
Perkembangan Teknologi dan Tantangan Pendidikan di Era AI
Perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa pendidikan pada titik belok historis. Di satu sisi, AI menawarkan berbagai alat yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Misalnya, personalisasi kurikulum, analitik pembelajaran, dan otomatisasi administrasi dapat mempercepat proses belajar dan mengurangi beban kerja guru.
Namun, di sisi lain, AI juga membawa tantangan etika yang perlu diperhatikan. Budaya, institusi pendidikan, dan profesi telah membentuk ranah etika selama ini, tetapi dengan hadirnya AI, hal tersebut harus dipertanyakan kembali. Oleh karena itu, diperlukan kritik yang serius agar pendidikan tidak hanya menjadi mekanisme adopsi teknologi, melainkan medan pembentukan manusia yang bermoral dan bertanggung jawab.
Pendidikan umum perlu menegaskan kembali tujuan manusiawi, yaitu membentuk warga negara yang kritis, berempati, dan beretika. Dalam konteks ini, kurikulum literasi digital harus disandingkan dengan literasi etika digital. Bukan sekadar kemampuan teknis mengoperasikan AI, melainkan kemampuan memahami dampak sosial, bias, dan konsekuensi moral dari keputusan yang dibantu oleh mesin.
Berdasarkan pengalaman riset kami, nilai-nilai lokal dan kultural dapat memperkaya kode etik profesi dan membentuk karakter profesional yang tahan terhadap goncangan teknologi. Contohnya, integrasi nilai budaya Jawa, Betawi, atau lokal lain ke dalam konstruksi etika profesi dapat memperkuat kepatuhan etis dan profesionalisme.
Di tingkat perguruan tinggi, peran menjadi lebih strategis. Perguruan tinggi adalah sumber ilmu dan pembentuk norma profesi. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus menginternalisasi prinsip etika pada semua program studi, terutama pada disiplin yang sangat terpengaruh oleh AI seperti akuntansi, manajemen, dan ilmu data.
Dalam beberapa penelitian yang kami lakukan, konstruksi kode etik akuntan yang memadukan prinsip lokal (misalnya Aswaja An-Nahdliyah) menunjukkan hasil positif dalam pembentukan karakter profesional yang beretika serta sensitif terhadap konteks sosial budaya. Hal ini relevan saat algoritma dan AI memasuki ranah pelaporan, audit, dan pengambilan keputusan keuangan; tanpa basis etika kuat, otomatisasi berisiko memperbesar kesalahan sistemik.
Artificial Intelligence bukanlah entitas netral. AI membawa bias data, opasitas algoritmik, dan kemungkinan desentralisasi tanggung jawab. Contohnya, sistem rekomendasi pembelajaran yang mengoptimalkan hasil ujian bisa memperkuat kesenjangan jika data pelajar sebelumnya mencerminkan ketidakadilan historis.
Di ranah akuntansi dan bisnis, praktik “te’seng” atau model bagi hasil tradisional yang kami teliti menonjolkan nilai saling percaya dan tanggung jawab komunitas. Ketika model tersebut direkayasa melalui sistem otomatis tanpa memahami nilai lokal, hasilnya dapat merusak jaringan sosial-ekonomi yang ada.
Oleh karenanya, integrasi AI harus selalu disertai audit etis, menggunakan kajian kultural dan nilai-nilai profesi sebagai filter desain. Pendidikan etika harus menjadi pilar dalam strategi adopsi AI: bukan hanya kursus pilihan, melainkan kurikulum transversal yang mengikat aspek teknis, hukum, dan kultural.
Kurikulum etika harus mengajarkan analisis kasus (case study) nyata yang melibatkan AI, praktik audit algoritma, serta pendekatan interdisciplinary yang menggabungkan filsafat moral, sosiologi, dan ilmu komputer. Di samping itu, pembentukan kode etik yang responsif terhadap konteks lokal, sebagaimana sejumlah publikasi kami tunjukkan, menjadi instrumen efektif untuk menanamkan tanggung jawab profesional yang relevan dengan komunitas lokal.
Akhirnya, tanggung jawab kebijakan ada pada pemangku kepentingan: pemerintah, universitas, asosiasi profesi, dan industri teknologi. Regulasi yang mendorong transparansi algoritma, mekanisme audit independen, dan pendidikan etika resmi di semua jenjang pendidikan perlu diprioritaskan. Tanpa itu, AI berpotensi menjadi alat memperkuat ketimpangan, menggantikan tanggung jawab moral manusia, dan mengikis nilai-nilai profesional yang selama ini dijaga oleh komunitas akademik dan praktik.
Pendidikan yang mempersiapkan generasi mendatang harus memadukan kemampuan teknis dan kedewasaan etis, barulah AI dapat menjadi mitra yang memperkaya, bukan ancaman yang merombak tatanan moral kita.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar