
Perhatian Serius Pemerintah Aceh terhadap Penyakit Menular di Lokasi Pengungsian
BANDA ACEH – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh kini mulai menaruh perhatian serius terhadap potensi peningkatan penyakit menular di lokasi pengungsian usai bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah. Kondisi ini menjadi perhatian utama karena pengungsian yang padat serta mobilitas warga tinggi dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit.
Koordinator Klaster Kesehatan Aceh, M. Syakir mengatakan, berdasarkan data terkini terdapat 9.204 penderita TBC di wilayah terdampak bencana. Ia menjelaskan bahwa kondisi pengungsian yang tidak memadai serta keterbatasan sarana pendukung menjadi faktor utama penyebaran penyakit.
“Tuberkulosis (TBC) dan campak menjadi dua penyakit utama yang diwaspadai, mengingat kondisi pengungsian yang padat serta keterbatasan sarana pendukung,” kata M Syakir yang juga Asisten I Sekda Aceh dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/12/2025).
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, menyebutkan bahwa TBC dan campak menjadi ancaman yang harus segera ditanggulangi. Salah satu cara untuk mencegah penyebaran adalah dengan memisahkan tenda pengungsian antara penderita TBC dengan masyarakat umum lain. Namun, kekhawatiran akan menularnya penyakit campak juga harus diwaspadai, terlebih anak-anak sulit dikontrol ruang geraknya.
“Setiap hari di pengungsian selalu terdapat kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, dan lansia. Penyakit yang paling kami khawatirkan adalah campak dan TBC. Pemisahan pasien secara ideal memang diperlukan, namun di lapangan terutama untuk anak-anak hal ini sangat sulit dilakukan,” katanya.
Ferdiyus menyebutkan, keterbatasan air bersih di sejumlah titik pengungsian juga mulai memicu kasus penyakit kulit. Meski demikian, ia memastikan ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penyakit kulit, masih mencukupi.
“Relawan kesehatan yang sudah berada di lapangan berjumlah 126 orang. Pada awal Januari 2026, Kementerian Kesehatan RI direncanakan akan menambah sekitar 600 relawan. Kendala utama saat ini adalah akses transportasi dari posko ke desa-desa terpencil,” ujarnya.
Melalui Health Emergency Operational Center (HEOC), layanan kesehatan telah menjangkau 6.073 orang dengan total kunjungan medis mencapai 71.764 kali. Penyakit yang paling banyak ditangani meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, diare, hipertensi, dan demam.
Untuk mendukung layanan kesehatan, Pemerintah Aceh telah menyalurkan berbagai logistik kesehatan. Antara lain obat-obatan dan bahan medis habis pakai, makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil, vitamin A, serta paket sanitasi.
Data Klaster Kesehatan juga mencatat jumlah kelompok rentan yang cukup besar, antara lain 459.428 lansia, 394.250 balita, serta lebih dari 100 ribu ibu hamil dan ibu menyusui.
Upaya Pemerintah dalam Menangani Kondisi Darurat
Pemerintah Aceh terus berupaya memastikan ketersediaan sumber daya kesehatan di lokasi pengungsian. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan lembaga-lembaga kesehatan nasional untuk menambah tenaga relawan. Hal ini bertujuan agar layanan kesehatan dapat mencakup lebih banyak masyarakat yang terdampak bencana.
Beberapa langkah penting yang dilakukan antara lain:
- Pemisahan Pengungsian: Memisahkan tenda pengungsian antara penderita TBC dengan masyarakat umum untuk mencegah penyebaran penyakit.
- Penambahan Relawan: Kementerian Kesehatan RI akan menambah sekitar 600 relawan pada awal Januari 2026.
- Distribusi Logistik: Berbagai logistik kesehatan seperti obat-obatan, bahan medis habis pakai, makanan tambahan, vitamin, dan paket sanitasi telah disalurkan.
- Peningkatan Layanan Kesehatan: Melalui HEOC, layanan kesehatan telah menjangkau ribuan warga dengan jumlah kunjungan medis yang cukup besar.
Ancaman Kesehatan yang Diwaspadai
Selain TBC dan campak, penyakit lain yang menjadi perhatian adalah penyakit kulit akibat keterbatasan air bersih. Untuk mengatasi ini, pihak kesehatan tetap memastikan ketersediaan obat-obatan dan alat perlengkapan kesehatan yang cukup.
Di samping itu, kondisi pengungsian yang padat juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular lainnya, termasuk ISPA dan diare. Oleh karena itu, pemerintah dan relawan kesehatan terus berupaya memberikan layanan kesehatan yang optimal.
Kondisi Kelompok Rentan di Lokasi Pengungsian
Berdasarkan data Klaster Kesehatan, jumlah kelompok rentan di lokasi pengungsian sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak bencana sangat tinggi. Beberapa kelompok rentan yang tercatat antara lain:
- Lansia: Sebanyak 459.428 orang
- Balita: Sebanyak 394.250 orang
- Ibu Hamil dan Menyusui: Lebih dari 100 ribu orang
Keberadaan kelompok rentan ini memperkuat pentingnya upaya pemerintah dalam memastikan akses layanan kesehatan yang merata dan memadai.
Tantangan dan Solusi yang Diterapkan
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, beberapa tantangan masih terjadi, seperti kendala transportasi menuju daerah terpencil dan keterbatasan sumber daya. Untuk mengatasi ini, pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan pemenuhan logistik secara berkala.
Selain itu, pihak kesehatan juga terus melakukan sosialisasi tentang pentingnya kebersihan dan pencegahan penyakit menular. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terdampak bencana tentang cara mencegah penyebaran penyakit.
Kesimpulan
Pemerintah Aceh terus berupaya keras dalam menangani kondisi darurat kesehatan di lokasi pengungsian akibat bencana banjir bandang dan longsor. Dengan berbagai strategi dan koordinasi yang baik, harapan besar diarahkan agar masyarakat terdampak dapat segera pulih dan kembali menjalani kehidupan normal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar