Perkembangan Pembiayaan Mobil di Tengah Tantangan Ekonomi

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, PT BRI Multifinance Indonesia atau BRI Finance melihat pertumbuhan pembiayaan mobil baru pada akhir 2025 dan awal 2026 tidak akan terlalu agresif. Hal ini disebabkan oleh masih adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat serta kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.
Meskipun demikian, Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menyatakan bahwa permintaan terhadap pembiayaan mobil tetap ada. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, seperti kebutuhan mobilitas yang meningkat, dominasi pembelian kendaraan melalui perusahaan pembiayaan, serta berbagai program promosi yang ditawarkan.
Kami memandang peluang tetap terbuka dengan strategi pertumbuhan selektif, fokus pada nasabah berkualitas dan penguatan manajemen risiko untuk menjaga kesehatan portofolio, ujarnya.
Perubahan Minat Konsumen
Saat ini, BRI Finance mencermati pergeseran minat konsumen ke pembiayaan mobil bekas. Menurut Wahyudi, masyarakat lebih mencari opsi yang lebih terjangkau di tengah tekanan daya beli. Mobil bekas dinilai menawarkan nilai ekonomis dengan cicilan yang lebih ringan, sementara kebutuhan mobilitas tetap terpenuhi.
Selain itu, terdapat pula pertumbuhan minat pada segmen pembiayaan lain yang lebih defensif dan berbasis kebutuhan. Perusahaan pun bersikap selektif dalam menangkap peluang tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kualitas portofolio.
Data Portofolio Pembiayaan
Berdasarkan data perusahaan hingga Oktober 2025, kontribusi pembiayaan mobil baru terhadap keseluruhan portofolio pembiayaan mencapai 22,17%. Sementara itu, yang mendominasi adalah kendaraan fast moving.
BRI Finance menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menilai profil risiko calon debitur mobil baru. Hal ini dilakukan dengan melihat kemampuan bayar, riwayat kredit, dan stabilitas pendapatan debitur. Analisis tersebut didukung oleh pemanfaatan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK OJK), penerapan credit scoring, dan evaluasi atas rasio utang terhadap pendapatan.
Selain itu, perusahaan juga mempertimbangkan karakteristik kendaraan yang dibiayai, uang muka (DP), serta tenor pembiayaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan risiko pembiayaan tetap terkelola dan selaras dengan kebijakan manajemen risiko perusahaan.
Strategi untuk Meningkatkan Pembiayaan Mobil Baru
Untuk meningkatkan pembiayaan mobil baru, BRI Finance melakukan beberapa langkah. Mulai dari menguatkan kerja sama dengan dealer dan agen pemegang merek (APM), menyusun program pembiayaan yang kompetitif dan fleksibel, serta mengoptimalisasikan kanal pemasaran digital untuk memperluas jangkauan nasabah.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan diversifikasi portofolio pembiayaan dengan memperluas segmen mobil bekas, pembiayaan multiguna, serta segmen pembiayaan lain yang memiliki profil risiko lebih terkelola. Diversifikasi ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio di tengah dinamika pasar.
Pandangan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI)
Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai bahwa diversifikasi portofolio, khususnya pembiayaan sektor produktif, bisa lebih dikembangkan oleh perusahaan pembiayaan. Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, mencontohkan perusahaan multifinance yang data nasabahnya sudah banyak selesai melakukan pembayaran dengan akhir masa tenor, bisa ditawarkan pembiayaan modal kerja dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).
Yang bisa dimanfaatkan BPKB-nya, jadi daripada diambil, dikasih pinjaman modal kerja. Ini yang dimaksud dengan pinjaman modal kerja untuk sektor yang sangat kecil, dalam hal ini adalah UMKM dan segalanya, katanya.
Tantangan dan Prediksi Pasar
Di sisi lain, Suwandi tidak menampik adanya prediksi bahwa permintaan pembelian kendaraan pada tahun ini turun karena daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya. Selain itu, perusahaan pembiayaan sangat hati-hati dalam memberikan pinjaman terhadap calon pembeli kendaraan.
Misalnya, debitur gagal bayar atau memang memiliki niat yang tidak baik sejak awal, sehingga pada saat masa kredit berjalan, kendaraannya justru dijual dengan hanya memakai STNK saja.
Sebab demikian, untuk prospek pembiayaan mobil baru pada 2026 mendatang, APPI akan melihat terlebih dahulu proyeksi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Namun, dia berharap agar segera ada penertiban atau penutupan kanal-kanal praktik jual-beli kendaraan tanpa BPKB alias STNK Only seperti yang ada di platform Facebook, Instagram, YouTube, hingga TikTok.
Biar masyarakat juga matanya terbuka bahwa perbuatan jual-beli kendaraan dengan STNK only ini adalah ilegal gitu, lho. Kalau misalnya ini [ditangani segera] baru mungkin perlahan-lahan kita bisa tumbuh dan mulai membaik, itu ya harapan kita, ujar Suwandi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar