
Fakta Singkat:
- Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti menilai Presiden Prabowo Subianto perlu melakukan reshuffle kabinet awal 2026 karena kinerja dalam penanganan pascabencana Sumatra.
- IKrar menyoroti Menko Pangan Zulkifli Hasan yang dinilai melakukan pencitraan serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dianggap memberi informasi tidak akurat soal pemulihan listrik di Aceh.
- Menurut Ikrar, menteri yang sudah ramai dikritik publik sebaiknya segera diganti.
nurulamin.pro - Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti menilai Presiden Prabowo Subianto harus merombak kabinet atau reshuffle menteri pada awal tahun 2026.
Menurutnya, kinerja para menteri pembantu Prabowo yang penuh kritik tercermin saat menangani pemulihan pascabencana Sumatra.
Sejumlah menteri mencuat lantaran ramai dikritik masyarakat.
Ikrar menyebut Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia adalah dua di antaranya yang harus masuk dafter pergantian.
Menurut Ikrar, Zulkifli Hasan menjadi memteri yang paling disorot masyarakat karena ulahnya yang dinilai pencitraan.
Kemunculan Zulhas, sapaan karib Ketua Umum PAN itu, saat datang mengunjungi korban bencana Sumatra sambil memanggul beras viral di media sosial.
Masyarakat ramai menyebut Zulhas pencitraan di tengah penderitaan masyarakat.
"Saya beri contoh ya, Zulhas lah ya. ini juga sebetulnya dia adalah seorang politikus yang harusnya ya cukup lama pengalaman politiknya ya. Tapi coba Anda perhatikan, dia malah berupaya untuk apa istilahnya itu menarik simpati dengan pencitraan dengan angkat beras di punggung gitu kan. Harusnya enggak seperti itu loh," kata Ikrar saat bicara di podcast Abraham Samad Speak Up, channel Youtube @abrahamsamadspeakup, tayang perdana, Kamis (1/1/2026).
Hingga hari ini, Sabtu (3/1/2026), video podcast tersebut sudah ditonton 56 ribu kali.
Terlebih, menurut Ikrar, rekam jejak Zulhas yang pernah menjabat Menteri Kehutanan era Presiden Susilo Bambang Yidhoyono, tak bisa membuatnya lepas dari imej yang buruk terhadap hutan.
"Dan biar bagaimanapun ya orang Aceh atau orang yang terkait dengan hutan tidak akan lupa bahwa dia juga adalah seorang perusak hutan juga di masa lalu. Enggak akan hilang itu," jelasnya.
Ikrar juga menyebut nama Bahlil. Menurutnya, pernyataan Bahlil yang berbohong ke Presiden Prabowo Subianto soal pemulihan listrik di Aceh perlu mendapat evaluasi serius.
Seperti diketahui, saat mendampingi Prabowo, Bahlil dengan lantang menyebut bahwa listrik di Aceh 97 persen sudah menyala normal mulai Minggu (7/12/2025).
Namun kenyataannya, saat itu, masih banyak daerah yang belum terang, atau belum teraliri listrik.
"Atau kemudian Anda lihat si Bahlilah itu, berbusa-busa keluar dari mulutnya bahwa ini nanti dalam berapa hari listrik akan nyala. Dia katakan misalnya 93 persen, sekian persen dan sebagainya dan sebagainya. Dan sebagian besar dari listrik yang dibangun oleh Bahlil itu pakai apa? Genset. Genset menggunakan apa? Bahan bakar minyak. Ya, Anda lihat berapa hari yang lalu ya foto bagaimana yang namanya sepeda motor-sepeda motor ya rakyat Aceh itu panjangnya sampai berkilometer-kilometer hanya untuk mendapatkan apa, bisa membeli BBM satu liter per motor."
"Anda bis bayangkan bagaimana kemudian kita bisa mengatakan BBM ini bisa dipakai untuk genset. Oke, ini kan menjadi bahan ketawaan orang ya."
"Dan Anda bisa lihat aja ya yang katanya Bahlil bilang, 'Oh, nanti hari ini nyala sini.' Enggak tahunya dia juga mengakui bahwa sekian kabupaten belum menyala ya. Dan ini juga ditunjukkan oleh baik itu Kompas TV, Metro TV, bagaimana kemudian wilayah-wilayah itu masih gelap. Jadi begitulah, Bung."
"Ya, kalau buat saya gini, kenapa enggak diganti secepatnya aja sih? Cari orang yang lebih pandai daripada Balil gitu kan," kata Ikrar.
Bagi Ikrar yang juga peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN) itu, menteri yang sudah ramai dikritik masyarakat harus diganti.
"Paling tidak ya beberapa orang yang memang sudah masuk dalam kategori banyak dibicarakan orang sebaiknya diganti," jelasnya.
Baca berita nurulamin.prolainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar