Perubahan Sistem Parkir di Mie Gacoan
Pengelolaan parkir di kota Surabaya sedang mengalami perubahan besar. Konflik antara Mie Gacoan dan Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) tampaknya akan segera berakhir dengan adanya peralihan sistem parkir dari konvensional menjadi digital. PT Pesta Pora Abadi, selaku manajemen Mie Gacoan, mulai melakukan langkah-langkah untuk beralih ke sistem parkir berbasis teknologi.
Perubahan ini sejalan dengan kebijakan Wali Kota Surabaya yang telah meluncurkan sistem parkir non-tunai pada 19 Desember 2025 lalu. Dengan penerapan sistem parkir digital, diharapkan konflik antara jukir dan pengguna kendaraan maupun pelaku usaha dapat teratasi.
" Hari ini (26/12) Mie Gacoan telah memenuhi komitmen untuk beralih dari pengelolaan sistem parkir konvensional menjadi sistem parkir yang berbasis teknologi. Langkah ini sebagai jembatan Mie Gacoan untuk terus berbenah dan memenuhi pelayanan prima terhadap para pelanggan," ujar J. Handy R, External Relations PT Pesta Pora Abadi, saat ditemui di gerai Mie Gacoan Wiyung, Surabaya, Jumat, 26 Desember 2025.
Untuk hari pertama, peralihan sistem parkir digital ini dilakukan di tiga gerai resto Mie Gacoan, yakni Manukan/Tandes, Mayjend Sungkono, dan Wiyung. Nantinya disusul dengan 9 gerai lainnya yang berada di kota Surabaya.
Handy menyebut, pengelolaan parkir modern ini dikelola oleh pihak ketiga, yakni BSS Parking yang memiliki pengalaman dalam pengelolaannya.
"Peralihan sistem ini ditandai dengan pemasangan banner himbauan kepada seluruh pengunjung gerai, dan juga pengumuman atas pembangunan pengerjaan sistem parkir baru yang mungkin akan menimbulkan ketidaknyamanan kepada pengunjung," terang Handy.
Penolakan Terhadap Sistem Parkir Digital
Meski begitu, masih terjadi protes dan penolakan terhadap peralihan parkir digital. Ini sebagai buntut konflik sebelumnya.
Handy menyebut ada pihak yang menyatakan diri sebagai Organisasi Masyarakat (Ormas) masih tetap bersikukuh dan keberatan atas proses digitalisasi yang terjadi pada pengelolaan parkir di gerai Mie Gacoan.
Padahal, pihak Mie Gacoan telah melakukan sosialisasi hingga mediasi intensif dengan berbagai pihak untuk penerapan sistem baru tersebut. Bahkan penerapan parkir digital ini mendapat dukungan langsung dari Pemkot Surabaya.
“Proses ini telah kami tempuh cukup lama dan melibatkan berbagai pihak. Saat ini sikap kami tegas bahwa peralihan sistem parkir ini sudah tidak dapat ditunda lagi, demi memberikan akses keamanan dan kenyamanan penuh terhadap seluruh pelanggan kami,” tandas Handy.
Ia menegaskan, pihak BSS Parking yang telah ditunjuk resmi oleh Mie Gacoan akan terus melanjutkan rencananya untuk memberlakukan digitalisasi parkir ini ke seluruh gerai di Surabaya.
Peningkatan Layanan ke Pelanggan
Corporate Communication Manager PT Pesta Pora Abadi, Purnama Aditya, menambahkan peralihan sistem parkir ini didasarkan atas masukan dari customer Mie Gacoan.
"Sebelumnya banyak rating-rating negatif terhadap kami, salah satunya dari sistem pengelolaan parkir. Harapannya sekarang (dengan parkir digital, red), ingin meningkatkan service level kami ke customer," papar Aditya.
Menurutnya, proses ke arah digitalisasi parkir ini sudah cukup panjang dan lama. Manajemen Mie Gacoan pun tidak ingin masalah parkir ini berlarut-larut.
"Hari ini harapannya bisa merubah sistemnya, dari yang sebelumnya dikelola secara konvensional, berubah menjadi digital. Memang belum sepenuhnya digital, tapi sudah mulai proses ke sana," lanjutnya.
Mengenai penolakan dari pengelola lama, Aditya menegaskan pihaknya sudah melakukan sosialisasi, diskusi, hingga mediasi.
"Segala cara sebenarnya sudah kami tempuh, komunikasi dengan banyak pihak juga sudah kami lakukan. Hari ini di tiga resto, Menganti, Mayjen Sungkono, dan Tandes, itu kami lakukan perubahan sistem dari konvensional menjadi digital dengan gate system," tandas Aditya.
Komentar Wali Kota Surabaya
Eri Cahyadi Ingin Pengusaha Nyaman Kelola Parkirnya
Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat peluncuran sistem parkir digital atau non-tunai mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya ingin mengakhiri konflik antara jukir dan pengguna kendaraan.
"Dengan sistem non-tunai, semuanya tercatat secara transparan. Tidak ada lagi jukir yang meminta tarif melebihi aturan, dan masyarakat mendapatkan kepastian," ujar Eri Cahyadi (19 Desember 2025)
Lanjut Eri, dengan digitalisasi parkir diharapkan dapat memberikan rasa nyaman bagi para pengusaha di Surabaya. Dengan penggunaan gate system atau kartu e-Toll, potensi pungutan liar (pungli) dapat diminimalisir, sehingga iklim investasi dan ekonomi kota semakin kuat.
“Pengusaha bisa mengelola lahan parkirnya dengan nyaman menggunakan alat e-Toll atau gate system. Tidak boleh ada lagi gangguan atau pungutan liar. Jika pengusaha nyaman, ekonomi Surabaya akan bergerak kuat,” terang Eri Cahyadi kala itu. 
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar