Pemenang Eurovision Kembalikan Trofi, Protes Israel Lolos

Protes Berani Nemo, Pemenang Eurovision 2024

Pemenang Eurovision 2024, Nemo, mengambil langkah ekstrem dengan mengembalikan trofi kemenangan mereka kepada European Broadcasting Union (EBU). Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap keputusan EBU yang tetap mengizinkan Israel berpartisipasi dalam Eurovision 2026. Keputusan ini diumumkan oleh Nemo melalui unggahan Instagram pada Rabu (11/12/2025), setelah EBU menetapkan bahwa keikutsertaan Israel tetap berjalan meskipun banyak negara menarik diri dan adanya tekanan publik internasional.

Protes Setelah Keputusan Kontroversial EBU

Pada 4 Desember 2025, anggota EBU memutuskan bahwa Israel tetap boleh ikut serta di Eurovision 2026. Keputusan itu diambil di tengah konflik berkepanjangan di Gaza serta polemik terkait proses pemungutan suara tahun sebelumnya. Sebanyak 65 persen delegasi mendukung perubahan aturan voting, sementara 23 persen menolak dan 10 persen abstain. Tak ada pemungutan suara khusus mengenai status Israel.

Presiden Israel, Isaac Herzog, menyatakan bahwa negaranya berhak diwakili di setiap panggung di seluruh dunia dan berharap Eurovision tetap menjadi wadah budaya dan persahabatan antarbangsa. Namun, keputusan itu langsung memicu gelombang protes. Empat negaraIrlandia, Belanda, Slovenia, dan Spanyollangsung mengundurkan diri, disusul Islandia beberapa hari kemudian. Di Portugal, 11 dari 16 peserta seleksi nasional menyatakan menolak tampil jika menang.

Nemo: Trofi Ini Tidak Lagi Layak Ada di Rak Saya

Nemo, penyanyi asal Swiss yang menjuarai Eurovision 2024 lewat lagu The Code, menyampaikan alasan mereka mengembalikan trofi. Meskipun saya sangat berterima kasih kepada komunitas kontes ini& hari ini saya merasa trofi ini tidak lagi pantas berada di rak saya, tulis Nemo.

Mereka menyebut keputusan EBU yang tetap mengizinkan Israel tampil bertentangan dengan nilai utama Eurovision: persatuan, inklusi, dan martabat. Nemo menyinggung temuan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB yang menyimpulkan adanya tindakan genosida, dan menurutnya partisipasi Israel menunjukkan konflik yang jelas antara cita-cita tersebut dan keputusan EBU.

Ini bukan tentang individu atau seniman, lanjut Nemo. Kontes ini berulang kali digunakan untuk melunakkan citra negara yang dituduh melakukan kesalahan besar, sementara EBU bersikeras Eurovision adalah non-politis.

Trofi Dikembalikan ke Markas EBU di Jenewa

Sebagai bentuk protes, Nemo mengirimkan trofinya langsung ke kantor pusat EBU di Jenewa. Dengan rasa terima kasih dan pesan yang jelas: Jalani apa yang Anda yakini, tulis mereka. Sampai kata-kata dan tindakan selaras, trofi ini milik Anda.

EBU Menanggapi: Kami Dipandu oleh Aturan

Sebelum unggahan Nemo, Direktur Eurovision Martin Green sempat merilis surat terbuka untuk menanggapi kemarahan publik. Ia menyebut keputusan menerima Israel adalah upaya mematuhi aturan internal. Banyak dari Anda akan merasakan emosi yang kuat& namun satu-satunya cara kontes ini bisa berjalan adalah memastikan kita dipandu oleh aturan, tulis Green.

Ia menegaskan seluruh negara peserta wajib mematuhi aturan baru, terutama setelah perubahan signifikan terkait sistem votingtermasuk pengurangan suara publik dan kembalinya juri di babak semi-final.

Kontroversi Terbesar Eurovision dalam Dua Dekade

Kontroversi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah 70 tahun Eurovision. Dari boikot negara, ancaman mundurnya peserta nasional, hingga pemenang sebelumnya mengembalikan trofi, tekanan publik terhadap EBU terus meningkat. Eurovision 2026 akan tetap digelar di Wina pada 16 Mei 2026, namun dinamika politik sekitar kontes ini diprediksi masih akan memanas.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan