
Peran Kewaspadaan dalam Kepemimpinan PBNU
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Sulsel, Abdul Karim, menyampaikan pandangannya mengenai sosok ideal yang layak menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, seorang pemimpin ideal tidak hanya memiliki kapasitas spiritual, tetapi juga memiliki kewaspadaan tinggi. Ia menilai bahwa pengalaman terhadap kondisi medis seperti Gerd Anxiety bisa menjadi bentuk pengendali diri yang penting bagi seorang pemimpin.
Pernyataan ini disampaikan di tengah situasi kisruh kepemimpinan PBNU yang memuncak setelah penetapan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum menggantikan Gus Yahya. Abdul Karim menekankan bahwa Gerd Anxiety bukan sekadar penyakit medis, melainkan sebuah peringatan dari Sang Pencipta agar manusia selalu waspada dalam bertindak. Ia menjelaskan bahwa orang yang pernah mengalami asam lambung anxiety cenderung lebih waspada dan memiliki rasa takut yang tinggi.
Orang yang pernah terpapar asam lambung anxiety, dia akan berperilaku lebih waspada. Ketakutannya tinggi, ujarnya sambil menyeruput kopi herbal. Ia menegaskan bahwa pendapatnya tidak didasari oleh kepentingan tertentu, tetapi murni berasal dari prihatin atas kisruh kepemimpinan organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy'ari pada 31 Januari 1926 tersebut.
Menurut Abdul Karim, polemik belakangan ini tidak lepas dari kurangnya kontrol terhadap hasrat. Ia menjelaskan bahwa Gerd Anxiety bisa berperan sebagai pengerem atau pengendali, sehingga seseorang tidak mudah berbuat salah atau berlebihan. Dengan adanya rasa takut dan kewaspadaan, seorang pemimpin akan lebih matang dalam mengambil keputusan.
Sebagai kolumnis Tribun Timur, ia menilai bahwa rasa takut atau kecemasan justru penting dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin ideal, katanya, tidak hanya dititikberatkan pada keberanian. Pada sisi tertentu, keberanian berlebihan bahkan dapat membuat organisasi tidak berjalan sehat. Dalam situasi krusial, keputusan yang hanya didasari keberanian justru menimbulkan masalah baru.
Abdul Karim juga menyebut bahwa orang yang pernah mengalami asam lambung umumnya lebih tawaduk. Tawaduk atau rendah hati adalah kesadaran bahwa segala nikmat bersumber dari Allah. Dengan tawaduk, pemimpin akan lebih bersyukur sehingga hasrat duniawinya tidak lagi mendominasi, ujar pria yang dikenal selalu bersarung ini.
Badai konflik mengguncang pucuk pimpinan PBNU di Jakarta. Isu pemecatan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, ramai diperbincangkan warga NU dan masyarakat. Konflik internal tersebut bahkan disebut-sebut berkaitan dengan pengelolaan tambang. Kekisruhan makin pelik setelah rapat pleno yang digelar Rais Syuriah PBNU pada Selasa (9/12/2025) di Hotel Sultan Jakarta menetapkan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum menggantikan Gus Yahya.
Dalam struktur sebelumnya, Zulfa menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Situasi ini membuat sejumlah pengurus PBNU terbelah hingga ke tingkat cabang.
Pentingnya Kewaspadaan dalam Kepemimpinan
Kewaspadaan dalam kepemimpinan sangat penting karena: * Membantu pemimpin menghindari kesalahan dalam pengambilan keputusan. * Memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak terburu-buru dan dipertimbangkan secara matang. * Mengurangi risiko tindakan yang berlebihan atau tidak proporsional.
Keberanian vs. Kewaspadaan
Meskipun keberanian merupakan ciri penting seorang pemimpin, Abdul Karim menekankan bahwa keberanian harus seimbang dengan kewaspadaan. Keberanian berlebihan dapat menyebabkan: * Kesalahan dalam pengambilan keputusan. * Kerugian bagi organisasi. * Tidak adanya kontrol terhadap hasrat dan ambisi pribadi.
Tawaduk sebagai Ciri Pemimpin
Tawaduk atau rendah hati merupakan hal penting yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan tawaduk, pemimpin akan: * Lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan. * Tidak terlalu terpengaruh oleh hasrat duniawi. * Lebih mudah menerima kritik dan saran dari orang lain.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar