
BANDUNG, berita
- Bobi Rizky (28) menjadi salah satu dari 280 anggota Negara Islam Indonesia (NII) yang memutuskan untuk mencabut baiat dan kembali setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pencabutan baiat dan pengucapan ikrar setia tersebut dilakukan di Aula Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Dr Rajiman Kota Bandung, pada hari Kamis (11/12/2025) pagi.
Pemuda asal Bandung ini mengaku sudah terpapar paham NII sejak usia dini. Perkenalannya dimulai saat ia masuk pesantren saat kelas 4 SD.
"Di sana masuk kelas 4 SD. Masuk ke jaringan itu, tapi belum sempat terlalu dalam ideologi," ucapnya saat ditemui sejumlah awak media di lokasi.
Saat berada di lembaga tersebut, ia diberikan pengajaran seperti pesantren pada umumnya. Namun rupanya pengajaran tersebut disisipi doktrin-doktrin NII oleh para mentornya.
"Sebenarnya kalau dari belajar mengajar sih biasa saja. Cuma karena dulu masuk ke pesantren sana masih kecil, belum tahu ideologi yang diajarkan. Mungkin kelas-kelas SMP, SMA, kuliah kayak gitu," katanya.
Saat ini, Bobi dengan kesadaran sendiri dan tanpa paksaan memilih keluar dari organisasi terlarang tersebut, karena ada yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.
"Alhamdulillah sudah balik ke jalan yang lurus," tegasnya.
Penyebaran pada Generasi Muda
Sementara itu, Wakil Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, Brigjen Pol I Made Astawa menyebutkan, perekrutan tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga generasi muda, mulai dari pelajar hingga mahasiswa.
Selain itu, kelompok tersebut juga mengincar masyarakat dari berbagai kalangan ekonomi, baik di perkotaan maupun pedesaan.
"Itu tidak membedakan dengan wilayah lain. Semua elemen. Ada yang tinggal di kota, ada di desa," ujar I Made.
Ketua Yayasan Prabu Foundation, Asep Muhargono menjelaskan, para mentor NII merupakan orang yang ahli di bidang agama. Mereka menyasar anak muda karena lebih mudah didoktrin, dan penyebarannya bisa lebih masif ke kelompok-kelompok lainnya.
"Makanya dulu di tahun 2015 banyak anak sekolah yang meninggalkan orangtua, menganggap ibunya kafir, dan sebagainya. Ini bagian dari proses perekrutan NII yang saat itu sedang marak di Indonesia, terutama di Jawa Barat sebagai pusatnya karena jaringan memang terkoneksi ke sana," kata Asep yang juga mantan aktivis NII.
Ia pun mendorong pemerintah untuk terus berperan aktif menekan penyebaran ideologi terlarang tersebut, khususnya di lingkungan sekolah. Pasalnya, ketika anak muda terpapar paham NII, mereka akan lebih sulit untuk kembali disadarkan. Bahkan bisa melakukan hal-hal di luar hukum seperti merampok, menipu, dan sebagainya.
"Ini perlu disampaikan kepada pemerintah, terutama sektor pendidikan, khususnya SMA. Kalau itu tidak disentuh, dan ideologi sudah masuk ke pikiran anak-anak muda, akan sangat sulit dibersihkan," beber Asep.
Asep menambahkan, di Jabar saat ini ada 41 faksi NII yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Dari jumlah itu, hanya tujuh faksi yang aktif melakukan perekrutan.
"Pada prinsipnya, semuanya (faksi) masih hidup. Hanya saja ada yang reaktif, seperti tujuh faksi aktif yang fokus merekrut generasi muda. Mereka berjalan seperti kelompok MYT yang kemarin, yang bahkan sampai berencana membentuk kekuatan militer, memiliki negara, dan seterusnya," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar