
aiotrade,
JAKARTA — Para pemimpin perusahaan teknologi global sedang memperkuat keyakinan mereka bahwa sektor kecerdasan buatan (AI) tidak sedang menghadapi gelembung yang bisa meledak. Meskipun investasi di bidang ini telah mencapai angka US$1 triliun atau sekitar 16.660 triliun rupiah (dengan asumsi kurs Rp16,660 per dollar AS), para eksekutif percaya bahwa industri ini baru saja memasuki fase awal pertumbuhan jangka panjang.
Beberapa analisis memperingatkan bahwa situasi saat ini mirip dengan era dotcom pada akhir 1990-an. Namun, para eksekutif menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dari masa lalu. Mereka melihat tingkat adopsi dan kepercayaan terhadap teknologi AI lebih matang dibandingkan masa lalu.
Perdebatan ini muncul dalam berbagai konferensi teknologi besar, termasuk HPE Discover di Barcelona dan UBS Global Technology and AI Conference. Dalam acara tersebut, para pemimpin perusahaan memberikan pandangan mereka tentang prospek industri AI.
Pemimpin Perusahaan Teknologi Optimis
Presiden dan General Manager divisi Networking Hewlett Packard Enterprise (HPE), Rami Rahim, menyatakan bahwa pihaknya belum melihat tanda-tanda perlambatan permintaan perangkat keras berkinerja tinggi yang menjadi tulang punggung pengembangan AI. Menurutnya, saat ini belum ada indikasi penurunan permintaan dari pelanggan.
"Kami tidak melihat tanda-tanda perlambatan berdasarkan proyek-proyek yang ada di pasar serta percakapan dan rencana yang kami diskusikan dengan pelanggan," ujar Rahim.
Ia mengakui bahwa koreksi pasar adalah hal wajar dalam sejarah industri. Namun, ia menilai situasi saat ini berbeda dengan kejatuhan pasar dotcom. Menurutnya, tingkat kepercayaan dan adopsi teknologi saat ini jauh lebih matang.
Rahim memberikan contoh efisiensi nyata yang tercipta di internal HPE, di mana pengembang perangkat lunak menjadi lebih produktif berkat bantuan teknologi copilot.
CEO AMD: Awal Siklus Super Sepuluh Tahun
CEO Advanced Micro Devices (AMD), Lisa Su, juga membantah narasi gelembung AI. Dalam forum UBS, ia menyebut bahwa industri teknologi tengah berada di awal "siklus super sepuluh tahun".
Menurut Su, fase pelatihan model yang menjadi kasus penggunaan utama kini mulai bergeser ke arah inferensi. Hal ini memaksa pelanggan korporasi untuk terus menyesuaikan infrastruktur mereka, yang berujung pada lonjakan permintaan komputasi.
"Satu hal yang konstan saat kami berbicara dengan pelanggan adalah kebutuhan akan komputasi yang lebih besar," kata Su.
Optimisme Su bahkan mencakup valuasi fantastis OpenAI yang mencapai US$500 miliar atau sekitar Rp8.330 triliun. Meski pembuat ChatGPT itu diprediksi belum akan mencetak laba hingga 2030 dan harus membakar dana untuk investasi pusat data, Su menilai hal tersebut wajar bagi perusahaan bermodal kuat di momen krusial ini.
Pandangan Pasar yang Lebih Berhati-hati
Namun, pandangan optimistis para bos teknologi ini kontras dengan sentimen pasar yang lebih berhati-hati. Firma riset Forrester baru-baru ini melaporkan bahwa banyak organisasi besar berencana menunda belanja AI mereka hingga 2027. Penundaan ini dipicu oleh kesenjangan antara janji manis vendor teknologi dengan realitas implementasi di lapangan.
Sementara itu, Chairman SK Group Chey Tae-won memberikan pandangan yang lebih moderat. Ia menilai industri AI itu sendiri bukanlah gelembung, namun memperingatkan bahwa pasar saham telah bereaksi terlalu cepat.
"Ketika Anda melihat pasar saham, kenaikannya terlalu cepat dan terlalu tinggi, jadi saya pikir wajar jika akan ada periode koreksi," ujar Chey.
Peringatan serupa juga datang dari Komite Kebijakan Keuangan Bank of England yang menyoroti risiko koreksi mendadak di pasar keuangan akibat saham AI. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman pada awal tahun ini sempat mengakui adanya potensi gelembung di industri tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar