
Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar Bertambah Menjadi 753 Orang
Banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) terus menimbulkan dampak serius. Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini kini mencapai 753 orang, naik sebanyak 45 orang dari laporan sebelumnya. Hal ini menunjukkan semakin beratnya kondisi yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.
Selain korban jiwa, banyak rumah dan infrastruktur juga mengalami kerusakan parah. Data menunjukkan bahwa sebanyak 3.600 rumah rusak berat dan 2.100 rumah rusak ringan. Selain itu, fasilitas umum seperti jembatan, sekolah, dan tempat ibadah juga mengalami kerusakan. Rincian data menyebutkan bahwa 39,34 persen jembatan mengalami kerusakan, sedangkan fasilitas pendidikan mencapai 42,5 persen dan fasilitas ibadah sebesar 16,97 persen.
Pemulihan dan Bantuan Darurat
Kondisi darurat masih terus berlangsung, sehingga pemerintah dan lembaga bantuan terus melakukan upaya pemulihan. Hingga Rabu pagi (3/12/2025), jumlah korban yang masih hilang mencapai 650 orang, sementara korban luka-luka mencapai 2.600 jiwa. Sejumlah daerah yang paling terdampak antara lain Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Tapanuli Utara.
Pihak BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah memberikan update terkini melalui posko terpadu penanganan bencana alam Aceh. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa hingga sore hari, jumlah korban meninggal dunia mencapai 708 jiwa, dengan 499 orang masih hilang. Dengan perubahan data, jumlah total korban meninggal kini menjadi 753 orang.
Pengungsi dan Jumlah Warga Terdampak
Dampak banjir juga membuat banyak warga terpaksa mengungsi. Berdasarkan data terbaru, jumlah pengungsi di Sumatera Barat mencapai 106.200 orang, sedangkan di Sumatera Utara ada 538.000 pengungsi dan di Aceh mencapai 1,5 juta orang. Total warga yang terdampak bencana di ketiga provinsi ini mencapai 3,3 juta jiwa.
Selain itu, sebanyak 141.800 warga Sumbar, 1,5 juta warga Aceh, dan 1,7 juta warga Sumut terkena dampak langsung dari bencana. Ini menunjukkan betapa luasnya area yang terkena banjir dan tanah longsor, serta pentingnya bantuan darurat yang diberikan kepada masyarakat.
Kerugian Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Selain korban jiwa dan kerusakan fisik, bencana ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Lembaga penelitian independen, Center of Economic and Law Studies (CELIOS), merilis laporan yang menyebutkan bahwa kerugian di tiga provinsi ini mencapai Rp6,12 triliun. Angka ini mencakup kerusakan pada rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, serta kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan.
Di tingkat nasional, bencana ini menyebabkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29 persen. PDB adalah total nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu. Dampak ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya memengaruhi wilayah lokal, tetapi juga berdampak pada ekonomi nasional.
Perkiraan Kerugian di Tiap Provinsi
Berdasarkan data yang dikumpulkan hingga 30 November 2025, kerugian di tiga provinsi tersebut adalah sebagai berikut:
- Aceh: Rp2,04 triliun
- Sumatera Utara: Rp2,07 triliun
- Sumatera Barat: Rp2,01 triliun
Total keseluruhan kerugian mencapai angka fantastis, yaitu Rp6,12 triliun. Angka ini mencerminkan betapa besar dampak banjir bandang dan tanah longsor terhadap masyarakat dan ekonomi di wilayah Sumatera.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar