Pemkot Palu kembangkan 20 hektare lahan bawang merah di Petobo

Laporan Wartawan nurulamin.pro, Zulfadli

nurulamin.pro, PALU -Potensi lahan pertanian bawang merah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, dinilai masih sangat besar dan belum tergarap maksimal. 

Dari total sekitar 20 hektare lahan yang tersedia, pemanfaatannya baru mencapai kurang lebih 20 persen.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palu mendorong pengembangan kawasan pertanian bawang merah di wilayah tersebut guna memperkuat produksi pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, mengatakan pengembangan lahan pertanian bawang merah di Petobo menjadi salah satu langkah strategis pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok di Kota Palu.

“Petobo ini punya potensi besar. Lahan yang tersedia sekitar 20 hektare dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan secara bertahap sebagai sentra bawang merah,” ujar Imelda kepada nurulamin.pro, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, produktivitas bawang merah di wilayah tersebut tergolong menjanjikan. Dalam satu hektare lahan, hasil panen bisa mencapai 10 hingga 15 ton. 

Jika lima hektare lahan dapat dimanfaatkan secara optimal, maka potensi produksi bawang merah bisa mencapai sekitar 50 ton.

Menurut Imelda, peningkatan produksi bawang merah lokal menjadi penting, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang kerap diikuti dengan kenaikan harga bahan pangan. 

Dengan adanya pasokan dari dalam daerah, tekanan inflasi komoditas pangan diharapkan dapat ditekan.

Selain fokus pada pengembangan lahan, Pemerintah Kota Palu juga menyiapkan skema distribusi hasil pertanian agar lebih dekat dengan masyarakat. 

Salah satunya melalui program JAMILA (Belanja Minggu Kendalikan Inflasi), yang menjual komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, dan tomat dengan harga di bawah pasar.

Program JAMILA, kata dia, telah berjalan selama satu hingga dua bulan terakhir dan mendapatkan respons positif dari masyarakat. 

Ke depan, jangkauan program tersebut akan diperluas agar manfaatnya dirasakan lebih luas, baik oleh petani maupun konsumen.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mandiri Petobo, Suwadi, mengungkapkan bahwa peluang pasar bawang merah lokal di Kota Palu masih terbuka lebar. 

Selama ini, sebagian besar pasokan bawang merah masih didatangkan dari luar daerah seperti Enrekang dan Bima, dengan biaya distribusi yang cukup tinggi.

“Kalau kita bisa membudidayakan sendiri, pasarnya itu ada di sekitar kita, bahkan di halaman rumah kita sendiri,” kata Suwadi.

Ia menyebutkan, lahan yang saat ini dikelolanya hampir mencapai lima hektare dengan penanaman dilakukan secara bertahap. 

Varietas yang dibudidayakan antara lain bawang merah Lembah Palu, Bima Brebes, dan Tajuk.

Suwadi menambahkan, produktivitas bawang merah di Petobo rata-rata dapat mencapai di atas 10 ton per hektare, bergantung pada pemupukan dan perawatan tanaman. 

Kualitas umbi sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi selama masa tanam.

Ke depan, keterlibatan kelompok tani lain juga diharapkan semakin meningkat. 

Suwadi mengaku aktif mengajak kelompok tani lain untuk terlibat dalam budidaya hortikultura, sekaligus memberikan pemahaman terkait analisis usaha tani.

Pengembangan bawang merah di Petobo juga diarahkan untuk mendukung program nasional ketahanan pangan. 

Hasil pertanian lokal tersebut direncanakan masuk ke dalam Koperasi Merah Putih serta mendukung dapur MBG, sehingga tidak hanya menjaga pasokan pangan daerah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lokal. (*) 

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan