mereka membutuhkan kekuatan mental dan keberanian.

"Jangan takut, jangan terlalu hormat. Bahkan pemain terbaik pun harus dikalahkan. Jika ada rasa takut, sulit untuk memberikan yang terbaik," ujarnya.

Di sisi lain, kehadiran Kenneth Jonassen sebagai pelatih baru diharapkan dapat membawa perubahan signifikan. Jonassen, yang sebelumnya melatih Viktor Axelsen, kini berada di Malaysia dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas latihan dan pengembangan pemain.

Pelatnas Negeri Jiran sedang melakukan perubahan struktural dengan mendatangkan pelatih tambahan dan sejumlah pemain. Tujuan utamanya adalah untuk memperkaya metode latihan dan memperkuat sektor tunggal putra.

Pelatih kepala tunggal junior, Tey Seu Bock, diperkirakan akan naik ke tim tunggal putra senior. Ada juga spekulasi bahwa Yeoh Kay Bin akan bergabung dengan sektor tersebut setelah berpisah dari Lee Zii Jia.

Daftar pelatih di sektor tunggal saat ini antara lain: * K. Yogendran dan Alvin Chew (tunggal putra) * Iskandar Zulkarnain Zainuddin (tunggal putri) * Misbun Ramdan (junior)

Jonassen mengatakan bahwa untuk tahun 2026, akan ada beberapa perubahan struktural di sektor tunggal. "Saya ingin bersikap proaktif, bukan hanya bereaksi terhadap situasi. Itulah mengapa kami sedang mempersiapkan diri dan melakukan beberapa penyesuaian."

Ia juga akan meningkatkan kerja sama antara pemain junior dan senior agar kesinambungan bisa berjalan lebih lancar. "Pendekatan saya tetap pada konsep satu tim besar yang melibatkan tunggal putra dan putri, serta level junior dan senior."

Menurut Jonassen, pendekatan ini adalah satu-satunya cara untuk mengembangkan pemain dan menyediakan jalur yang jelas dari level junior awal hingga potensi kelas dunia.

Meski ada cibiran publik yang menyudutkannya karena kurangnya prestasi, Jonassen tidak terganggu. Ia percaya bahwa semua hal membutuhkan waktu. "Para pemain top Denmark tidak dikembangkan dalam semalam," ujarnya.

Lebih dari itu, Jonassen berharap anak-anak didiknya memiliki semangat lebih untuk mengejar ketertinggalan mereka. "Bakat hanyalah pembuka jalan," katanya. "Tujuan saya sama sekali tidak tercapai tahun lalu, tetapi saya sekarang lebih memahami mengapa hal itu tidak terjadi dan area mana yang perlu kami tingkatkan."

Ia juga menegaskan bahwa tahun 2025 bukanlah tahun yang hebat bagi Malaysia. "Mungkin tahun itu tidak memuaskan para penggemar, tetapi juga tidak memuaskan saya karena saya memiliki ambisi dan impian yang lebih besar."

Menurut Jonassen, kemampuan untuk mengerahkan upaya maksimal setiap hari itulah yang membuat perbedaan. "Kemampuan Anda untuk mengerahkan upaya maksimal setiap hari itulah yang membuat perbedaan," katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan